Minggu, 31 Juli 2016

Nabi Musa Sang Kalimullah

Nabi Musa Sang Kalimullah
Joyojuwoto*


Nabi Musa adalah termasuk salah satu Nabi yang mendapat gelar sebagai Rasul Ulul Azmi, yaitu gelar kehormatan yang diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasulnya yang memiliki keteguhan hati dan ketabahan yang luar biasa serta kesabaran dalam mendakwahkan ajaran agama Tuhan kepada kaumnya.

Nabi Musa adalah putra dari Imron keturunan dari Nabi Ya’kub bin Ishak, ibunya bernama Yohanadz. Musa hidup di Mesir yang saat itu dipimpin oleh seorang raja lalim yang bernama Fir’aun. Nama Fir’aun bukanlah nama seseorang, tapi nama itu merujuk pada gelar yang dipakai oleh raja-raja Mesir kuno. Fir’aun berasal dari bahasa Koptik, yaitu Paraoh. Ha’ pada fonem “raouh” adalah pergantian dari ‘ain yang asalnya rou’ (Ra) yang berarti matahari. Paraoh sendiri bermakna “sinar matahari”.

Nama Musa sendiri berasal dari bahasa  Ibrani, Musa adalah gabungan dari dua kata. Mu yang berarti air dan Sya yang berarti pohon. Ia dinamai Musa karena saat kecil dipungut oleh keluarga Fir’aun saat bayi Musa dilarung oleh Ibunya dan terapung di sungai Nil yang kemudian ditemukan dan akhirnya diambil anak angkat oleh permaisuri Fir’aun yang bernama Asiyah. Padahal saat itu Fir’aun sedang melakukan genosida terhadap seluruh bayi laki-laki yang dilahirkan dari keturunan Bani Israel.

Kisah Nabi Musa termasuk yang paling banyak yang diceritakan di dalam Al Qur’an, lebih dari 125 nama Musa tercantum di dalamnya, diantaranya menyebar di empat surat: Al-Baqarah, Thaha, Al-A’raf, dan Al-Qashas.

Sejarah maupun kisah Nabi Musa pun sangat komplit mulai dari masa sebelum kelahirannya yang diramalkan oleh para ahli nujum fir’aun, Kelahiran Musa yang akhirnya dihanyutkan ke sungai Nil (QS. 28:7), masa kecil saat hidup dang tinggal di istana fir’aun (QS. 28:9), kisah Musa membunuh laki-laki Mesir (28:16) masa pelariannya ke negeri Madyan yang membawanya bertemu dengan anak-anak Nabi Syuaib (QS. 28:26), masa risalah di bukit Thur (QS. 20: 25-28), kembalinya Musa ke Mesir yang kemudian diperintahkan oleh Allah berdakwah kepada Fir’aun bersama saudaranya Harun (QS. 20:44), konfrontasi langsung antara Nabi Musa dengan tukang sihirnya fir’aun (QS. 20:63, QS. 7:116, QS. 20:69 ), hingga berakhirnya kecongkakan Fir’aun di telan laut merah (QS. 26:63, QS. 10:90-91).

Di dalam surat Al Baqarah juga bertebaran kisah yang menceritakan tentang Nabi Musa yang menyuruh salah satu dari Bani Israel untuk mencari sapi betina sebagai prasarat untuk mengetahui seorang pembunuh diantara mereka. Selain itu Al Qur’an dalam surat Al Kahfi ayat 65-82 juga merekam jejak kisah bergurunya Nabi Musa kepada Nabi Khidir untuk mendapatkan dan mengajarinya ilmu hikmah dan kebijaksanaan.

Gelar Rasul Ulul Azmi yang disematkan kepada Nabi Musa tentu karena Nabi Musa termasuk Nabi yang dipilih dan diistimewakan oleh Allah Swt dibandingkan dengan nabi-nabi yang lainnya.

Keistimewaan dan kelebihan yang ada pada diri Nabi Musa yang banyak disebut dalam Al Qur’an diantaranya adalah :

Pertama, Nabi Musa termasuk Nabi yang mendapatkan limpahan kasih sayang mulai dari kelahirannya dan selalu dalam pengawasan Allah Swt, sebagaimana dalam surat Thaha ayat 39.

Kedua, Allah Swt langsung memilih Musa sebagai Nabi dan Rasulnya hal ini tercantum dalam surat Thaha ayat 13 yang artinya : “Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkan apa yang akan diwahyukan kepadamu.”

Ketiga, Nabi Musa adalah seorang yang Kalimullah, maksudnya adalah beliau langsung bercakap-cakap dengan Allah tanpa melalui perantara Malaikat saat menerima wahyu di puncak bukit Thur. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt dalam surat An Nisa’ ayat 164 yang artinya : “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.”

Keempat, Nabi Musa adalah salah satu dari lima Rasul yang mendapatkan gelar Ulul Azmi. Nabi Musa ini menduduki posisi ketiga dari para Rasul Ulul Azmi diantaranya adalah, Nabi Nuh,Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad SAW. Nabi Musa juga mendapatkan wahyu dari Allah guna disampaikan kepada kaumnya yaitu berupa sepuluh perintah Tuhan (hukum Taurat) yang diterima Nabi Musa secara langsung di bukit Thur.

Dari keistimewaan-keistimewaan Nabi Musa ini tentu dapat kita fahami bahwa Musa berjalan, bertindak, dan berperilaku sesuai dengan apa yang Allah ilhamkan ke dalam diri Musa. Inilah yang menjadi bagian dari sifat kenabian yang telah Allah tanamkan dalam jejak sejarah perjalanan hidup Nabi Musa dari masa kelahirannya hingga beliau wafat. Nilai-nilai profetik yang ada dalam diri Musa menjadi pelajaran yang berharga untuk kita renungi dan kita ambil pelajaran serta hikmahnya.

Ada banyak pelajaran dan hikmah profetik yang Allah sertakan dalam kehidupan kekasihnya ini, diantara hikmah-hikmah profetik itu adalah ada pada kisah bergurunya Nabi Musa kepada seorang hamba Allah yang mendapatkan rahmat dan ilmu dari sisi Allah, oleh penafsiran para ulama beliau disebut sebagai Khidir. Walau kisah ini terjadi dan dialami oleh Nabi Musa, namun pada hakekatnya Allah sedang mengajari kita umat manusia untuk menjadi Musa-Musa yang berusaha menyecap setitik ilmu dari keagungan ilmu dan hikmah Allah Swt melalui perantara hambanya yang sholeh.

Kisah bergurunya Musa kepada Khidir ini menjadi sebuah sarana Musa untuk meningkatkan maqam syariat kepada maqam hakekat. Karena pada dasarnya Musa sebagai utusan Allah tentu telah sempurna keilmuan syariatnya, namun dalam segi hakekat beliau dituntut oleh Allah untuk berguru kepada salah seorang hambanya yang sholeh.

Setidaknya ada tiga peristiwa penting yang terjadi dalam kisah bergurunya Nabi Musa kepada Khidir yang memberikan pelajaran dan pendidikan profetik kepada kita, peristiwa itu dimulai saat Musa memohon untuk mengikuti gurunya. Oleh Khidir dijawab bahwa Musa tidak akan sabar bersamanya. Kemudian Musa berjanji akan sabar dan mengikuti Khidir kemanapun dan tidak akan menentangnya dalam hal apapun.

Khidir akhirnya mengijinkan Musa ikut bersamanya, mereka berdua berjalan hingga keduanya menaiki sebuah perahu. Khidir dengan tanpa banyak bicara melubangi perahu itu, Musa kaget dan serta merta ia menegur perbuatan gurunya yang dianggap merusak hak milik orang lain. Khidir pun hanya berkata, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”. Musa pun sadar akan kesalahannya untuk tidak menentang gurunya. Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanannya, di suatu tempat terdapat anak-anak kecil yang sedang bermain, lagi-lagi Khidir melakukan perbuatan yang tidak terduga, Khidir membunuh anak kecil itu, Musa kembali bereaksi marah, “Wahai Guru engkau telah membunuh anak kecil yang berjiwa bersih tanpa alasan”, Khidir hanya mengatakan perkataan awal saat Musa akan menyertainya, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”. Lagi-lagi Musa meminta maaf dan tidak akan mengulangi perbuatannya. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah perkampungan. Mereka meminta sekedar air untuk melepas dahaga, dan sekedar makanan untuk mengganjal perut, namun penduduk kampung itu tidak ada yang mau. Musa merasa jengah, dan lebih menjengkelkan lagi, Khidir mengajak Musa untuk memperbaiki sebuah dinding rumah yang hampir roboh, padahal mereka telah telah menyia-nyiakan tamu. Di tengah kejengkelannya Musa pun kembali protes kepada Khidir, “Jika kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu” Dan inilah akhir dari perjalanan mereka berdua, Musa tidak sabar menghadapi gurunya yang dianggap melakukan perbuatan yang melanggar hukum dan kebiasaan. Ringkasnya akhirnya Khidir melarang Musa untuk mengikutinya dan beliau kemudian menerangkan perbuatan-perbuatan yang dilakukannya itu bukanlah dari dirinya, namun Allah lah yang memerintahkannya.

Dari tiga peristiwa itu, yaitu peristiwa melubangi perahu yang bukan hak miliknya, membunuh anak kecil yang tidak memiliki dosa, dan menegakkan dinding yang akan roboh tanpa mengambil upah adalah perbuatan yang secara hukum dianggap melanggar syariat. Namun nyatanya dibalik peristiwa itu ada hikmah yang tersembunyi, hanya Allah saja yang tahu. Khidir pun melakukan itu atas kehendak-Nya. Jadi berhati-hatilah dengan fenomena dan kejadian yang ada disekitar kita, jangan terburu menjustifikasi sebuah perbuatan, arif dan bijaksanalah dalam menilai sesuatu, dan itu pun ternyata belum cukup, mintalah petunjuk dan bimbingan dari orang-orang sholeh yang dekat dengan Tuhan. Ihdinas shiraathal mustaqim. Amien.

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Santri Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban; Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” dan juga seorang blogger yang tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar