Selasa, 12 April 2016

Menjadi Pribadi Yang Benar

Menjadi Pribadi Yang Benar

الصدق منجّ

“Kebenaran adalah  Keselamatan

Siddiq berasal dari shadaqa yang memiliki makna cukup banyak diantaranya : benar, nyata, berkata benar, dan juga diartikan sebagai kejujuran. Walau sebenarnya jika diarti sebagai kejujuran sendiri kurang begitu tepat, namun kata jujur juga termasuk di dalam pengertian siddiq. Siddiq adalah puncak dari kebenaran, hakekat dari kebaikan, serta bagian yang tak terpisahkan dari keimanan seseorang.

Sifat siddiq ini adalah iri, karakter, serta pemikiran yang utama bagi seorang Rosul, oleh karena itu sifat ini menjadi salah satu dari sifat wajibnya para Rosul yang mulia. Tidak mungkin seorang Rosul tidak memiliki sifat ini. Dalam Al-Qur’an setidaknya Allah SWT tiga orang nabi dan rosul-Nya yang memiliki sifat siddiq. Pertama Nabi Ibrahim yang termaktub dalam surat Maryam ayat : 41 Allah berfirman :
واذكروا في الكتاب إبراهيم إنّه كان صدّيقا نبيّا

41. Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan[905] lagi seorang Nabi.

Kedua adalah Nabi Idris yang disebutkan dalam firman Allah surat Maryam ayat : 56 yang artinya :
   
56. dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi.

Dan yang ketiga adalah penyebutan siddiq pada Nabi Yusuf AS karena penolakan Yusuf atas ajakan Zulaikha untuk berzina sebagaimana yang tertulis dalam surat Yusuf ayat : 51 artinya :

51. raja berkata (kepada wanita-wanita itu): "Bagaimana keadaanmu[755] ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?" mereka berkata: "Maha sempurna Allah, Kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya". berkata isteri Al Aziz: "Sekarang jelaslah kebenaran itu, Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan Sesungguhnya Dia Termasuk orang-orang yang benar."

Sifat siddiq ini menjadikan Nabi Ibrahim dan Nabi Idris dipuji oleh Allah SWT, begitu juga sifat siddiq ini menyelamatkan Nabi Yusuf dari tipu-daya Zulaikha. Sifat siddiq yang menceritakan tentang ketiga Rosul di atas tidak sepenuhnya berkaitan dengan kejujuran, namun lebih mengarah kepada sikap percaya pada kebenaran serta keyakinannya akan Ketuhanan. Karena akhir dari siddiq adalah keselamatan karena tetap berpegang teguh pada kebenaran itu sendiri.


Begitulah seorang mu'min yang sejati diajari untuk benar kepada Tuhannya, benar kepada dirinya sendiri, benar kepada orang lain, benar kepada keluarganya, benar kepada tetangganya, bahkan benar kepada orang yang menjadi musuhnya. Sebagaimana Nabi Ibrahim yang meyakini kebenaran akan Ketauhidan, yang menjadikannya menentang Raja Namrud dan ia harus dihukum bakar. Namun sifat siddiq telah menyelamatkan Nabi Ibrahim dari kobaran api itu.

Sifat siddiq juga dipegang teguh oleh Nabi Idris, yang menjadikan beliau diusir dari negerinya dan dikejar-kejar untuk dibunuh oleh raja yang dzolim. Begitu pula yang terjadi pada Nabi Yusuf beliau tetap berpegang teguh pada kebenaran Tuhan walau berada di tengah-tengah godaan yang meremuk-redamkan keimanannya namun Yusuf tegar walau ia harus masuk penjara.

Bagaimanapun keadaan kita hendaknya selalu tegar dalam kebenaran karena sesungguhnya kebenaran itu adalah dari Tuhan, maka hendaknya kita jangan ragu. 'AL HAQQU MIN ROBBIKA FALA TAKUUNANNA MINAL MUMTARIN' Kebenaran itu  dari Tuhan kamu, maka janganlah kamu menjadi orang yang ragu. Karena kebenaran mampu membawa pelakunya kepada kebajikan, dan kebajikan akan menuntun pelakunya menuju jalan keselamatan yaitu jalan ke surga.

Cukuplah firman Allah Surat at taubah ayat : 119 menjadi dasar kita untuk menjadi seorang mukmin untuk terus memiliki sifat benar dan selalu bersama orang-orang yang benar. Allah SWT berfirman yang artinya : 

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (At Taubah :119). Joyojuwoto



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar