Minggu, 21 Agustus 2016

Musim Jamur

Musim Jamur
Joyojuwoto*

Hari minggu adalah hari di mana Naila libur sekolah, biasanya Naila pergi ke rumah neneknya untuk bermain-main dengan teman-temannya yang ada di sana.  Agis, Windi adalah teman bermain Naila di Singsim, tidak ketinggalan juga Nafa adik kecil Naila juga ikut bergabung. Minggu itu seperti biasa Naila diantar Abi dan Uminya ke rumah nenek, sesampai di sana Agis dan Windi telah menunggu. Mereka telah merencanakan untuk berburu jamur di pekarangan belakang rumah.

Pekarangan belakang rumah nenek Naila cukup luas, banyak pohon-pohon yang tumbuh di sana, ada belimbing, pisang, sukun, randu, bambu, jati dan lain sebagainya. Selain asyik dipakai bermain, biasanya Naila dan teman-temannya juga mandi di kali yang letaknya di sebelah utara yang menjadi batas antara pekarangan belakang dengan area persawahan.

“Hai Naila, cepat segera ganti baju bermain, ayo kita mencari jamur di belakang rumah” seru Agis menyambut kedatangan Naila.

“Iya ayo nanti kita buat brengkes jamur” sahut Windi yang baru keluar dari rumah

“Ok siap bos” jawab Naila singkat sambil mengambil sikap hormat.

Naila dan Nafa segera bergegas masuk ke rumah neneknya dan berganti baju bermain, agar bajunya yang masih bagus tidak kotor kena kotoran dan getah pepohonan saat bermain. Tak lama kemudian Naila, Nafa telah bergabung dengan Windi dan Agis. Mereka berempat kemudian berjalan menuju pekarangan belakang rumah di mana biasanya jamur banyak tumbuh.

Saat itu memang awal memasuki musim penghujan, sehingga banyak jamur yang tumbuh. Jenis jamur yang biasanya tumbuh di belakang rumah adalah jamur Barat, sejenis jamur yang tumbuh di semak-semak yang tanahnya lembab. Jamur ini termasuk jenis jamur yang tidak beracun dan enak untuk dikonsumsi. Baik itu dibuat brengkres, di oseng, ataupun di olah menjadi sayur asem jamur. Wuih !!! rasanya enak sekali.

Di tengah-tengah semak, Naila, Nafa, Windi, dan Agis mencari-cari jika ada jamur yang tumbuh. Dengan teliti mereka menyibaknya. Tanah di belakang rumah nenek Naila masih agak basah, karena tadi malam hujan mengguyur dengan lebatnya. Musim hujan menjadikan tanah-tanah basah dan di situ kadang banyak jamur yang tumbuh. Tidak salah jika ada pepatah yang mengatakan “Bagai jamur tumbuh di musim penghujan”.

“Hai Mbak Windi, Agis.. ke sini, ini di bawah pohon Sukun ini ada jamur !” teriak Naila memanggil Windi dan Agis.

“Hore..hore..saya dapat jamur” teriak Nafa kegirangan yang saat itu bersama Naila di bawah pohon sukun.

Benar saja, di bawah pohon Sukun yang bersemak terdapat sekumpulan jamur yang tumbuh, maklum saja semak-semaknya agak lebat sehingga memungkinkan jamur hidup dan tumbuh di tempat itu.

“Wah.. banyak sekali ya Naila jamurnya, satu, dua, tiga, empat.. yang besar-besar ada empat, dan itu yang masih kuncup ada tiga” hitung Windi.

“Jamurnya kayak payung ya mbak Windi ? Naila mengomentari bentuk jamur yang ditemukannya.

“Ayo kita cabut jamurnya” seru Agis. “Jamur ini tidak beracun kan ? tanya Agis ragu-ragu.

“Iya ini namanya jamur barat, jamur ini enak lho di masak, tidak beracun” kata Windi menjelaskan.

Mereka berempat akhirnya mencabuti jamur-jamur itu, Naila dan Agis mengambil daun pisang, Windi mendapat tugas mencuci jamur, setelah dicuci dengan air kemudian Windi membungkusnya dengan daun pisang sedemikian rupa.

Agar tidak lepas bungkusan daun pisang itu ditusuk dengan biting sebagai pengikat. Tidak lupa Windi menaburinya dengan garam, agar rasanya tidak hambar. Setelah itu bungkusan jamur dalam daun pisang itu dibawa ke depan. Mereka telah mempersiapkan perapian untuk mbrengkes jamur yang mereka temukan hari itu. Mereka berempat bergembira-ria menunggu hasil buruannya matang untuk disantap bersama.


*Joyojuwoto, lahir di Tuban, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar