Jumat, 05 Agustus 2016

Kali Kening Yang Sunyi

 Kali Kening Yang Sunyi
Joyojuwoto*

Berbicara Kali Kening adalah berbicara kompleksitas sebuah masyarakat mulai dari sosial budaya, adat, dan akifitas manusia yang berada di ruang lingkup lokal sosial utamanya di daerah yang dilewati aliran Kali Kening. Kali Kening tidak hanya sekedar komposisi sebuah sungai yang melibatkan susunan geografis dengan segala piranti pendukungnya seperti air, pasir, batu-batu, ikan dan lain sebagainya. lebih dari itu Kali Kening menyangkut masalah rasa, kenangan masa lalu, masa kecil, harmoni cinta dan keindahan kehidupan di pedesaan.

Saya kira kita semua sebagai anak-anak yang dilahirkan bersamaan dengan semilir angin dari rerimbunan bambu dan merdunya gremicik air Kali Kening di bawah bentang langit Senja Biru, atau saat semburat merah matahari pagi, tentu saja memiliki ikatan primordial dengan aliran Kali Kening. –Kali yang mengabdikan sepenuh jiwanya untuk masyarakat ini akan tercatat dalam memori batin  paling intim dan suci pada anak-anak Kali Kening. Kemanapun mereka mengembara, kali kening akan menjadi tempat yang paling dirindukan dan melekat dalam kenangan.

Walau saya tidak terlahir dari peradapan Kali Kening, namun banyak kenangan yang tersimpan dan menjadi bagian dari kehidupan saya khususnya di masa kecil. Setidaknya saya juga terlahir dari pinggiran kali yang memiliki cerita dan kebiasaan yang serupa. Seperti lazimnya penduduk yang hidup di tepi kali tentu segala aktifitas kita tidak terlepas dari peran dari kali itu sendiri. Kali telah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia.

Kehidupan saya yang bersinggungan dengan kali kening adalah saat saya menjadi santri di pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban, tepatnya anak dari kali kening, yaitu sudetan kali yang dibuat oleh dinas pengairan yang membelah kota Bangilan ke selatan hingga Senori. Saya masih ingat ketika saya mondok di Sidokumpul ketepatan pondok saya berada di tepi timurnya sudetan kali itu. Untuk keperluan mandi dan berwudhu kebanyakan santri menggunakan air kali yang saat itu jernih sekali.

Tiap shubuh kami para santri mandi di Dam Brubul, saat itu kondisi masih gelap jadi kami bisa mandi dengan leluasa. Jika musim kemarau tiba, air sudetan kali kening kadang surut dan tidak mengalir, namun dam brubul masih menyisakan air yang melimpah di kedungnya. Hari ini kedung-kedung sebagai media penyimpan air telah banyak yang hilang hingga jika air kali surut maka sudah tidak bisa lagi dimanfaatkan untuk mandi, lebih-lebih ritual mandi di kali juga sudah banyak ditinggalkan.

Pengalaman saya yang masih saya ingat di sungai sudetan kali kening adalah pada  saat kemarau, air sungai surut dan hanya menyisakan genangan di dam brubul. Kalau tidak salah saat itu saya masih duduk di kelas dua MTs. Sore hari saat saya mau mengambil wudhu di kali yang sedang surut saya mendapati ikan Sili yang sangat banyak sekali, jumlahnya mungkin ratusan lebih memenuhi genangan dam Brubul dan di pinggiran kali yang sedang surut. Saya heran saja ikan sebanyak itu kok tidak ada penduduk yang mengambilnya ya, jangan-jangan ikan Sili termasuk ikan yang tidak bisa dikonsumsi oleh manusia sehingga dibiarkan begitu saja. saya pun  hanya melihat ikan-ikan itu tanpa ada keinginan untuk mengambilnya.

Selain memanfaatkan kali kening sebagai tempat mandi dan wudhu kami para santri yang saat itu untuk makan harus masak sendiri biasanya mencari kijing untuk dibuat lauk. Kami menyisiri sungai mencari di lumpur-lumpur, setelah kijing-kijing itu terkumpul kemudian kami bakar untuk dibuat lauk makan dengan nasi liwet. Saya masih ingat seorang kawan saya dari desa Bendo, Mustofa entah saat membakar kurang masak atau memang ia yang tidak tawar dengan kijing setelah makan ia muntah-muntah. Kalau saya sih sudah biasa makan seperti itu. Di rumah di kali saya sendiri biasanya saya juga suka mencari udang di balik batu-batu kali, hebatnya udang itu tidak perlu dimasak saat mengkonsumsinya, langsung saya makan mentah-mentah begitu saja. konon siapa yang memakan udang mentah maka ia akan pandai berenang begitu kata kakek-kakek saya dulu.

Kali adalah tempat berkumpul dan tempat bermain faforit anak-anak desa, di kali anak-anak bisa menciptakan beragam permainan yang menyenangkan, mulai dari bermain pasir yang berada di pinggirnya, membuat candi-candi, adu bola pasir, bermain sepak bola, yang nantinya permainan akan ditutup dengan mandi di kali atau istilahnya bluron. Namun sayang keceriaan kali sekarang telah sepi, kemajuan zaman telah benar-benar merenggut harmoni semesta anak-anak desa.

Selain menjadi tempat faforit kali juga menjadi sumber gizi bagi warga sekitarnya, biasanya warga sekitar ada yang mencari ikan dengan cara menjala, memasang bubu, nyetrum dan yang ekstrim adalah meracuni ikan, dua cara terakhir ini yang saya tidak suka. Karena cara itu merusak dan mengancam ekosistem hayati ikan-ikan di sungai. Dan semua terbukti kali sekarang telah kehilangan penduduknya, ikan-ikan telah lenyap, hewan-hewan lain seperti Bulus, Regul, Kawuk, Sliro, burung Srimbobok juga tinggal cerita.

Dahulu ada sebuah musim di akhir kemarau yang sering ditunggu warga pinggiran kali kening, selain mereka menunggu hujan pertama yang menandai pergantian musim kemarau ke musim penghujan masyarakat biasanya juga menungu banjir pertama. Banjir pertama ini biasanya air dari hutan-hutan di hulu sungai membawa kotoran ulat, karena begitu banyaknya kotoran yang juga bercampur dengan lumpur menjadikan ikan-ikan yang di hilir menjadi mabuk, masyarakat menyebutnya iwak munggut. Dengan riang gembira masyarakat pergi ke sungai dengan alat seadanya mereka berpesta ke sungai mencari ikan wader Bader, Udang, Dendeng, Lele, Keting, Sili dan berbagai jenis ikan lainnya. Duh..jadi ingin merasakan kembali keceriaan ini.

Kadang kala saya merindukan gaung peradapan lembah kali itu  kembali, gerombolan anak-anak riang gembira, Kebo-kebo dan Sapi mandi di kali yang diiringi suara seruling gembala saat senja sungguh merdu dan mempesona, namun semua itu tinggal kenangan belaka. Saya bermimpi suatu saat kali kening yang sekarat hampir mati itu hidup kembali, saya bermimpi suatu saat kali kening yang sunyi itu kembali bernyanyi.



*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” yang tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar