Sabtu, 25 Juni 2016

Sang Tiran


Sang Tiran

Fir’aun tidak pernah mati, mungkin Fir’aun di zaman Nabi Musa telah tenggelam di laut merah, namun gema dan kutukan jiwa Sang Tiran selalu berkumandangan keras di labirin-labirin jiwa manusia. Akan selalu ada Fir’aun-Fir’aun di sepanjang zaman, disetiap lembaran sejarah peradapan umat manusia. Karena Fir’aun bukanlah badan jasmani yang rusak, Fir’aun adalah ego ke-akuan abadi yang hampir selalu ada dalam diri manusia.

Di setiap perjalanan sejarah umat manusia Fir’aun akan selalu maujud dengan bentuk dan takaran yang berbeda, menyesuaikan besar kecilnya ego serta kemampuan untuk menjelma menjadi Sang Tiran. Tetapi tak perlu khawatir sunnatullah akan selalu mengirimkan Musa-Musa baru untuk menandingi dan meredam kepongahan dari Sang Tiran tadi. Ya selalu ada avatar kebaikan yang akan meredam kejahatan-kejahatan avatar yang muncul dari jiwa yang kelam. Kapanpun akan selalu muncul Ashabul Kahfi sebagai antitesa dari Raja yang lalim, akan selalu muncul Ibrahim sebagai lawan yang sebanding dengan Namrud, dunia dengan segala harmoninya akan mencipta satu tatanan menuju altar suci ke Tuhanan.

Ambisi dan kekuasaan selalu memberikan jalan bagi para tiran untuk memenuhi dan memuaskan ego dan ke-akuannya, sebagaimana Fir’aun yang dengan penuh kesombongan berkata kepada pembesar kaumnya, sebagaimana yang diabadikan Allah dalam Al Qur’an surat Al Qashaash ayat 38 :

38. dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku.

Jiwa tiran jika kebetulan muncul pada orang yang lemah tentu tidak masalah, ego ke-akuannya juga akan lemah, lain lagi ketika jiwa ini menemukan jodohnya pada orang yang berkuasa dan memiliki sumber daya, maka klaim Sang Tiran itu akan menjadi pedang tajam yang menebas kebenaran. Power tends to corrupt, atau lengkapnya Absolute Power tends to Corrupt Absolutely” sebagaimana judul dissertasi seorang jenius asal Jerman, Emmanuel Kant. Kata-kata ini muncul sebagai reaksi atas tuntutan demokrasi yang melanda daratan Eropa. Dan begitulah fir’aunisme ini berbuat sewenang-wenang, menginjak-injak konstitusi, memperbudak, bahkan mempertuhankan dirinya sendiri, mempertuhankan egonya sendiri.

Jiwa tiran ini sangat bertentangan dengan jiwa kebebasan yang digaungkan Islam dan yang di suarakan oleh nilai-nilai kebebasan universal. Oleh karena itu cepat atau lambat sang Tiran akan runtuh dengan sendirinya, karena jiwa tiran tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Siapapun yang melanggar sunnah zaman dengan segala perubahan dan dinamikanya maka dia harus siap-siap digilas dan dihancur leburkan oleh zaman. Oleh karena itu sangat menarik ketika kita melihat fenomena Napoleon Bonaparte yang berusaha meniru gaya fir’aunisme, namun ia gagal dan tidak mampu meniru pendahulunya Louis XIV, yang selalu berkata : “Letat cest moi...! Negara adalah saya !.” Napoleon gagal karena ia tidak mampu membangun citra sebagaimana Fir’aun dengan propaganda dusta dan kuasa wacananya.

Dua hal inilah yang dibangun oleh Fir’aun untuk meneguhkan posisinya sebagai Sang Tiran sejati. Bukan hanya sekedar membangun propaganda dan wacana dengan tuduhan dusta. Musa sebagai lawan politik Fir’aun dituduh dengan berbagai tuduhan yang memojokkannya. Tuduhan sebagai pengacau, tuduhan sebagai pengrusak dan lain sebagainya. Fir’aun berusaha membangun klaim-klaim sepihak secara subjektif untuk menghancurkan Musa, bahkan ia juga membuat pembenaran-pembenaran atas apa yang ia lakukan. Bahkan Fir’aun tidak segan-segan melakukan konfrontasi langsung, personal attack kepada Musa.

Inilah Sang Tiran dengan segala potensinya berusaha membangun dunianya sendiri, bahkan ia sampai mengaku sebagai Tuhan, dengan sombongnya Fir’aun  berkata : “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku” Namun sunnatullah tidak akan pernah berubah sehebat apapun Sang Tiran pada saatnya ia akan tumbang dan tenggelam, sebagaimana Fir’aun di hadapan Musa Alaihissalam. Joyojuwoto



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar