Jumat, 03 Juni 2016

Resensi Buku “Surgaku Adalah Mengajar”

Resensi Buku “Surgaku Adalah Mengajar”
Identitas Buku
Judul Buku      : Surgaku Adalah Mengajar
                          Kumpulan Tulisan Mengenang KH. Abd. Moehaimin Tamam
Penulis             : Tim Majalah KMI ASSALAM
Editor              : Juwoto, Adzim Muntolib
Lay Out           : Misbahul Munir
Penerbit           : ASSALAM Press
Cetakan           : 2016
Tebal               : 276
Kategori          : Nonfiksi-Biografi

Ulasan buku
Tiada sesuatu yang lebih membahagiakan selain mengenang, apalagi itu mengenang sosok yang teramat istimewa di hati kita. Begitu pula dengan buku ini adalah sebuah kenangan indah, kenangan yang kadang membuat butiran air mata ini deras mengalir. KH. Abd. Moehaimin Tamam atau sering dipanggil Abah adalah sosok yang patut dan layak dikenang khususnya oleh santriwan-santriwati pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia.

Buku “Surgaku Adalah Mengajar” ini ditulis oleh tim Majalah ASSALAM berdasarkan hasil dari wawancara dengan berbagai pihak seperti : Keluarga ndalem, Dewan Asatidz, Alumni dan para santri tentunya yang mana buku ini menceritakan secara intim hubungan antara Sang Guru terhadap santri-santrinya. Buku ini ibarat tali ikatan batin atau alaqah ruhiyah antara Kyai dengan santrinya yang tidak terputus walau salah satu diantara mereka telah tiada dan berpisah secara fisik, namun dimensi batin terus tersambung hingga kelak sama-sama bersatu dalam kasih sayang dan ridho Allah SWT.

Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri seseorang yang merasakan dunia pondok pesantren, dunia yang penuh dengan cinta, keakraban, keta’dziman, dan tentu dunia untuk saling menebar berkah rahmatan lil’alamin. Dunia pesantren ibarat ladang pembenihan yang selalu membutuhkan siraman air kehidupan sehingga benih-benih itu akan tumbuh menjadi tanaman yang subur. Seorang Kyai  ibarat air bagi benih-benih itu. Ibarat telur-telur ayam yang tidak akan menetas kecuali diangkremi oleh induknya, dan Sang Kyai adalah induk bagi santri-santrinya.

Begitulah gambaran kehidupan antara Sang Kyai dan santrinya, jadi sangat wajar sekali jika para santri sangat merindukan siraman air kehidupan dan membutuhkan angkreman dari Kyainya. Hubungan mereka diibaratkan dalam hadits Nabi “Rajulaani Tahabba Fillah, Wa Tafarraqa Fillah” Dua orang yang saling mencintai karena Allah, dan beripisah juga karena Allah Swt semata.

Begitu pula dengan Abah Moehaimin Tamam di mata keluarga ndalem, dewan Asatidz, dan para santri yang masih mukim ataupun yang sudah alumni. Beliau adalah sosok yang selalu hidup di hati sanubari dan selalu menjadi sumber kerinduan para santrinya yang telah mencecap jernihnya air pesantren, segarnya udara pesantren, dan menapakkan kakinya di keberkahan Kampung Damai ASSALAM Bangilan Tuban.

Dalam WA-nya beberapa alumni banyak meng-quote beberapa tulisan penting di buku tersebut diantara bernama Mohammad Haris Suhud dari Ngasem Bojonegoro menguraikan dengan apik tentang beberapa hal yang tertulis di buku itu, diantaranya :

“...Ibuk bertanya pada Abah. “Anakmu mbuk wei opo ? beliau menjawab dengan mantapnya “Rezeki anak itu sudah ada sendiri. Kalau kita meninggali mereka ilmu, InsyaAllah rezeki akan mengikuti mereka. Ndak usah kita memikirkan akan kita kasih apa anak kita (Hj. Noor Anim Suryawati : SAM hal. 34)

Kemudian salah satu alumni dari Grobogan Purwodadi juga menukil salah satu tulisan :
“Yik Husain : Sampeyan nek nyantri ning Pak Moehaimin sing tenanan, Kyaimu kuwi pinter tenan, ilmune akih” (Ust. Sutrisno)

“Di sela-sela itu, beliau dawuh kepada saya : “Ju ASSALAM baru seperti ini atau sudah seperti ini ? (Mbah Ju hal. 189)

Dan terakhir saya tutup dengan apa yang saya tuliskan sendiri di alinea terakhir tulisan saya di buku itu yang berbunyi :
Kini pesantren ASSALAM yang dulu diperjuangkan oleh beliau Abah Moehaimin Tamam telah menginjak dewasa, estafet tali kepemimpinan telah diwariskan pada genersi selanjutnya. Tuhan telah memeluk kekasihnya dalam kasih dan cinta-Nya. Semoga beliau Abah Moehamin Tamam tersenyum bahagia melihat taman surga membumi, semoga beliau bangga melihat bunga-bunga pesantren yang dulu ditanamnya kini telah bermekaran mewangi semerbak memenuhi bumi Persada Nusantara. Amin. (Joyojuwoto hal : xiii)

Demikian sekilas dari buku “Surgaku Adalah Mengajar” semoga pendar-pendarnya bersinar dan memberikan manfaat bagi santriwan-santriwati ASSALAM khususnya dan bagi bumi persada Nusantara pada umumnya. Joyojuwoto.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar