Senin, 04 April 2016

Ilmu itu di dada bukan di lembaran kertas

العلم في الصدور لا في الستور
Artinya : Ilmu itu di dada bukan di lembaran kertas

Banyak orang menyangka bahwa orang yang berilmu itu yang menguasai ribuan teori dari ribuan buku yang ia kumpulkan. Sehingga banyak orang yang beranggapan bahwa jika ada orang yang memiliki koleksi buku yang banyak ia dianggap sebagai orang yang berilmu. Tidak heran memang jika seseorang pulang dari mondok almarinya akan dipenuhi berbagai macam kitab kuning, gundul pula, atau seseorang yang baru lulus dari perguruan tinggi biasanya berfoto dan belakangnya ada ilustrasi tumpukan buku yang tebal-tebal, atau hal-hal lain yang mewakili bahwa dia adalah seorang yang menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Seseorang akan dianggap berilmu jika  bisa menunjukkan dalil mengenai suatu permasalahan dari kitab ini dan itu, mengutip pendapat dari si professor sana-sini, atau menuliskan quote-quote yang bermacam-macam, update status di medsos yang memukau dan lain sebagainya. Kesemuanya itu memang tidak selamanya salah, namun juga belum tentu kesemuanya benar.

Mungkin benar seseorang hafal di luar kepala dalil-dalil, atau kutipan-kutipan, serta status medsosnya dipenuhi kata-kata ilmiah nan wah, namun kesemuanya itu mungkin masih berupa tetesan-tetesan tinta, masih tulisan-tulisan di tataran kertas, baru fisiknya ilmu dan belum mencakup ilmunya itu sendiri. Sederhananya ilmu itu belum dijiwai dalam dada seseorang. Ilmu itu belum menjelma menjadi cahaya yang mencerahkan dan menerangi relung-relung jiwa si pemilik ilmu.

Berapa banyak orang pintar di negeri ini, namun pada kenyataannya ilmunya tidak memberikan efek apapun bagi dirinya. Ibarat air yang disiramkan di padang pasir yang tandus yang tidak meninggalkan bekas, hilang musnah tertelan ketandusan padang hati nuraninya.

Berapa banyak para pejabat publik di negeri ini yang tersandung kasus-kasus tindak pidana korupsi, nepotisme, khianat kepada  rakyat dan justru mereka bukanlah orang-orang bodoh yang tidak berilmu. Mereka bahkan pakar di bidangnya, mereka orang-orang yang bertitel yang menunjukkan tingkat pendidikannya, namun keilmuannya tidak mampu menyelamatkannya dari tindakan yang tidak terpuji. Ilmunya masih sebatas di lembaran kertas dan belum berada di kedalaman dadanya.

Di dalam sebuah hadits Rosulullah SAW bersabda : “Attaqwa Hahuna, Attaqwa Hahuna, Attaqwa Hahuna” Taqwa itu di sini, taqwa itu di sini, taqwa itu di sini, sabda Nabi sambil menunjuk ke arah dadanya. Jadi suatu sikap taqwa itu tidak hanya sekedar teori semata, lebih daripada itu taqwa adalah apa-apa yang telah kita yakini di dalam dada kita, di dalam jiwa kita yang mengalir bersama detak jantung, mengalir bersama aliran darah, bersenyawa dengan hembusan nafas. Itulah ilmu yang sebenarnya, bukan hanya di mulut, bukan hanya sekedar di lembaran-lembaran kertas saja. “Al ‘Ilmu Fissudur La Fissutur” Joyojuwoto.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar