Senin, 05 September 2016

Senjakala

Senjakala


Masa keemasan adalah warna mendekati senjakala, sebagaimana semburatnya langit barat yang berwarna merah jingga yang sebentar lagi surut dan tenggelam ke dalam pelukan malam.  Jadi berhati-hatilah jika kita telah sampai di roda-roda puncak kejayaan, karena bagaimanapun juga kita tidak akan mampu melawan amuk waktu dan kutukan dari cakra manggilingan.

Pada saat kita tepat di puncaknya sang waktu maka bersiap-siaplah, dan tunggulah saat-saat kita akan kembali kembali ke bawah, hanya saja kita diperbolehkan memilih bagaimana cara kita terjatuh, mau jatuh terjerembab atau jatuh bagai gugur bunga-bunga mewangi yang menghiasi bumi. Karena pada dasarnya Tuhan telah membentangkan dua jalan, dan kita diberi kewenangan untuk memilihnya, Fa alhamaaha fujuurahaa wa taqwaaha.

Siapapun juga Tuhan tidak memilih dan mengistimewakan diantara hamba-hambanya untuk bisa selamat dari yang namanya senjakala dan kematian, karena tiap-tiap yang bernyawa pasti kena daya mati. Begitulah cara Tuhan mempergilirkan masa-masa kepada umat manusia. Wa tilkal ayyamu nudaawiluhaa bainannas, "Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) (Ali Imron : 140). Di sini biar terjadi proses penyegaran dan proses dinamika kehidupan diantara umat manusia.

Betapa sejarah bercerita tentang imperium-imperium besar dunia, yang telah mengangkangi kekuasaan berabad-abad lamanya, seakan-akan mustahil keruntuhannya, namun lihatlah kebesaran imperium Romawi dan Persia akhirnya tumbang ketika berhadapan dengan peradaban Islam yang notabenenya terlahir dari sebuah wilayah tandus dan gersang di jazirah Arabia yang sebelumnya tidak diperhitungkan sama sekali. Begitu pula ketika peradaban dan kekuasaan Islam bermekaran menyebar di penjuru benua dari jazirah Arabia hingga Afrika, dari Asia meluas hingga ke Rusia dan benua Eropa, senjakala waktu pun tak bisa ditahan dan dihentikan, peradaban Islam pun akhirnya tumbang dan tenggelam seiring dengan perjalanan sang waktu.

Begitu pula kekuasaan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, saling bergantian mengisi dekade masa. Setidaknya kita mengenal dua kerajaan besar semisal kerajaan Sriwijaya dengan Balaputradewanya, ada Majapahit dengan Hayamwuruk dan Gajah Madanya, bahkan konon sebelum peradaban Yunani-Romawi mendapatkan bentuknya, di Nusantara terdapat peradaban besar Atlantis, namun seiring dengan perjalanan waktu bunga-bunga Nusantara itu pun jatuh berguguran tenggelam dalam senjakala sejarah.

Adakah di dunia ini yang abadi ? tentu saja tidak ada, hanya Tuhan Yang Maha Abadi dan absolut dengan segala eksistensinya yang tidak berubah, Kullu syai’in haalikun illa wajhahu, sedang makhluk dengan segala macam turunannya pada saatnya akan saling berganti, hilang dan lapuk di makan waktu.

Begitulah sejarah akan berubah, waktu akan terus berlalu, dan sunnatullah berlaku kepada apapun dan siapapun. Tak ada yang perlu dibanggakan secara berlebihan di dunia ini, karena semuanya sebenarnya hanyalah kesementaraan belaka. Karena kita tidak akan pernah mengalahkan amuk waktu dan kutukan dari cakra manggilingan. Abadikanlah ketidakabadian ini dengan mendekat kemudian melebur ke dalam nur Dzat Yang Maha Abadi. Nuurun ‘ala nur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar