Senin, 20 Juni 2016

Jangan Marah

Jangan Marah

لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةْ

Artinya : Jangan marah, maka bagimu adalah surga (HR. Thabrani)

Marah adalah tabiat yang diciptakan Allah di dalam diri manusia sebagaimana tabiat-tabiat yang lain, seperti lemah lembut, kasih sayang, simpati, empati, toleransi dan lain sebagainya. Yang namanya tabiat tentu manusia tidak terhindar sama sekali dari amarah ini. marah sebenarnya tidak terlarang jika tepat dan sesuai dengan proposinya. Bahkan marah adalah energi yang berfungsi menjadi pembela bagi nilai-nilai kebaikan dan melindungi diri dari hal-hal yang merusak dari luar. Oleh karena itu Imam Syafi’i  pernah berkata : “Barang siapa yang dibuat marah tetapi tidak marah maka ia  adalah keledai”

Perkataan Imam Syafi’i tentu bukan dalam rangka menyelisihi sabda Nabi yang berbunyi Laa Taghdhob, namun beliau menempatkan marah pada proposinya. Jika nilai-nilai kebaikan dalam ajaran agama diabaikan dan dilecehkan tentu sebagai seorang mu’min kita wajib marah, namun marah kita bukan pada individunya, namun lebih pada sikap dan perilakunya. Marah terhadap hal-hal yang memang diperlukan tentu sangat wajar dan manusiawi, sedang larangan marah sebagaimana hadits Nabi di atas adalah marah yang dzalim, marah yang bukan pada tempatnya.

Marah yang dilarang adalah marah yang membutakan mata hati dan akal sehat, sehingga menyebabkan kita tidak adil dalam menilai sesuatu. Rasulullah SAW sendiri pun sangat marah jika larangam-larangan Allah diabaikan dan dilanggar. Namun kasih sayang dan kelembutan Rasulullah mengalahkan sikap amarahnya, sehingga beliau lebih banyak bersabar dan mengedepankan kasih  sayangnya kepada manusia. Bahkan beliau sendiri bersabda :
لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةْ
Artinya : Jangan marah, maka bagimu adalah surga

Rasulullah melarang mengumbar kemarahan karena orang yang sering marah itu tidak bisa mengendalikan diri dan mudah dikuasai oleh setan, karena setan memang berasal dari bara api. Di dalam Alur’an pun banyak ayat yang memerintahkan seseorang untuk menahan amarahnya, seperti dalam surat Ali Imron ayat 134 yang artinya : “Dan orang-orang yang menahan amarahnya”, kemudian dalam surat Al-A’raf ayat 199 Allah Swt juga memerintahkan seseorang untuk lembut hati dan pemaaf serta menjahui perbuatan orang-orang yang bodoh.

Oleh karena itu seyogianya seseorang berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghindari gelora amarah yang tak terkendali. Karena banyak kejadian yang sebenarnya sepele namun karena amarah telah menguasai jiwa maka akibatnya menjadi hal yang sangat tak terduga. Banyak kasus-kasus kekerasan yang terjadi di masyarakat bahkan berakhir dengan pembunuhan juga karena dipicu oleh kemarahan yang tidak terkendali.

Jadi ikutilah petunjun Nabi untuk jangan menumbar api kemarahan agar kita selamat, baik itu di dunia lebih-lebih di akhirat kelak. Jika seseorang dilanda api kemarahan hendaknya ia diam dan jangan melakukan hal apapun, karena tentu hasilnya tidak akan baik. Rasulullah SAW bersabda :
إِذَاْ غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
Artinya : “Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam”

Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada orang yang marah, jika ia dalam kondisi berdiri maka duduklah, jika dalam keadaan duduk bersandarlah, jika dalam keadaan bersandar maka berbaringlah. Jika ternyata belum reda hendaknya orang yang marah segera mengambil wudlu atau mandi, karena api hanya bisa dipadamkan dengan air. Nabi SAW bersabda :
إِذَاْ غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ بِالْمَاءِ فَإِنَّمَا الْغَضَبُ مِنَ النَّارِ

Artinya : “Apabila salah seorang diantara kamu marah maka hendaklah ia berwudlu dengan air karena marah adalah dari api” 
                                                                                                                                                Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar