Jumat, 26 Agustus 2016

Resensi Buku “SOS (Sapa Ora Sibuk) “Menulis dalam Kesibukan”

Resensi Buku “SOS (Sapa Ora Sibuk) “Menulis dalam Kesibukan”
Joyojuwoto*

Identitas Buku
Judul Buku   : “SOS (Sapa Ora Sibuk)”
                         “Menulis dalam Kesibukan”
Penulis           : Much. Khoiri
Penerbit          : Unesa University Pres
Cetakan Pertama  : Juni 2016
Ukuran          : 14 x 20 cm
Tebal              : xxii + 138
Kategori          : Non Fiksi
ISBN               : 978-979-028-854-6

Ulasan Buku
Melihat dari judulnya buku ini tentu di tulis oleh penulis yang memiliki seabrek kesibukan, iya beliau Bapak Much. Khoiri penulis buku yang ada di hadapan pembaca bukanlah pengangguran yang hanya merenung sambil sesekali menangkap ilham dari langitd untuk kemudian dituliskan di selembar kertas. Tidak sekali lagi tidak, buku ini tentu di tulis di tengah kesibukan beliau yang sangat padat. Di profil penulis disebutkan beliau adalah seorang dosen Unesa, ketua UPT Pusat Bahasa di Unesa, seorang trainer, dan tentu juga seorang penulis. Dari jajaran profil itu tentu sudah dapat kita duga kesibukannya Pak Emcho panggilan akrab lelaki murah senyum itu, yang tentu juga sibuk sebagai seorang Ayah bagi anak-anaknya, dan sebagai seorang suami bagi istrinya. Bisa dibayangkan menjadi seorang ayah saja sudah sibuk belum ditambah embel-embel yang lain, namun nyatanya Pak Emcho mampu produktif berkarya mencerdaskan anak-anak bangsa lewat tulisan.

Buku “SOS (Sapa Ora Sibuk), Menulis dalam kesibukan” ini hadir sebagai rahmat dan anugrah bagi orang yang sibuk lebih-lebih orang tidak sibuk yang berangan-angan menulis sebuah buku. Di dalam buku ini Pak Emcho memaparkan secara mudah, praktis, dan aplikatif mengenai kiat-kiat dan pengalaman beliau dalam menulis buku di tengah kesibukannya menjalani darmanya secara vertikal maupun horizontal.

Setelah membolak-balikkan dan membaca buku ini nantinya diharapkan kita yang sibuk beneran maupun yang merasa sok sibuk tidak lagi berfikap excuse untuk tidak menulis. Karena menulis adalah sebuah kata kerja yang akan memberikan makna bagi diri kita sebagai manusia. Menurut beliau manusia pada hakekatnya adalah subjek. Tanpa kata kerja subjek hanyalah entitas mati, tanpa makna kontekstualitasnya. Bahasa lainnya wujuduhu ka adamihi,  adanya seperti tidak adanya. Ah... betapa naif dan menyedihkannya menjadi makhluk yang seperti itu. Padahal sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain, dan menulis adalah salah satu cara untuk kita mengabadi dan ada serta memberikan sedikit sumbangsih untuk sebuah peradapan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Pram “Menulis adalah kerja keabadian”.

Singkatnya di buku SOS itu nanti anda akan diajak berpetualang di rimba kata, menambang emas pengetahuan dan wawasan tentang kepenulisan, serta mencoba jurus-jurus sakti kepenulisan, sehingga setelah membaca buku SOS diharapkan anda siap di segala medan dan kondisi untuk terus menulis, dan kesibukan tidak lagi menjadi alibi dan dalih untuk tidak menulis. Salam SOS !

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.

3 komentar: