Rabu, 31 Agustus 2016

Puisi Never Die

Puisi Never Die
Joyojuwoto*


Malam Puisi Akbar yang di gelar pekan lalu (27/8/2016) oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Bangilan (FKMB) menjadi penenda bahwa puisi tidak pernah mati. Setidaknya masih banyak orang yang setia untuk berpuisi, walau berada di lorong-lorong sepi, di jalanan yang sunyi, dan di ranah yang tidak populer ternyata  puisi masih punya daya pesona untuk memikat hati masyarakat yang hadir malam itu di gedung serba guna gedung yang memiliki nilai sejarah yang luar biasa bagi FKMB.

Setidaknya ada penampilan 45 parade puisi yang dibacakan, acara yang dimulai setelah Isya’ itu berakhir tengah malam, ini tentu sebuah pencapaian yang luar biasa. Hal ini tentu tidak terlepas dari house acara yang memang luar biasa Opie Resta dengan talenta panggung dan suaranya ia berhasil mengantarkan para penikmat puisi mencapai puncak keintiman dengan puisi. Sebagai seorang yang telah matang di bawah sorotan kamera Opie Rista adalah ratunya panggung malam itu. Dengan artikulasi suaranya yang jelas, pilihan diksinya yang pas,  dan tinggi rendahnya nada yang sempurna menjadikan malam itu sebagai malam yang penuh rasa poetika.

Malam itu puisi tidak lagi menjadi hak milik istimewa para pujangga yang bertahta di atas menara langit, atau hanya milik Sang Pendekar Syair Berdarah saja yang kemana-mana menebar syair kematian yang menakutkan, atau hanya milik para pemuda-pemudi yang patah hati yang kemudian dijadikan amunisi untuk menghamburkan bait-bait puisi, namun Malam Puisi Akbar telah memberikan angin baru serta membuka terhadap pemahaman akan arti sebuah puisi. Puisi tidak sekedar jalinan kata yang indah, namun yang terpenting puisi mampu menyuarakan serba-serbi kehidupan. Karena pada dasarnya puisi adalah hidup kita dengan segala dinamikanya.

Yang menjadikan acara lebih luar biasa lagi selain pembacaan puisi yang bertema kemerdekaan, yang diikuti oleh multi golongan mulai dari siswa sekolah, pejabat pemerintahan, anggota DPR, masyarakat umum, para pamong desa, malam itu diantara peserta ada yang membacakan puisi dari hasil karyanya sendiri.

Diantara sekian yang membacakan puisi hasil karya sendiri adalah Miss House Opie Resta yang membawakan puisi dengan judul Negeri Hitam Putih. Puisi yang lantang menyuarakan kritik sosial terhadap segala kebijakan pemerintah yang menguras habis sumber daya alam guna kepentingan asing atas nama investasi dan kerjasama.

Dengan sangat apik dituliskan pada “Puisi Hitam Putih Negeriku” tentang negeri yang makmur, gemah ripah loh jinawe, ayem tentrem kerta raharja, namun semua itu tidak mampu memakmurkan rakyatnya. Negeri yang kaya itu tidak bisa menikmati kekayaannya, bahkan sangat naif rakyat menjadi budak di negerinya sendiri, rakyat bagai ayam yang mati dalam lumbung padi. Negeri yang hijau royo-royo yang para pujangga menyebutnya sebagai untaian zambrud katulistiwa, indah menawan bak pecahan surga itu menjadi negeri hitam putih, negeri yang hanya dikuasai oleh segelintir orang, negeri yang hanya berdaulat untuk para konglomerat saja. Rakyat benar-benar sekarat dalam arti yang sebenar-benarnya. Lihatlah fragmen di bawah ini yang menggambarkan kepilua-kepiluan itu :

“Aku melihat seorang tua, duduk di emperan toko beralaskan kardus bekas
Sedang mengadu pada Tuhan…
“Tuhan…, akankah ada lagi sesuap nasi untuk kami esok ?
Akankah nafas kami akan tetap berhembus sedangkan perut kami begini kempis”
Seorang tua itu menangis tersedu di bawah guyuran terang purnama”

Penampilan Opie Resta memang istimewa, ia mampu mendeklamasikan puisinya dengan baik, penuh penghayatan dan penjiwaan yang nyaris sempurna.  Dengan latar belakang panggung yang seadanya, dan penataan lighting yang temaram hitam, puisi Hitam Putih Negeriku menjelma menjadi peluru tajam yang memberondong ketidakadilan dan kesenjangan di tengah-tengah rakyat jelata yang tak lagi jelita.

Tdak kalah garangnya puisi dengan judul “Sayembara” yang ditulis dan dibaca sendiri oleh Mas Syahid salah satu tokoh pemuda Bangilan yang ikut hadir dan meramaikan acara pada malam itu. Puisi yang didekasikan untuk anaknya tercinta itu berisi protes terhadap ketokohan seseorang. Seorang tokoh yang hanya berdiri angkuh tanpa tersentuh oleh rasa kemanusiaan, seorang tokoh yang hanya minta dihormati tanpa mau memberikan rasa hormat kepada masyarakat, seorang tokoh yang berdiri di atas singgahsana tanpa peduli nasib bawahannya. Sebelum membaca puisi Mas Syahid memberikan pesan kepada anaknya “Nak Arindra, sampai kapanpun nanti jangan sampai engkau mengkhianati bangsamu sendiri”. Begitu tuturnya.


Demikianlah dua buah puisi yang dapat saya tangkap dalam “Malam Puisi Akbar” yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Bangilan (FKMB), semoga nilai-nilai positif dari puisi mengabadi, terus hidup dan tak pernah mati. Salam.

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” yang tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar