Kamis, 19 Mei 2016

Mengokohkan Tali Persaudaraan

Mengokohkan Tali Persaudaraan

Persaudaraan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup, di manapun kita tentu punya saudara baik itu saudara kandung, saudara dalam lingkar garis keturunan, ataupun saudara dalam arti yang lebih luas yang bersumber dari satu keturunan bapak Adam dan Ibu Hawa. Dalam Al Qur’an Allah SWT menyebut bahwa orang yang beriman itu bersaudara. Jalinan persaudaraan antara maupun diantara manusia sangatlah penting mengingat manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan relasi.

Jika al Qur’an mengatakan bahwa orang mukmin adalah bersaudara hal ini mengandung konsekuensi keimanan seseorang. Bahkan tidak sempurna iman seseorang hingga ia mengakui rasa persaudaraan itu, dan persaudaraan pun membutuhkan konsekuansi-konsekuensi yang harus dipatuhi oleh seorang hamba yang beriman.

Namun sayang rasa persaudaraan diantara sesama orang beriman mulai tampak melemah dan kendor, indikasinya sangat kelihatan sekali  di era ini, karena beda kepentingan, beda partai, beda ormas, beda tahlil atau tidak,  beda qunut atau tidak qunut telah menyulut tali permusuhan diantara orang-orang yang seharusnya saling menjaga tali persaudaraan Ukhuwwah Islamiyah.

Tidakkah kita ingat betapa Rosulullah SAW dengan para sahabat Muhajirin dan sahabat Anshor yang saling menjaga tali persaudaraan diantara mereka. Mereka bagai sebuah bangunan yang saling menguatkan, jika salah satu dari mereka sakit seakan-akan lainnya merasakan sakit yang sama. Dan kisah ini bukan hanya isapan jempol semata. Inilah salah satu faktor yang menjadikan dakwah Islam di Madinah mencapai puncak kegemilangannya. Mereka saling mengutamakan kepentingan saudaranya dibanding kepentingannya sendiri. Lihatlah betapa hebatnya Abu Bakar saat bersama Nabi pergi hijrah ke Madinah, Abu Bakar sangat mengkhawatirkan keselamatan Nabi dibanding keselamatannya sendiri. Tengoklah bagaimana Abu Ayyub Al-Anshari mengutamakan Rosulullah untuk menempati rumahnya, dan betapa indahnya kata-kata Abdurrahman bin Auf ketika ditawari rumah beserta harta bendanya oleh salah seorang sahabat Anshor.

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي اَهْلِكَ وَمَالِكَ وَدُلَّنِىْ عَلَى السُّوْقِ
“Semoga Allah memberikan berkat padamu, keluargamu, dan hartamu, tunjukkan aku pasar”

Betapa indahnya jalinan persaudaraan yang telah dicontohkan oleh generasi Anshor dan Muhajirin ini di madrasah yang langsung dididikoleh Rosulullah SAW.
Rosulullah SAW bersabda :
من رضي من الإخوان بترك الإفضال فليؤاخ أهل القبور

Artinya : “Barang siapa rela tidak mengutamakan saudara maka hendaklah ia bersaudara dengan penghuni kubur”

Begitu kerasnya Rosulullah SAW memberikan perumpamaan bagi orang yang tidak mau mengutamakan kepentingan saudaranya, sehingga beliau menyuruh orang yang seperti itu lebih baik bergaul dengan penghuni kubur saja.


Oleh karena itu jangan karena hal-hal yang khilafiyah saja kita sesama umat Islam saling bermusuhan, saling berhdap-hadapan, saling menjatuhkan.  Karena pada dasarnya kita telah meyakini bersama bahwa perbedaan-perbedaan adalah sebuah rahmat dari Tuhan. Mari kembali hidupkan tali persaudaraan agar kejayaan umat segera didapat. Mari saling memaafkan segala kesalahan-kesalahan saudara kita, Jauhi prasangka, jauhi sikap saling menghakimi, dan jadilah setitik  cahaya yang menerangi gelap-gulitanya peradapan.  Salam Ukhuwwah dan Salam Cinta dari Saudaramu. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar