Jumat, 13 Mei 2016

Sikap Tawadhu’

Sikap Tawadhu’

Ketika ditanya oleh seseorang tentang tawadhu’, Fudhail menjawab : “Tawadhu’ adalah kamu tunduk kepada kebenaran, dan patuh kepadanya sekalipun kebenaran itu kamu dengar dari anak kecil, bahkan sekalipun kamu dengar dari orang yang paling tidak tahu kiblatnya sholat.” Itulah salah satu definisi sikap tawadhu’ yang bersumber dari ulama zaman dahulu, mereka tidak pernah meremehkan sebuah kebenaran, tidak pernah memandang dari mana kebenaran itu bersumber, kebenaran tetaplah sebuah kebenaran sekalipun bersumber dari orang yang lebih kecil dari kita bahkan bersumber dari orang yang tidak benar sekalipun.
Abu Yazid berkata : “Selagi seorang hamba masih mengira bahwa diantara makhluk masih ada orang yang lebih buruk darinya maka ia adalah orang yang sombong.” Dikatakan kepadanya : Lalu kapan iamenjadi orang yang tawadhu’ ? Abu Yazid menjawab : “Apabila tidak memandang adanya kedudukan dan hal bagi dirinya.”
Begitulah ulama-ulama zaman dahulu menjadikan sikap tawadhu’ ini menjadi hiasan dan kemuliaan, walau mereka memiliki kedudukan yang tinggi secara keilmuan, maupun secara pangkat dan derajad namun hati mereka tunduk dan tawadhu’ kepada sesama. Tidak merasa paling benar, tidak menyombongkan pangkat dan kedudukannya. Dalam surat AL Hijr ayat 88 Allah SWT berfirman :
واخفض جناحك للمؤمنين (88)
Artinya : “Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.”
Begitulah Allah SWT menginginkan hamba-hambanya yang beriman untuk salah berendah diri terhadap orang mu’min lainnya, saling menjaga silaturahmi, menjaga ukhuwwah, dan saling berhusnudzon diantara mereka. Jika sikap tawadhu’ ini diterapkan maka persatuan umat Islam akan kuat dan kemuliaan seorang mu’min akan terjaga.
Namun lihatlah di era sekarang, antara satu mu’min dengan mu’min yang lain tidak ada lagi ketawadhu’an. Bahkan kata mu’min sudah jarang kita dapati, yang ada tinggal kelompok-kelompok seperti NU, Muhammadiyah, Syi’ah, Salafi, Wahabi, HTI dan kelompok-kelompok lain yang terpecah-belah dalam firqoh-firqoh yang saling menyalahkan. Persatuan umat Islam tercerai-berai dalam golongan-golongan. Mereka lupa akan nilai persaudaraan untuk saling mengasihi, saling menjaga silaturahmi, saling menghormati, dan saling menguatkan tentunya.
Oleh karena itu mari kita kembali pada sikap tawadhu’ yang telah dicontohkan oleh ulama-ulama zaman dahulu yang menjadikan tawadhu’ sebagai hiasan dalam berkehidupan, tidak mudah menyalahkan kelompok lain, saling mengkafirkan diantara orang-orang mu’min, dan saling menghormati dan menghargai diantara perbedaan-perbedaan yang ada. Jadikanlah perbedaan itu sebagai jalan rahmat yang perlu disyukuri bersama.
Cukuplah dengan tawadhu’ umat Islam mendapatkan kemuliaan, dengan lapang dada mendapatkan ketaqwaan, dan dengan keyakinan umat mendapatkan kejayaan. Mengesampingkan motif-motif duniawi untuk meraih ridho Tuhan, guna mewujudkan perikehidupan yang rahmatan lil ‘alamin. Dalam sebuah hadits Rosulullah SAW bersabda :
الكرم التّقوى, والشّرف التّواضع, واليقين الغنى
Artinya : “Kedermawanan adalah taqwa, kemuliaan adalah tawadhu’, dan keyakinan adalah kekayaan ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dunya. AL Hakim meng-isnad-kan bagian awal dan berkata : Sahih sanad-nya)
Mari bersama membangun kejayaan umat dengan ketawadhu’an, menghindari sikap merasa paling benar sendiri, saling menyalahkan, menghindari saling curiga sesama mu’min, dan tentunya meneladani sikap dan perilaku Rosulullah SAW, para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan para ulama salafus saleh yang menjadi panutan kita semua. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar