Sabtu, 25 Juni 2016

Jiwa Pengecut

Jiwa Pengecut

Diantara sifat tercela yang bersemayam di dalam jiwa manusia adalah sifat pengecut, sifat ini jika telah menjangkiti diantara manusia maka kekuatan suatu bangsa akan lemah. Pengecut adalah tidak adanya keberanian menegakkan nilai-nilai kebenaran dikarenakan ketakutan-ketakutan yang kadang hanya dalam angan-angannya saja. seorang yang berjiwa pengecut tidak memiliki jiwa untuk membela bangsa dan negaranya jika diserang oleh musuh, mereka akan bersembunyi bahkan mereka tidak segan untuk berada di pihak musuh demi keuntungan dan keselamatan diri dan keluarganya.

Sifat pengecut ini muncul dalam diri seseorang  dikarenakan beberapa hal diantaranya adalah kecintaan yang berlebihan terhadap harta benda, sehingga ia ketakutan suatu saat akan kehilangan harta bendanya. Sikap pengecut juga muncul karena takut akan kesengsaraan dan kematian sehingga dalam diri seorang yang pengecut tertanam ketakutan terhadap sesuatu yang menjadi kewajaran bahkan sebuah kepastian. Semisal kesengsaraan dan kematian adalah sesuatu yang wajar di dalam kehidupan, tidak ada seorangpun di dunia ini tanpa dua hal tadi.

Sikap terlalu mencintai dunia dan menakutkan akan datangnya kematian adalah dua penyakit yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai penyakit “wahn” yang kelak menjangkiti umat Islam. Para sahabat menanyakan apa itu “wahn”, maka Rasulullah menjawab bahwa penyakit wahn adalah : “Hubbu al dun-ya wa karahiyatul maut”  yaitu terlalu cinta dunia dan takut mati. Padahal jelas-jelas sekali bahwa dunia kedudukannya sangat rendah dan ringan di sisi Allah  Swt, bahkan lebih ringan dibandingkan  sayap seekor lalat, begitu pula dengan kematian pun pasti akan mendatangi setiap makhluk yang bernyawa.

Jika demikian adalah suatu kebodohan jika kita terlalu merisaukan dunia dan mengkhawatirkan kematian yang telah menjadi ketetapan sejak zaman azali. Sikap takut dan risau  inilah yang kadang menjadikan orang-orang tidak berani bergerak untuk melawan musuh-musuh yang  menggerogoti pilar-pilar peradapan suatu bangsa hingga menjadikan bangsa menjadi lemah dan akhirnya secara perlahan akan  roboh dan tumbang.

Betapa banyak bangsa-bangsa yang mundur dan hancur dikarenakan penyakit pengecut ini telah menjadi wabah yang menjangkiti jiwa para masyarakatnya, mereka punya kemampuan untuk mempertahankan harga diri dan identitas bangsa, namun karena penyakit ini telah merusak keberanian dan jiwa ksatria dalam suatu masyarakat. Akibatnya bisa ditebak, mereka membiarkan segala kerusakan yang terjadi tanpa mau dan punya keinginan untuk membela harga diri bangsa dan negara.

Sikap diam dan tidak adanya keberanian untuk melawan orang-orang yang zalim ini adalah perbuatan yang sangat tercela, kadang-kadang kejahatan dan kemungkaran terjadi karena memang kita membiarkan perbuatan itu dan tidak berusaha untuk mencegahnya dikarenakan sikap pengecut yang bersarang di dalam dada kita. Bukankah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk melawan segala bentuk kedzaliman, baik itu dengan ucapan, perbuatan, maupun dengan kekuasaan jika kita memilikinya? Dan selemah-lemahnya iman jika kita hanya mengandalkan potensi lisan saja guna untuk mencegah segala bentuk kedzaliman.
Sikap pengecut ini sangat tercela sekali karena sikap ini sangat dekat dengan kemunafikan, yang mana kemunafikan adalah hal yang dibenci oleh Allah, dan orang munafiq akan ditempatkan di neraka yang paling bawah serta tidak akan ada yang seorangpun yang menjadi penolong bagi mereka, sebagaimana ancaman di dalam Al Qur’an surat An Nisa ayat 145 yang artinya :
¨   
145. Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

Begitu berbahayanya sikap pengecut ini maka kita perlu waspada jangan sampai penyakit ini melumpuhkan mental keberanian suatu bangsa hingga bangsa menjadi lemah tak berdaya. Oleh karena itu untuk mengantisipasi dan melawan sikap pengecut ini perlu kiranya kita pompakan semangat keberanian kepada generasi muda sebagai lawan dari sikap pengecut. Diantara hal yang bisa kita gunakan untuk mengobati sikap pengecut adalah :

1.      Menanamkan sikap keberanian untuk membela kebenaran
Keberanian adalah sikap utama yang menjadi lawan dari jiwa pengecut, oleh karena itu sikap ini harus kita bangun dan kita tanamkan dalam jiwa masyarakat. keberanian ini ibarat api yang akan meleburkan karat-karat pada besi, dan memurnikan emas dari loyang dan kotoran-kotoran. Sikap berani adalah sikapnya para Rasul dan ulama-ulama sholeh, karena di dalam hati dan jiwa mereka tidak ada yang ditakuti kecuali Allah Swt semata.

Sikap berani ini bisa bermakna berani secara moril dan materiil. Berani secara moril adalah sikap berani untuk melawan kedzaliman yang akan merugikan bangsa dan negaranya, dan memberi petunjuk guna kemaslahatan umat, sedang berani secara materiil adalah sikap berani berkorban dengan harta bendanya untuk kemakmuran dan kejayaan umat.

2.      Mengajarkan bela diri
Beladiri sangatlah penting guna menunjang keberanian seseorang. Rasulullah SAW juga mengajarkan agar kita membekali anak-anak kita dengan bela diri, sebagaimana yang beliau sabdakan : “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah” dari hadits ini jelaslah Rasulullah SAW menyuruh umat Islam untuk menjadi umat yang mampu membela diri, bahkan dalam hadits lain jelas-jelas Rasulullah mengatakan bahwa orang mu’min yang kuat itu lebih dicintai oleh Allah daripada mu’min yang lemah.

3.      Menanamkan keyakinan akan Qadha’ dan Qadar Allah Swt
Keyakinan akan qadha’ dan qadar Allah sangat penting untuk membentuk pondasi keberanian yang akan mengusir jiwa pengecut di dalam jiwa. Sebagaimana yang saya tulis di atas bahwa diantara sebab jiwa pengecut adalah ketakutannya akan kekurangan harta dan kekhawatirannya akan kematian.  Tentu dua hal ini telah ditulis Allah di lauhil mahfudz sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk takut. Kita harus meyakini akan qadha’ dan qadarnya Allah bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang luput dari pengawasan-Nya, bahkan daun yang jatuh telah ada dalam ketetapan-Nya. Sesungguhnya keberanian menantang maut kita tidak akan mendekatkan kita pada kematian, begitu juga ketakutan kita akan kematian tidak akan menjauhkan kita padanya. Karena kematian adalah sebuah kepastian.


Demikian beberapa hal yang dapat kita tanamkan kepada umat bahwa tidak ada alasan untuk berjiwa pengecut, karena pengecut adalah sikap yang perlu kita singkirkan jauh-jauh dari kamus kemajuan dan kejayaan umat. Oleh karena itu mari bersama menyongsong kejayaan dan kebesaran bangsa dan negara dengan menjauhi sikap pengecut. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar