Rabu, 24 Februari 2016

Seindah Sakura di Langit Nusantara

Seindah Sakura di Langit Nusantara

Bunga Sakura memang indah dan sedap dipandang mata, begitu pula yang saya rasakan ketika membaca lembar demi lembar buku yang ditulis oleh Suyoto Rais. Seperti sedang menikmati kesegaran dan keindahan lembar demi lembar kelopak bunga Sakura yang mempesona, tiada bosannya saya menikmati buku yang berisi kisah inspiratif perjuangan anak desa dari Jojogan Singgahan Kab. Tuban yang akhirnya menjadi seorang profesional global yang handal.

Walau telah sukses menjadi orang penting dibeberapa perusahaan ternama di Jepang Suyoto Rais tidak lupa diri, dari berbagai pengalamannya malang-melintang di dunia global justru menjadikannya semakin matang dan menjadi pribadi yang unggul. Cobaan dan ujian hidup yang dialami Pak Suyoto semenjak dari kecil semakin mengokohkan kedewasaanya, begitu beberapa pesan yang bisa saya tangkap  dari buku beliau.

Merasa ikut bangga menjadi orang Tuban ketika pertama kalinya saya ketemu walau hanya sepihak dengan Pak Suyoto, saat beliau mengisi Simposium Nasional yang digelar oleh Pemkab Tuban di Pendapa Kridha manunggal yang mengambil tema : “Prospek dan Rencana Pembangunan Ekonomi Lokal Menuju Tuban Yang Semakin Maju dan Sejahtera.”

Sepulang dari simposium itu saya terobsesi dan membayangkan bahwa di Tuban nantinya basis ekonomi lokal dikuatkan sehingga mampu mensejahterakan masyarakat. Inilah hebatnya Pak Suyoto menurut saya, beliau yang sudah duduk nyaman dan mapan luar negeri serta menjadi orang penting ternyata punya pemikiran untuk bali kampung, “Demi Indonesia Aku Kembali” begitu tulis beliau di salah satu sub judul bukunya. Pak Suyoto kembali ke Indonesia bukan agar beliau diangkat menjadi salah satu pejabat penting di negeri ini, beliau dengan tulus ingin mengabdikan apa yang ia punya untuk Indonesia.

Oleh karena itu beliau dengan beberapa koleganya mendirikan organisasi Formasi-G sebuah Forum Masyarakat Indonesia Berwawasan Global (Indonesian Forum For Global Vision). Forum ini dibentuk bersama untuk menyambut gempita globalisasi yang juga mulai masuk ke Indonesia. Target akhir yang ingin dicapai Formasi-G agar seluruh kecamatan minial memiliki satu klaster Industri Rakyat yang nantinya klaster-klaster itu akan bersinergi meningkatkan daya saing produk-produk dan SDM Indonesia untuk menghadapi globalisasi dunia.

Riilnya program Formasi –G di Tuban seperti apa yang dipaparkan dalam simposium di Pendapa kemarin akan menggandeng Pemkab untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan di wilayah Kabupaten Tuban untuk menginventarisasi sektor mana yang perlu dikembangkan dan menjadi produk unggulan lokal. Contohnya  dalam bidang pertanian selama ini ketela dan kelapa belum dimanfaatkan secara maksimal, karena sektor pertanian di Tuban dibidang ketela misalnya masih sebatas tanam, panen, dan dijual masih dalam bentuk bahan mentah. Sehingga nilai ekonomisnya rendah. Jika produk ketela ini disentuh dengan teknologi industrialisasi, tentu ketela akan menjadi produk yang bernilai ekonomis tinggi.

Sementara produk turunan ketela di Tuban masih tradisional seperti menjadi kripik, gethuk, pathi/tepung, dan segala macam makanan tradisional lainnya yang harganya rendah. Seiring dengan penemuan-penemuan baru dalam bidang inovasi industri pangan ada secercah harapan bagi masyarakat, karena pakar-pakar ilmuan di negeri ini mampu mengolah ketela menjadi produk unggulan yaitu MOCAF (Modified Casava Flour).

Adalah Prof. Dr. Acmad Subagio Superhero dari Jember seorang dosen, ilmuwan, inovator dan seorang pengusaha yang berhasil menemukan tepung singkong yang diberi nama MOCAF.  Tepung ini bisa menggantikan peran tepung gandum yang Indonesia sepenuhnya mengimpor. Tepung MOCAF dapat digunakan sebagai bahan baku dari berbagai jenis makanan, mulai dari mi, bakery, cookies, dan lain-lainnya. Jika pemerintah dengan kebijakannya mampu menekan impor gandum dan mengembangkan MOCAF untuk industri makanan tentu ketela akan menjadi primadona di negeri ini.
Kita berutang budi pada orang-orang yang bekerja keras penuh kreasi dan inovasi untuk kemakmuran negeri ini. mereka-mereka patut  kita jadikan contoh dan teladan untuk membangun negeri.


Suyoto Rais dalam buku yang ditulisnya “Seindah Sakura di Langit Nusantara” membagikan kisah inspiratifnya, beliau bukan hanya sekedar menulis kisah romansa hidupnya namun beliau telah membagikan separuh energi kebaikan untuk anak cucu negeri ini. semoga kisah kita bisa meneladaninya demi dan untuk Indonesia tercinta. Joyojuwoto.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar