Kamis, 18 Agustus 2016

Semakin Pintar Tidak Semakin Benar

Semakin Pintar Tidak Semakin Benar
Joyojuwoto*

Peradapan manusia dari waktu ke waktu semakin maju, ilmu pengetahuan berkembang pesat dengan adanya ledakan revolusi dalam bidang informasi baik itu ilmu-ilmu yang berkenaan dengan teknis keduniaan maupun ilmu-ilmu pengetahuan agama. Seseorang sekarang dengan sangat mudahnya mengakses berbagai sumber pengetahuan dari layar monitor, atau dari genggaman tangan. Segala informasi lengkap disajikan tinggal manusia memilih dan memilah mana yang ia butuhkan.

Kemudahan demi kemudahan dalam mengakses informasi dan pengetahuan ternyata tidak diikuti oleh sikap yang memihak pada kebenaran yang sebenar-benarnya atau kebenaran sejati. Kepandaian dan kepintaran seseorang kadang tidak menjadikannya dekat dengan Tuhan, justru kepandaian itu dipakai untuk mencari celah guna mengelabui kebenaran itu sendiri. Seseorang yang pintar tidak lagi dipakai untuk memberikan petunjuk ke arah kebaikan justru sebaliknya kepintaran dipakai untuk minteri orang lain.

Banyak orang yang pandai berbicara, mengkhotbahkan kebenaran namun nyatanya itu hanya ada di ranah tenggorokan saja tanpa meresap di kedalaman jiwa. Banyak orang mengumbar dalil-dalil agama bukan untuk mencari kebenaran, namun dalil-dalil itu hanya dijadikan sebagai dalih semata guna membenarkan ego dan nafsunya sendiri.  Ilmu hanya tinggal di teks-teks buku, dan hanya tinggal di lisan-lisan para penceramah karena pengamalan dari ilmu nol belaka.

Sungguh sangat tidak berguna dan hanya tipu daya belaka ilmu yang hanya di lembaran kertas, ilmu itu lepas dari dada pemiliknya, ilmu hanya di lisan seperti beo-beo yang hanya pandai menirukan tanpa tahu hakekat yang ia omongkan. Benar sekali pepatah yang menyatakan ilmu tanpa amal bagai pohon yang tak berbuah.

Oleh karena itu Allah Swt sangat keras mengancam orang-orang yang hanya omong doang, orang-orang yang hanya berbicara tanpa mampu berusaha mengamalkan apa yang ia omongkan. Dalam Al Qur’an surat Ash Shaff ayat 2-3 Allah SWT berfirman :
يأيّها الّذين ءامنوا لم تقولون مالا تفعلون # كبر مقتا عند الله أن تقولوا ما لا تغعلون
Artinya :
2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Dari ayat di atas Allah SWT sangat keras ancamannya bagi orang-orang yang pintar mengkhutbahkan kebenaran namun tidak melakukan apa yang ia ucapkan itu.

Berhati-hatilah kita semua sehingga kita tidak termasuk orang yang dikatakan oleg sahabat Hudzaifah bin Yaman sebagai orang yang munafik. “Tahukah kamu siapa orang yang munafik itu ?”, Yaitu orang yang mengaku Islam namun tidak mengamalkan ajaran Islam itu sendiri” Sungguh tidak ada laqob yang lebih menakutkan dibanding disebut sebagai orang yang munafiq, karena munafiq adalah ketidak jelasan kita dalam bersikap dan berislam, namun sangat jelas tempatnya fi darkil  asfali minannar.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :
من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله  إلاّ بعدا

Artinya : “Barang siapa makin bertambah pelajaran ilmunya namun tidak bertambah hidayahnya, maka ia makin jauh dari Allah Swt.”

Oleh karena itu mari berhati-hati jangan sampai kita menjadi pintar namun tidak semakin benar, bahkan justru kepintaran itu menjerumuskan kita kedalam kemurkaan Allah Swt. Ingatlah selalu dawuhnya para sesepuh kita dahulu jadilah orang yang pintar dan benar dalam rangka menggapai ridho Allah Swt. Amien.

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri PP. ASSALAM Bangilan dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar