Sabtu, 27 Agustus 2016

Santri Yang Istiqomah dan Tabah

Santri Yang Istiqomah dan Tabah
Joyojuwoto*

“Nak, Dadio Santri Sing Kuat Nyonggo Rahmate Gusti Allah”
(KH. ABD. Moehaimin Tamam)

Nasehat itu selalu kami kenang, nasehat yang selalu menyalakan semangat hidup yang tak kunjung padam, nasehat yang membuat kami para santri terasa ringan menempuh jalan-jalan kehidupan yang kadang mendaki dan terjal. Nasehat yang menjadi oase di tengah kegersangan hidup yang panasnya melebihi sahara luas yang tak bertepi, nasehat yang menjadi kompas penunjuk arah bagi para penempuh labirin-labirin waktu dan lika-liku masa depan yang belum jelas. Ya begitulah nasehat dari Abah Yai  yang sering digembar-gemborkan kepada para santrinya. “Nak, Dadio Santri Sing Kuat Nyonggo Rahmate Gusti Allah” (Wahai anakku, jadilah santri yang kuat menanggung rahmatnya Allah).

Pada mulanya kami kurang faham terhadap makna dari nasehat itu, namun entah karena apa walaupun belum begitu faham setiap mendengar beliau dawuh seperti itu hati ini menjadi tenang, seakan menelan pil aspirin yang mengurangi rasa sakit dan nyeri di kepala yang terserang migrain, atau bagai obat penenang yang membius jiwa untuk selalu kuat dan tenang menghadapi segala permasalahan hidup. Mantra itu begitu ampuhnya sehingga dayanya memberikan kekuatan batin bagi para santri untuk terus berdiri kokoh setegar batu karang menghadapi gempuran gelombang demi gelombang ujian dan cobaan.

Nasehat yang disampaikan Abah Yai memang keluar dari pengalaman batin dan praktek nyata di medan perjuangan beliau dalam mendirikan dan mengelola pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban. Jadi sangat wajar jika apa yang beliau nasehatkan itu benar-benar bersumber dari pengalaman empiris yang sangat mengena. Beliau tidak hanya sekedar ngomong, namun beliau mengalaminya sendiri secara langsung. Tidak heran jika nasehat beliau sangat menyentuh dan berjiwa.
                Menjadi santri itu harus kuat nyonggo rahmate Gusti Allah (menjadi santri harus kuat menanggung rahmatnya Allah), sedang rahmatnya Allah itu diberikan kepada para hambanya yang kuat menanggung ujian dan cobaan yang tiada putusnya. Rahmat itu tidak hanya berupa nikmat saja, namun kesulitan demi kesulitan itu pun merupakan rahmat Allah yang dibungkus dalam bentuk lain. Oleh karena itu jika kita mendapat rahmat Allah dalam bentuk nikmat maka hendaknya kita bersyukur, demikian pula jika kita mendapatkan rahmat Allah dalam bentuk ujian-ujian hidup maka hendaknya kita pun bersabar dalam menghadapinya.

                Menurut gemblengan dari Abah Yai, bahwa hidup itu dipenuhi dengan berbagai macam ujian, maka jika kita diuji oleh Allah jangan lemah, tapi justru kita harus tabah dan menjadikan ujian itu sebagai sarana untuk mendewasakan diri serta meningkatkan maqom di hadapan Allah Swt. Sesungguhnya orang-orang yang mendapatkan ujian adalah orang-orang yang dicintai Allah, sebagaimana dalam hadits Nabi yang berbunyi “Innallah idza ahabba ‘abdan ibtalaahu” (sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah akan menguji hamba tersebut).

                Inilah yang dimaksudkan dengan santri kudu kuat nyonggo rahmate Gusti Allah, yaitu kuat menghadapi goda dan ujian hidup, tabah dalam menghadapi kesulitan demi kesulitan, dan selalu kuat serta sabar untuk tetap menjadi santri ditengah-tengah carut-marutnya dunia. Siapa yang ingin maqomnya tinggi dihadapan Allah maka Allah akan menguji orang tersebut dengan berbagi ragam ujian dan ini adalah bagian janji-Nya. Sebagaimana yang di dawuhkan oleh KH. Hasyim Muzadi bahwa “Janji Allah selalu bersyarat, dan rahmat Allah selalu minta pertanggung jawaban”. Diantara syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai maqom tinggi adalah ujian demi ujian yang harus kita hadapi, sedang pertanggungjawaban kita terhadap rahmat Allah adalah dengan bersyukur dan menggunakan anugerah berupa nikmat itu sebagai rahmatan lil’alamin.

                Pengalaman demi pengalaman, kesulitan demi kesulitan yang dihadapi oleh Abah Yai menjadikan beliau sosok dan pribadi yang tangguh dan tegar. Bagaimana tidak saat pertama kalinya beliau merintis berdirinya pondok pesantren, orang-orang sama mencemoohnya. Abah Yai selalu menceritakan kepada kami para santrinya bagaimana dulu beliau harus menanggung kesulitan berjuang mendirikan pesantren. Hampir semua masyarakat tidak ada yang mendukungnya, karena model dan sistem pesantren yang beliau bangun tidak sama dengan model pesantren yang ada dipikiran masyarakat. Sebagai alumni Pondok Modern Gontor Ponorogo, tentu beliau meniru dan mencontoh ala almamater yang didirikan oleh Trimurti Gontor, KH. Ahmad Sahal, KH. Imam Zarkasyi, dan KH. Zainuddin Fannani.

                Namun seiring dengan berjalannya waktu, dengan kesabaran, keuletan dan keistiqomahan Abah Yai, dan dengan semboyan yang kudu kuat nyonggo rahmate Gusti Allah akhirnya pesantren yang beliau rintis dan beliau bangun di tengah-tengah gelombang penolakan dari masyarakat, akhirnya lambat laun masyarakat pun mengakui dan menerima keberadaan pondok itu. Bahkan masyarakat sama berbondong memasukkan anak-anaknya untuk dididik dan dicelup ala ASSALAM, sibghatu ASSALAM, kata beliau. Tidak hanya itu saja santri-santri pondok pesantren ASSALAM pun berdatangan dari luar wilayah kabupaten Tuban, hingga merambah ke luar pulau Jawa.

                Itulah buah dari kesabaran dan keuletan Abah Yai dalam nyonggo rahmate Gusti Allah yang selalu kami teladani, yang pada mulanya pahit dirasakan, namun terasa manis diakhirannya. Semoga kami para santrinya mampu meneladani beliau Abah Yai dalam hal keuletan, kesabaran, dan keistiqomahan dalam nyonggo rahmate Gusti Allah. Amien.

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” yang tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar