Senin, 05 September 2016

Resensi Buku Bahasa Arab Di Masa Daulah Umayyah (661-749 M) Dan Masa Daulah Abbasiyah (749-1258 M)

Resensi Buku
Bahasa Arab Di Masa Daulah Umayyah (661-749 M)
Dan Masa Daulah Abbasiyah (749-1258 M)


Identitas Buku
Judul Buku   : “Bahasa Arab Di Masa Daulah Umayyah (661-749 M)
                          Dan Masa Daulah Abbasiyah (749-1258 M)
Penulis           : Umi Robi’atin Musfa’ah
Penerbit          : ---
Tebal              : 78 hal
Kategori          : Non Fiksi
ISBN               : 978-602-633-601-9

Ulasan Buku
Buku yang ada di hadapan pembaca ini adalah buku yang berisi ulasan singkat mengenai perkembangan Bahasa Arab di Masa dua kekhalifahan Islam era Umayyah dan Abbasiyah. Buku ini awalnya adalah ringkasan dari tesis Umi Rabi’atin Musfa’ah yang kemudian di adaptasikan menjadi sebuah bacaan ringan yang berbobot dan penuh informasi guna menambah wawasan mengenai perkembangan bahasa Arab.

Kita tahu bahwa bahasa Arab adalah bahasa Al Qur’an, bahasa Al Hadits yang menjadi sumber rujukan utama umat Islam. Oleh karena itu selain sebuah keharusan bagi umat Islam untuk menguasai bahasa ini, tentu akan lebih sempurna jika kita mengetahui pula asal-usul dan perkembangan dari bahasa ini. selain itu bahasa Arab juga menjadi sarana bagi penyebaran agama Islam, sebagaimana yang dikatakan oleh Philip K. Hitty dalam bukunya History Of Arab, ia berkata : “Keberhasilan penyebaran Islam diantaraanya didukung oleh keluasan bahasa Arab, khususnya bahasa Arab al Qur’an.”

Di Bab I Pendahuluan, buku ini membahas mengenai kesatuan bahasa Arab yang kokoh dan tidak mengalami perubahan, karena dinamika dan kekuatan bahasa Arab di topang oleh standar yang keabsahannya dapat dipertanggungjawabkan yaitu Al Qur’an. Bahasa Arab juga merupakan bahasa  yang sangat orisinil yang tidak memiliki masa kanak-kanak sekaligus masa renta (lughah ashilah, laisa laha thufulah wa laisa laha syaikhukhah). Lebih lanjut dijelaskan mengenai perkembangan bahasa Arab yang berlangsung secara learning cultures yang kemudian bertahap menuju teaching cultures.


DI Bab II, penulis membahas bahasa Arab masa daulah Umayyah. Pada saat itu daulah Umayyah memang mengembangkan kebudayaan Arabisme sehingga mau tidak mau segala administrasi pemerintahan menggunakan bahasa Arab. Daulah Umayyah juga mendirikan kota kecil sebagai pusat ilmu pengetahuan dan pembelajaran bahasa Arab.  Kota itu adalah Marbad. selain mengembangkan pusat studi ilmu pengetahuan era ini juga sangat semarak sekali proses penerjemahan karya Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Diantara yang semangat dalam proses penerjemahan adalah Khalid bin Yazid.

Diantara metode pembelajaran bahasa Arab waktu itu adalah dengan menggunakan metode ceramah (muhadarah), diskusi (munazarah), Dikte (imla’), membaca dan presentasi (qira’ah dan Ard), pengulangan dan hafalan, cerita (qisah).

Selanjutnya bab III, buku ini membahas mengenai bahasa Arab masa daulah Abbasiyah. Periode terpenting dan yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan bahasa Arab adalah era khalifah Harun Ar Rasyid yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya Al Makmun. Pada masa ini ilmu pengetahuan berkembang sangat pesatyang menjadikan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada masa ini proses pembelajaran bahasa Arab dan ilmu pengetahuan berkembang pesat yang ditandai dengan adanya sebuah perpustakaan besar yang dikenal dengan nama Baitul Hikmah.

 Selain pendirian perpustakaan lembaga-lembaga pendidikan maupun majelis ilmu dan tempat yang memungkinkan ilmu pengetahuan berkembang tumbuh subur seperti : Masjid selain sebagi tempat beribadah juga sebagai pusat pembelajaran, kuttab, majelis munazarah, toko buku, galeri sastra (Al-Solun al-Adabiyah), bimaristan, dan observatorium. Kesemuanya itu sangat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan baik umum maupun agama.

Bab IV buku ini membahas secara spisifik berisi mengenai perkembangan bahasa Arab masa daulah Umayyah dan masa daulah Abbasiyah. Karena daerah-daerah kekuasaan Islam semakin meluas ke negeri-negeri non Arab mau tidak mau yang mulanya tulisan Arab tidak memakai tanda baca maka mulailah disusun tanda baca dan berbagai macam dasar-dasar bahasa Arab yang tercakup di ilmu Nahwu.

Adalah Abu Aswad Ad Duali yang berjasa menyusun gramatika Arab dan memberikan titik pada huruf-huruf hijaiyyah yang pada mulanya tanpa titik. Penyusunan ilmu gramatika Arab ini dilakukan untuk menghindari kekeliruan terhadap bacaan al Qur’an. Jika salah baca tentu arti dan maknanya berbeda dengan Al Qur’an itu sendiri.

Pada masa Daulah Abbasiyah perkembangan ilmu bahasa dan pengetahuan berkembang pesat, boleh dikata inilah puncak dari peradapan Islam. Pada masa itu khususnya era Khalifah Harun Ar Rasyid banyak bermunculan ahli bahasa dan penyair serta banyak pula buku-buku yang ditulis. Penyair yang hidup pada masa itu diantaranya adalah Abu Al Athaiyyah dan Abu Ishaq bin Ismail bin Al Qosim. Kemudian tentu kita mengenal seorang sufi dan penyair yang bernama Abu Nuwas juga hidup masa Harun Ar Rasyid.

Pada masa ini pula proses penerjemahan karya Yunani kuno mencapai puncaknya, hingga muncul ilmuan-ilmuan muslim yang pakar dalam berbagai bidang seperti ilmu agama, ilmu tata bahasa, filsafat, astronomi, dan kedokteran. Lebih mengejutkan dan mengagumkan adalah walau perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan banyak dilakukan oleh orang non Arab, namun ternyata mereka-mereka menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan, semisal AL Khalil ibn Ahmad, Imam Sibawaih, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Malik dan masih banyak lagi, dan ternyata mereka bukanlah native speaker namun karya-karya mereka memakai bahasa Arab.

Di bab Penutup buku ini sekilas meriview ulang perkembangan bahasa Arab dari proses leraning cultures hingga akhirnya berproses menjadi teaching cultures karena mendapatkan perhatian yang serius dari pihak pemerintah. Penulis juga memberikan alasan mengapa bahasa Arab bisa menjadi bahasa ilmu pengetahuan di dua masa daulah Umayyah dan daulah Abbasiyah karena beberapa faktor diantaranya : Faktor ideologis, Faktor doktrinal, faktor linguistik, dan tentunya juga tidak kalah pentingnya adalah faktor politik.


Demikian review singkat mengenai buku yang ditulis dengan tidak sengaja oleh Umi Robi’atin Musfa’ah, karena sebagai adaptasi dari sebuah tesis dengan segala kelebihan dan kekurangannya buku ini tentu tidak dimaksudkan untuk ditulis menjadi sebuah buku. Namun atas jerih payah dari penulis untuk menghadirkan sebuah bacaan mengenai perkembangan bahasa Arab ini patut mendapatkan apresiasi. Dan tulisan saya ini menjadi bagian dari itu. Salam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar