Jumat, 16 September 2016

Agama Bedak dan Lipstik

Agama Bedak dan Lipstik

Sebutan  pak Kyai, ajengan, panggilan ustadz, label haji dan istilah-istilah lainnya belum tentu mencerminkan kepribadian seseorang. Jangan dulu tertipu dengan panggilan dan gelar, karena pada dasarnya gelar-gelar itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan sikap beragama seseorang. Seorang yang beragama sejatinya tidak harus memakai gelar-gelar itu, karena agama adalah sikap bukan hanya sekedar asesoris semata. Namun sayang masyarakat kita terlanjur mempunyai pandangan yang keliru dengan masalah ini.

Sikap beragama juga bukan digambarkan dengan memakai sorban yang besar, memakai jubah panjang, hingga hal-hal lain yang bersifat asesoris semata, walau sebenarnya tanda orang yang beragama juga bisa dilihat dari tampilan fisik dan lahiriahnya. Namun sekali lagi kita jangan tertipu dengan hal itu semua. Lihatlah fenomena yang marak akhir-akhir ini, karena sudah bisa pasang surban, dipanggil pak kyai, bisa sedikit membaca dalil-dalil sudah  dianggap ahli agama. Ya agama hanya sekedar dipakai sebagai bagian dari infotainment belaka, agama hanya dipakai sebagai komoditas hiburan yang layak diperjual belikan.

Sikap orang yang beragama itu jelas, jumbuh antarane lahir dan batin, antara hati dan perbuatan itu singkron, njero abang njaba ya abang, njero putih njaba putih, tidak mencla-mencle itulah sikap orang yang beragama. Jadi agama itu timbul dari kesadaran bukan muncul dari sebuah kepentingan.

Sungguh sangat miris melihat fenomena beragamanya orang-orang di era sekarang, khususnya yang di ekspos di televisi-televisi, tentu tidak semuanya namun kita perlu mawas diri dan berhati-hati. Agama sekarang itu kedudukannya tidak difahami dan dihayati sebagai bagian dari tata nilai kemanusiaan serta keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, namun agama lebih ditempatkan pada posisi sebagai asesoris dalam dunia bisnis infotainment.

Dalam syair diwannya Imam Asy Syafi’I, beliau berkata :
إنّ الفقيه هو الفقيه بفعله, ليس الفقيه بنطقه ومقاله
Artinya : “Ahli agama adalah orang yang ahli dalam mengamalkan ilmu agamanya, orang yang hanya mampu berucap dan berkata-kata tentang agama belum tentu dikatakan sebagai seorang ahli agama”.

Dari pengertian diwan di atas diketahui bahwa orang yang ahli agama itu adalah orang yang mengamalkan ajaran agamanya, bukan orang yang hanya pandai ngomong belaka. Oleh karena itu jangan tertipu oleh gelar-gelar dan tampilan luarnya saja, jangan-jangan agama memang hanya sekedar dijadikan sebagai bedak dan lipstik belaka.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar