Selasa, 24 Mei 2016

Tombo Ati, Jalan Dakwah Sunan Bonang

Tombo Ati, Jalan Dakwah Sunan Bonang

Tombo ati iku lima sak wernane
Kaping pisan moco Qur'an  sakmanane
Kaping pindo, sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Slah sawijine sopo biso ngelakoni
Insyaallah Gusti Allah nyembadani

Di mushola-mushola kampung tembang ini masih sering dinyanyikan sebagai puji-pujian sebelum shalat jamaah didirikan. Syahdu mengalun dan menjalari memori kenangan indah kita masa silam. Tembang ini adalah sebuah petuah purba yang masih lestari hingga kini di tengah gempuran budaya internet yang merajalela. Di antara budaya asing yang semakin menghimpit akal pikiran masyarakat nusantara.

Tembang ini digubah dan diciptakan oleh salah seorang Walisongo, yaitu Sunan Bonang. Dengan kepiwaiannya, Sunan Bonang yang saat itu sedang berdakwah di tengah-tengah masyarakat Hindu-Budha bisa menyatu, berselaras, mengkultur dengan budaya setempat sambil menyisipkan ajaran-ajaran Islam. Sempurna, tembang ini tidak hanya sangat populer pada zamannya, hingga bertahan sampai sekarang, namun tembang ini juga mampu menaklukkan cadas-cadas kejahiliahan pada masyarakat Jawa kala itu hingga dengan ridho berduyun-duyun memeluk ajaran agama Sang Rosul.

Metode dakwah Sunan Bonang dan sunan-sunan lainnya memang luar biasa, dakwah para wali tidak hanya terjebak pada tekstualitas dan formalitas Al Qur’an dan Sunnah, namun lebih dari itu ajaran-ajaran Islam diracik dan disarikan dengan indah kemudian disuguhkan kepada masyarakat Nusantara hingga mereka mau menerima dakwah Islam bahkan dengan keridhoan dan suka-cita. Inilah yang dikenal dengan dakwah kultural atau berdakwah dengan konsep “Bil mauidzatil Hazanah” sebagaimana yang tercantum dalam Surat An-Nahl ayat : 125  yang artinya :

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl : 125)

Dakwah para wali memang merangkul bukan memukul, mengislamkan bukan malah mengkafir-kafirkan, menebar cinta dan kasih sayang antar sesama bukan malah menumbuhkan sikap kebencian di tengah-tengah masyarakat, hingga masyarakat merasa aman dan nyaman dalam pelukan cinta kasih Tuhan.

Tombo ati adalah salah satu mahakarya dari sekian banyak metode dan jalan dakwah yang digunakan oleh Sunan Bonang untuk mendekati masyarakat Jawa yang sangat kental dengan budaya Hindhu-Budhanya. Sedikit demi sedikit nuansa itu diwarnai dengan ajaran Islam, ajaran untuk taat dan cinta kepada Allah dan Rasulnya melalui media gending-gending dan pujian-pujian yang berisi pengagungan kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah SAW. Ini adalah jalan dakwah yang sangat inspiratif dan luar biasa. Indah, lembut, konstruktif, dan terbukti hasilnya dapat kita rasakan dan kita nikmati hingga kini.

Dengan tombo atinya Sunan Bonang berusaha menyentuh sisi yang paling penting dari manusia, yaitu hati. Hati atau Qolbun secara lahiriah bermakna segumpal daging yang berada di dalam rongga dada sebelah kiri yang memiliki fungsi menyaring potensi racun-racun yang masuk ke dalam tubuh manusia. Sedang hati yang bermakna halus atau non indrawi adalah bersifat ketuhanan atau bermakna hati ruhani.

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka baiklah  seluruh jasad, jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh jasad, ketahuilah, dia itu adalah hati. Jadi hati ini memiliki peran vital dalam kehidupan manusia baik kehidupan jasmaninya maupun ruhaninya. Rusaknya hati Jasmani tentu berkenaan dengan penyakit-penyakit jasmani dan badan kasar manusia, sedang rusaknya hati ruhani berhubungan dengan rusaknya tingkah dan perilaku manusia dalam menjalani kehidupannya secara vertikal maupun secara horizontal. Baik itu kehidupan yang berperikemanusiaan dan berperiketuhanan.

Begitu urgennya hati, sehingga Sunan Bonang memperikan perhatian lebih pada dakwahnya agar manusia senantia mempunyai hati yang sehat, qolbun Saalimun yang berkonsukuensi pada baiknya seluruh jasad manusia baik dalam pengertian jasmani maupun ruhani, agar manusia terhindar dari hati yang sakit atau qolbun saaqimun yang tentu konsekuensinya merusak potensi jasmani dan ruhani seseorang.

Dalam sebuah Syair dinyatakan :
Hati adalah kerajaan jiwa yang harus kamu jaga
Dengan mengingat Pemiliknya
Cermin jiwa yang harus kau taburi dengan bunga dzikir
Dan kau rasakan kehangatan cahaya-Nya
Agar jiwamu yang gelap menjadi terang

Oleh karena itu dengan pendekatan tembang tombo ati seseorang diharapkan memiliki kesehatan hati yang prima dengan jalan terus menerus mengingat Sang pemilik Hati. Sunan Bonang kemudian membuat satu formula untuk mengobati hati dan selalu menjaga kesehatan hati itu dengan konsep tombo ati yang berisikan sebagaimana yang tertuang dalam tembangnya, yaitu :
1.      Membaca Al Qur’an sambil merenungkan maknanya
2.      Mendirikan shalat malam (tahajud)
3.      Berkumpul dengan orang sholeh
4.      Banyak berpuasa
5.      Senantiasa berdzikir kepada Allah SWT

Dari lima obat hati yang diracik dan ditawarkan oleh Sunan Bonang dalam bentuk tembang itu adakah yang berbeda dan tidak sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Hadits ? Tentu jawabannya tidak ada bukan ? Ini adalah kearifan dan kelapangan jiwa dari para wali dalam berdakwah sebagaimana yang saya tulis di atas yang tidak mementingkan tekstualitas dan formalitas semata.

Bayangkan saja jika kelima hal itu dapat kita kerjakan, kira-kira kita akan menjadi orang yang seperti apa ? tentu jawabannya menjadi orang-orang yang beruntung baik di dunia maupun di akhirat kelak. Qod Aflaha Man Zakkaaha, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya (Qs. Asy-Syams : 9)

Begitu pula jika kita tidak mampu melaksanakan ajaran-ajaran itu tentu kita akan merugi dunia akhirat karena sakit akut yang menimpa hati kita, sedang kita tidak mengambil obat dari apa yang telah diajarkan oleh Sunan Bonang. Wa Qod Khooba Man Dassaaha, “Dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya (Qs. Asy-Syams : 9). Joyojuwoto.

1 komentar: