Selasa, 16 Agustus 2016

Dakwah Bil Kalam dan bil Qalam

Dakwah Bil Kalam dan bil Qalam
Joyojuwoto*

Dakwah bukanlah bagian dari kerja profesi yang hanya orang-orang tertentu saja yang boleh melakukannya, dakwah adalah keharusan setiap insan yang beriman. Rasulullah SAW sendiri mengatakan “Ballighuu ‘annii walau aayah” Sampaikan apa yang datang dariku walaupun hanya satu ayat. Hadits ini tidak memberikan spesifikasi kepada orang-orang tertentu saja yang boleh menyampaikan ajaran agama Islam. Siapapun punya kewajiban yang sama untuk menyampaikan apa yang ia tahu tentang ajaran-ajaran dari Rasulullah SAW.

Hadits di atas menjadi pendorong dan motivasi bagi siapa saja untuk menyampaikan ajaran Islam baik dengan lisan maupun dengan tulisan, bil Kalam dan bil Qalam. Menerjemahkan hadits Ballighuu ‘annii walau aayah secara konstekstual bukan berarti kita harus menjadi penceramah yang hanya berpidato di panggung kehormatan atau yang banyak tampil di layar kaca televisi, makna da’i tidak sesempit hanya menjadi penceramah agama saja, namun lebih dari itu segala aktivitas dan perilaku kita harus mencerminkan sebagai seorang da’i sebagaimana yang dimaksud dalam hadits Nabi di atas. Menjadi pedagang yang jujur adalah da’i, menjadi guru yang bermutu adalah da’i, menjadi pejabat yang amanat adalah da’i, dan menjadi apapun adalah seorang da’i, ringkasnya kita menjalani profesi apapun jika kita lakukan dengan baik dan penuh tanggung jawab berarti kita adalah seorang da’i. Nahnu Du’a Qobla Kulli Syai’’in, Kita adalah seorang da’i sebelun menjadi yang lainnya.

Dakwah bil Kalam atau berceramah sudah jamak dilakukan di tengah-tengah masyarakat, mulai dari tingkat keluarga, RT/RW, desa, bahkan hingga tingkat nasional. Setiap kegiatan selalu ada sesi penceramahnya. Kegiatan-kegiatan pengajian juga merebak mulai dari peringatan hari-hari besar nasional hingga peringatan hari-hari besar keagamaan selalu diisi dengan dakwah bil kalam atau ceramah agama. Begitu intensnya kegiatan dakwah bil kalam sampai-sampai untuk mendatangkan seorang penceramah masyarakat kadang harus ngantri hinga berbulan-bulan bahkan tahunan. Masyarakat kita memang cenderung berfikir pragmatis, dan kurang memberikan perhatian lain terhadap model dakwah, sehingga dari waktu ke waktu model dan sistematika dakwah tidak banyak berubah hanya itu-itu saja.

Jika masyarakat awam hal itu mungkin tidak menjadi masalah, namun cara berfikir yang sedemikian juga menjangkiti kalangan akademisi, mereka merasa nyaman dengan model dakwah pasif yang hanya mendengarkan para da’i berceramah, dan lebih menyedihkan lagi dakwah itu hanya sekedar sebagai hiburan semata. Kebanyakan penceramah sekarang yang dicari adalah lucunya saja, guyonannya saja tanpa memperhatikan isi ceramah yang sesungguhnya. Sangat ironis tentunya. Oleh karena itu kita perlu mencari model dakwah yang lebih aktif menggerakkan dan memberdayakan masyarakat, semisal dakwah bil Qalam atau dakwah dengan pena.

Dakwah dengan qalam bukan berarti semua harus menjadi penulis, dakwah bil qalam pengertian dan cakupannya lebih luas dari hanya sekedar menulis saja. Dalam pengertian yang lebih luas lagi dakwah bil qalam adalah dakwah literasi. Pengertian dari literasi tidak hanya sekedar membaca dan menulis saja, Namun, Deklarasi Praha pada tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003).

Jadi menurut deklarasi Praha dakwah bil qalam yang saya sebut sebagai kegiatan literasi terkait dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Kemampuankemampuan itu perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan itu bagian dari hak dasar manusia menyangkut pembelajaran sepanjang hayat. Hal ini tentu sesuai dengan hadits Nabi yang berbunyi : “Udlubul ‘Ilma minal Mahdi Ilal Lahdi” yang memerintahkan umat Islam untuk menuntut ilmu sepanjang hayat dari semenjak lahir hingga sampai di liang lahat.

Oleh karena itu mari bersama menciptakan dan membangun dakwah literasi di lingkungan kita masing-masing guna mengembangkan potensi masyarakat ke depan lebih baik lagi. Walau tidak mudah namun dakwah literasi harus mendapatkan porsi untuk ikut serta membangun peradapan bangsa, karena apapun itu tanpa keseimbangan dan keserasian hanya akan menghasilkan sesuatu yang pincang, begitu juga dakwah bil kalam harus juga diimbangi dengan dakwah bil qalam guna membangun keseimbangan dan keserasian sebuah peradapan. “Nun, demi pena dan yang telah mereka tulis”.



*Joyojuwoto, lahir di Tuban, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri PP. ASSALAM Bangilan dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar