Jumat, 05 Agustus 2016

Filosofi Kali Kening

Filosofi Kali Kening
Joyojuwoto*

Sungai termasuk sebuah kata yang dipakai dan dipilih oleh Allah untuk menggambarkan keindahan dan nuansa surga, dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 72 disebutkan :

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.”

Saya kira bukanlah suatu kebetulan Allah SWT menggambarkan surga dengan adanya sungai-sungai yang mengalir di bawahnya, pohon-pohon yang rimbun berbuah lebat menaunginya. Allah Maha besar Kasih Sayang dan cintanya kepada manusia, oleh karena itu Allah menciptakan sungai-sungai pula di bumi tempat manusia tinggal. Menurut Cak Nun bumi kita ini bukanlah kampung kita yang sebenarnya, kampung halaman kita adalah surga, oleh karena itu agar kita tidak melupakan kampung halaman yang sejati Allah menciptakan sungai-sungai di muka bumi agar kita terus selalu merindui tempat di mana kita berasal.

Dalam sebuah haditnya Rasulullah SAW bersabda, bahwa di muka bumi ini ada sungai beliau bersabda :
سيحان وجيحان والفرات والنّيل كلٌّ من أنهار الجنّة
Artinya : “Syaihan, Jaihan, Eufrat, dan Nil semua adalah dari sungai-sungai surga”
Secara tekstual empat sungai itu yang disebutkan Rasulullah SAW sebagai sungai-sungai dari surga, namun hal itu tidak berarti bahwa sungai-sungai lain di penjuru bumi bukan dari surga, kalau sungai lain tidak disebut dalam hadits di atas ya minimal gambaran surga itu ada sungainya begitu berita dalam Al Qur’an.

Sejak zaman dulu sungai telah  menjadi bagian terpenting bagi peradapan umat manusia, lihatlah peradapan-peradapan besar dan yang tertua di dunia selalu di topang oleh sungai, di India ada peradapan sungai Indus, di Mesir ada peradapan sungai Nil, di Cina ada peradapan lembah sungai Kuning, di Persia ada peradapan besar diantara aliran dua sungai yaitu Eufrat dan Tigris yang melahirkan peradapan Meshopotamia, dan begitu pula di tempat kita tentu juga ada sungai yang menghidupi dan memberikan berkah bagi penduduknya.

Lihat dan rasakan bagaimana Mbah Gesang mengabadikan peran vital dari sebuah sungai yang membelah pulau jawa dalam lirik lagunya yang mengabadi :
Bengawan Solo
riwayatmu ini
Sedari dulu jadi
perhatian insane

musim kemarau
tak seberapa airmu
musim hujan air
meluap sampai jauh
dan akhirnya ke laut

Di tempat saya tinggal tepatnya di Bangilan ada sungai yang walau tidak selebar bengawan Solo namun juga banyak member arti dan mengukir banyak kenangan indah para penduduknya khususnya tentu kenangan-kenangan masa kecil yang banyak dihabiskan di tepi sungai, sungai itu adalah Kali Kening.

Segala sesuatau di semesta raya yang diciptakan oleh Allah SWT ini tidak sia-sia, begitu juga dengan hadirnya Kali Kening dapat kita makni secara profan maupun secara lebih kuddus dan suci. Secara konkret peran Kali Kening bagi penduduk di sepanjang alirannya tentu telah kita lihat dan dapat kita rasakan manfaatnya, sedang secara filosofis dapat kita maknai Kali Kening sebagi banyu wening, yang berarti air kesucian. Karena air di dalam ajaran agama apapun selalu menjadi perantara penyucian jiwa, baik itu dalam ajaran  agama Islam, Kristen, Hindu dan Budha. Air suci (air putih) juga biasa dipakai untuk media penyembuhan berbagai macam penyakit.

Dalam Serat Dewa Ruci mengisahkan Bima disuruh oleh gurunya Drona untuk mencari air suci, air itu adalah air pawitra sari. -Air pawitra sari adalah lambang kesucian dan kelanggengan, siapa yang mendapakna air itu maka ia akan menjadi manusia yang suci dan sempurna. Tokoh Bima Sena sampai rela menerjang hutan lebat, mendaki gunung yang tinggi, menceburkan diri ke dalam samudra luas demi air suci pawitra sari. Dalam kisah Nabi Musa berguru pada Nabi Khidir pun Allah memerintahkan Musa untuk mencari air di pertemuan dua arus laut yang bisa menghidupkan ikan yang telah mati. Bahkan Nabi Khidir sendiri disinyalir ditangguhkan kematiannya hingga sekarang gara-gara ia meminum maul hayat (Air kehidupan).

Menurut pendiri Komunitas Kali Kening di Bangilan, Ikal Hidayat Nur beliau menuturkan mengapa menggunakan nama Kali Kening sebagai identitas komunitas yang bergerak dibidang dunia literasi itu, di group WA Komunitas dituliskan demikian :

Komunitas Kali Kening adalah komunitas literasi milik warga Tuban bagian selatan : Kenduruan, Jatirogo, Bangilan, Singgahan, dan Senori. Kali Kening sendiri memiliki filosofi : Kali atau sungai yang melambangkan sesuatu yang mengalir dan bergerak, semoga komunitas ini nantinya akan dinamis dan anggotanya produktif dalam berkarya. Sedangkan Kening berasal dari kata bening, bersih, suci. Mudah-mudahan komunitas ini dan karya-karya yang diproduksi anggotanya senantiasa menginspirasi sesama.”

Itulah sedikit filosofis yang dapat saya gali dari Kali Kening, semoga kali Kening dan kali-kali lain di muka bumi ini benar-benar menjadi kali-kali yang seperti digambarkan oleh Allah di dalam Al Qur’an. Kali yang mengalir jernih dengan  rerimbunan daun bamboo yang menaunginya, dan menjadi surga bagi para penduduknya.

Ah jadi rindu menikmati sepotong Senja Biru di tepi kali kening yang bening.

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” yang tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar