Kamis, 17 Maret 2016

Hijrahnya Rosulullah SAW ke Madinah

Hijrahnya Rosulullah SAW ke Madinah

Dalam proses Dakwah Islam Rosulullah SAW pernah dua kali berhijrah, yang pertama adalah hijrah ke Thaif yang terjadi pada tahun ke 10 kenabian. Karena di Thaif Rosulullah SAW tidak mendapatkan sambutan yang baik bahkan beliau diusir  dari kota itu maka Rosulullah SAW kembali ke Makkah. Selanjutnya pada tahun ke 11 kenabian Rosulullah SAW menemui kabilah Haji dari sebuah kota yang dikenal dengan sebutan kota Madinah dari kota inilah dakwah Rosulullah SAW diterima dengan baik oleh kabilah Khazraj dan Aus.

Pada tahun-tahun berikutnya yaitu tahun ke 12 dan tahun Ke 13 kenabian, masyarakat Madinah telah memberikan baitnya kepada Rosulullah dan mengajak agar beliau hijrah dari Makkah ke Yatsrib. Akhirnya secara perlahan umat Islam Makkah pergi meninggalkan kampung halamannya untuk hijrah ke kota Yatsrib.

Menurut imam al-Bukhori yang pertama kali hijrah ke Madinah adalah Mush’ab bin Umair dan Abdullah ibn Umi Maktum, sedang menurut Ibnu Hajar yang pertama kali hijrah adalah Abu Salamah ibn Abdil Asad. Sebenarnya perbedaan ini terletak pada makna dan nilai dari hijrah itu sendiri. Menurut ibnu Hajar Abu Salamah berangkat hijrah bukan dalam rangka menetap di sana, sedang Mush’ab hijrah dan kemudian menetap di Madinah untuk mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat.

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan Rosulullah SAW mengajak umat Islam untuk hijrah ke Madinah adalah :
1.       Cobaan dan tekanan yang kuat dari kafir Quraiys
2.       Adanya jaminan keamanan dan perlindungan bagi kelangsungan dakwah Islam
3.       Kaum Kafir Quraiys selalu mendustakan ajaran Islam
4.       Kekhawatiran akan terjadinya petaka bagi agama
5.       Diizinkannya umat Islam untuk berperang

Faktor-faktor di atas itulah yang menjadi alasan bagi umat Islam untuk segera meninggalkan Makkah menuju Madinah, selain faktor perintah dari Allah SWT tentunya.

Dalam sebuah hadits Rosulullah SAW mengabarkan bahwa umat Islam yang tertindas dan tanpa pelindung di Makkah akan mendapatkan saudara dan pelindung di kota Madinah sebagaimana yang beliau sabdakan :
انَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ جَعَلَ لَكُمْ اِخْوَانًا وَدَارًا تَأْمَنُوْنَ بِهَا
“Sesungguhnya Allah telah menyediakan buat kamu saudara (pelindung) dan tempat hijrah yang aman (Yatsrib).”

Banyak sekali keterangan maupun hadits yang menjelaskan keutamaan hijrah diantaranya yang disebutkan oleh Rosulullah SAW ketika beliau ditanya oleh seorang Badui mengenai hijrah, maka beliau menjawab : “Hal ini karena Islam tidak akan tegak berdiri kecuali setelah memiliki sebuah negara sendiri yang berdaulat. Sementara itu suatu negara akan berdiri tanpa adanya tanah, wilayah, dan penduduk yang mau mentaati dan mematuhi perintah pemimpinnya.

Begitu pentingnya proses hijrah ini hingga Amirul Mukminin Umar bin Khattab menjadikan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW sebagai awal kalender Islam. Peristiwa hijrah menjadi tonggak kebangkitan dan kejayaan umat Islam pada fase-fase selanjutnya, tanpa hijrah mungkin umat Islam akan terus terkungkung dalam belenggu penindasan dan penganiayaan kafir Quraiys di Makkah hingga ajaran Islam tidak bisa berkembang luas, bahkan mungkin akan mati di negerinya sendiri.

Oleh karena itu sebagai seorang muslim mari menjadikan momentum hijrah sebagai kebangkitan dan kejayaan umat, hijrah dari kebodohan menuju cahaya ilmu, hijrah dari kemaksiatan menuju ketaatan, karena hijrah bukan hanya sekedar  berpindah tempat namun hijrah juga berkonotasi perpindahan dari kungkungan belenggu nafsu menuju kemerdekaan berfikir dan beramal buat kebaikan bersama. Sekian. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar