Selasa, 15 Maret 2016

Bunda You Are My Heroes

Bunda You Are My Heroes
Oleh : Dwi pangestutik 

“Ayah... jangan pergi ayah” aku menangis dengan ku goyang goyangkan tubuh orang yang paling kucintai, yang kini memejamkan matanya dan  tak kan terbangun dari tidurnya. Langit siang itu seolah olah mengikuti kesedihanku. Dia mendung, mataharipun tak tampak siang itu. “Bia, udah nak... jangan nangis terus, kasian nanti ayah mu, nggak tenang nanti ninggalin kita” ucap bundaku dengan mencoba menenangkanku.
Aku masih terus menangis, ku pandangi wajah bunda begitu tampak ketegaran dan keikhlasan yang begitu mendalam.setelah selesai ayah di makamkan, rumah yang tadinya ramai kini menjadi sepi, kuratapi nasibku sekarang aku menjadi seorang anak yatim. “Bia.. kok kamu masih nangis” bunda masuk kekamarku dengan membawa semangkuk nasi beserta lauknya. Ya begitulah kami, hidup di dalam kesederhanaan, bahkan ayah meninggal mungkin karena waktu ayah sakit, ayah masih memaksakan diri untuk menarik becak. Demi mencari uang untuk makan sehari hari, sedangkan biaya sekolahku semua gratis, beasiswalah yang membantuku hingga kini aku duduk di kelas 2 SMA.
“Apa Bunda sudah makan..??” tanyaku menyeka air mataku. “ Udah nak,sekarang tinggal kamu kan yang belum makan..??”. ku tatap lekat lekat wajah bunda,aku tahu bunda selalu jujur dalamberkata, jadi kalau bunda bohong sedikit saja pasti kelihatan. “Bunda bohong” ucapku sinis.
“Tidak nak... Bunda tidak bohong, Bunda memang sudah makan”. “Kalau gitu Bunda temenin Bia makan”. Bunda duduk di kasur dan memulai menyuapkan 1 sendok ke mulutku, akupun bergantian menyuapi bunda, awalnya bunda menolak,tapi aku paksa, karena aku tahu bunda rela tidak makan asalkan anaknya ini kenyang.
Seminggu setelah kepergian ayah, Bundalah yang menggantikan posisi ayah menarik becak, aku kasian dengan bunda.“Bunda ini bia buatin teh buat bunda”. Kusodorkan secangkir teh kehadapan bunda. Bunda menerima dengan senyuman. Bunda meneguk teh buatanku, setelah meneguk Bunda meletakkan tehnya di meja sampingnya. Aku jongkok di hadapan Bunda. “Bunda gimana kalau setelah SMA, Bia langsung kerja...???”. bunda membelai rambutku seraya berkata “Tidak sayang, kamu harus kejar cita- citamu menjadi seorang sarjana, lalu amalkan ilmumu di masyarakat nak..”, ku pandangi wajah bunda, ternyata bundaku ini masih cantik, hidungnya mancung dan matanya begitu indah, umurnya baru 35 tahun, pantas saja pak Yanto juragan beras 2 hari lalu datang kerumah, untuk meminang Bunda menjadi istri keduanya.
Namun bunda tenang dan hanya menjawab “Dalam islam tidak di perbolehkan seorang istri menikah setelah di tinggal mati suaminya  sebelum masa iddahnya selesai”. Kata bunda semua itu hanya godaan seorang janda. “Tapi bun... biarkan Bia membantu perekonomian keluarga”. “Bia,, dengerin bunda, alangkah marahnya ayahmu kelak, jika bunda tidak berhasil mewujudkan cita-cita anaknya, bahagiakan bunda dan ayahmu di surga sana dengan prestasimu nak” ucap bunda dengan lembut.
“Bunda,,” Ucapku manja hingga tanpa terasa air matakupun mengalir. “kok nangis lagi, udah masuk sana sekarang udah malam, kamu tidur aja biar besok bangunnya nggak telat”. “iya bunda” ku hapus air mataku dan berdiri, sebelum beranjak pergi ku cium kedua pipi bunda “I LOVE YOU BUNDA, YOU ARE MY EVERYTHING”. Kemudian aku masuk kamar dan tidur.
Tanpa terasa sudah 1,5 tahun ayah meninggalkan kami, disekolah tadi bahwa Ujian Nasional setiap anak di wajibkan harus membayar 1 juta. Aku bingung dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu. Aku nggak tega kalau harus meminta pada bunda, makan sehari-hari ada bundapun sudah senang. Ya ALLAH,,,,bantulah hambamu ini. “DOOOR,,,” Ulfa datang dengan mengagetkanku saat aku duduk di taman sekolah, “apa’an sih fa....??? ngagetin aja”. “abis aku lihat kamu ngelamun terus, emang kenapa...??”. “Ulfa darimana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu...??? sedangkan hasil bunda menarik becak hanyacukup buat makan” aku mulai ceritakan semua pada ulfa, hingga tanpa terasa air mataku mengalir. Ulfa adalah teman seperjuangankun dari SD kita bersama, namun kita beda nasib, Ulfa anak orang kaya sedangkan aku hanya anak tukang becak. Tapi meski begitu aku bangga dengan apa yang aku punya meski itu hanya Bunda dan Ayah, Bundalah pahlawan yang sesungguhnya.Bunda mengajari aku segalanya, mengjari aku untuk selalu sabar dan kuat hidup di bawah, karena kata Bunda “Hidup di bawah adalah awal untuk kita merangkak hingga pada akhirnya tiba di atas”.
Setelah aku cerita kuperhatikan Ulfa, ternyata dia ikut menangis. “Kamu yang sabar ya Bi..” ucap ulfa mengelus pundakku. “iya fa, aku mau pulang dulu ya fa” “aku ikut ya aku kangen sama Bunda”. Aku dan ulfa ke rumahku naik mobilnya  ulfa.
Kurang lebih 15 menit kita tiba di rumahku, “BUNDA” ucapku kaget saat ku lihat bunda di dorong oleh 2 orang pria besar, dengan cepat-cepat aku dan ulfapun menyusul “Astaghfirullah... Bunda” ku bantu bunda berdiri. “apa maksud kalian nggak sopan dengan Bundaku” Bentakku pada ke2 pria itu. “kamu tanya kenapa kami bersikap seperti ini, mestinya kamu yang tanya sama bundamu, kenapa dia tidak melunasi hutang-hutangnya kepada juragan Yanto” ucap salah satu pria itu. “hhhhaahhhh sudah ku duga sebelumnya pasti ada hubungannya dengan juragan itu” ucap batinku. Aku, Bunda dan Ulfa hanya terdiam. “Baiklah kami kasih waktu 1 minggu lagi” ucap pria itu lagi lalu pergi. “Bunda gak papakan...??” ucapku. “tidak papa nak..” jawab bunda lemas. “bunda, Bia kan sudah sering bilang sama bunda jangan lagi berurusan dengan juragan tua itu, dia itu menolong tapi ujung-ujungnya pasti ada maunya kan..??” ucapku dengan nada tinggi. “ma’afin Bunda Bi...” ucap Bunda dengan menangis. “udahlah bun, sekarang bunda masuk ya” ku suruh bunda masuk kedalam rumah. Bundapun menuruti omonganku.
“Lalu gimana Bi sekarang...???” tanya Ulfa. “apanya yang gimana fa...???, aku nggak mungkin masalah bayar membayar cerita sama bunda, kalau keadaan bunda sekarang seperti ini, dan aku juga nggak mau meski hidup serba kecukupan tapi harus dengan ayah tiri... Aku nggak mau... Segini beratkah cobaanku Ulfa” ucapku dengan menangis. “sabar ya.. semua ini pasti ada akhirannya”. “iya Fa... och iya aku boleh minta tolong...???” ucapku. “iy Bi... minta tolong apa..??” aku yakin keluarga ulfa pasti mau membantuku. “tolong bilang sama papamu, aku pinjam uang 5 juta, 1juta untuk membayar ujian dan yang 4 juta buat bayar hutang ke juragan”. “baiklah bi.. kalau gitu aku pulang dulu ya” ucap ulfa. “iya fa hati-hati” ulfa pulang kerumahnya dan akupun masuk kedalam rumah.
Esoknya Ulfa meminjami aku uang senilai yang aku butuhkan. Setelah pulang sekolah aku dan ulfa pergi kerumah juragan Yanto untuk membayar hutang.
2 bulan kemudian aku lulus dengan nilai yang hampir sempurna, ini semua berkat usaha kerasku beserta do’a dariku dan juga bunda. Dan semenjak hutang-hutang kami ke pak Yanto lunas, dia tidak berani lagi menginjakkan kakinya kerumah kami. Akupun daftar ke UNIVERSITAS ISLAM NEGERI lewat jalur SMPTN, Alhamdulillah... aku berhasil.  Aku sibukkan diriku dengan kegiatan kampus dan juga kerja sebagai baby sister di rumah tetangga

            ***** **** ****        *********      *******                      *****************************
4 tahun berlalu akhirnya hari ini aku wisuda “Bunda...ayo bun” ucapku dengan gugup, karena aku tak mau ketinggalan acara sakral ini. “nak, kamu berangkat saja, apa kamu nggak malu jika nanti teman-teman mu mengejekmu, bia mahasiswi di kampus ini ternyata anak seorang tukang becak”. “menurut bunda siapa yang seharusnya malu, Bia kuliah dengan jelas-jelas itu dengan keringat bundanya, atau mereka yang kuliah dengan hasil korupsi...??” bunda malah tersenyum mendengar ucapanku. “Bunda bangga nak dengan kamu”. “ach bunda... udah yuk anterin bia”. Akhirnya bundapun mau ikut keacara wisudaku dengan mengendarai becak.
Sesampainya tiba dikampus, alhasil para mahasiswa dan tamu yang berada di parkiran langsung memperhatikan kami. Dengan percaya diri aku langkahkan kaki dan ku gandeng lengan bunda masuk ke aula wisuda. Tak ada rasa minder sedikitpun, toh aku juga mahasiswa disini, aku juga pake kebaya dan juga baju toga sama seperti yang lain. Saat prosesi wisuda dimulai lagi-lagi kubuat air mata Bunda menetes, namun air matanya kali ini adalah air mata kebahagiaan, karena aku masuk 10 besar mahasiswa terbaik. Alhamdulillah ya ALLAH.... “nak bunda bangga dengan kamu” ucap bunda senang. “pasti Ayahmu saatini juga bahagia, karena anaknya ini pintar”lanjut bunda. Aku hanya tersenyum dan membayangkan andai ayahku ada disini pasti beliau juga ikut berbahagia bersama kami. Aku pegang kedua tangan bunda dan berkata “Terima kasih ya Bunda, berkat perjuangan bunda selama ini akhirnya Bia bisa kuliah hingga kini wisuda, terima kasih ya bunda. Bunda adalah pahlawan sejati bagi Bia, bia sayang dan cinta banget sama bunda. Bunda  you are my everything”. “Bia...” bunda tak mampu berkata-kata dan langsung memelukku.
Terima kasih bunda, jasamu takkan pernah bisa aku balas. Dan kini hidupku bahagia bersama bunda, aku menggantikan posisi bunda sebagai tulang punggung keluarga, dengan bekerja sebagai sekretaris direktur di sebuah perusahaan.
Jika aku di tanya, siapa sosok yang paling berharga dan yang paling aku cinta.....???? Maka jawabanku adalah BUNDA

I LOVE YOU BUNDA.. YOU ARE MY HEROES... THANK YOU VERRY MUCH BUNDA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar