Senin, 15 Februari 2016

Penderas Legen

Penderas Legen

http://gallery.indonesiaimages.net/
Angin pegunungan Kendeng utara bertiup ribut, langit senja di perbukitan Banyulangse tampak muram, guntur di langit meledak-ledak bagai suara anak-anak bermain mercon di bulan ramadhan. Dengan agak tergopoh-gopoh seorang lelaki tua memanjat pohon siwalan di sebuah kebun di belakang perkampungan. Pohon itu sudah berusia puluhan tahun, besarnya serangkulan orang dewasa tinggi angkuh menantang langit, dahan-dahannya gemulai diterpa angin, menari-nari seperti lengan penari tayub yang luwes menggerakkan kain sampurnya.
Dengan sangat cekatan lelaki tua itu menaiki pohon yang akan diderasnya guna diambil airnya. Air derasan pohon siwalan bisa dibuat sebagai minuman tradisional yang lezat dan menyehatkan, masyarakat setempat menyebutnya legen. Menurut kepercayaan masyarakat yang turun temurun legen bisa digunakan obat untuk menyembuhkan sakit maag akut dan melancarkan buang air kecil, konon legen dapat menghancurkan endapan zat kapur di kandung kemih yang menjadi penyebab kencing batu.  Selain itu air derasan pohon siwalan juga bisa dibuat gula merah dan juga dapat dipakai untuk melancarkan ASI bagi ibu menyusui. Daunnya oleh masyarakat dibuat kupat, makanan berbentuk segi empat yang dibuat dari beras yang direbus. Biasanya kupat disajikan dengan kuah opor ayam dan dibuat pada saat-saat tertentu, seperti saat hari raya, saat upacara kupatan sapi dan lain sebagainya.
“Aku harus segera mengambil dan menurunkan bumbung-bumbung itu, sebelum air hujan memenuhi dan merusak hasil derasanku tadi pagi” gumam Mbah Kardi pada dirinya sendiri.
Dengan agak tergesa lelaki tua itu mengambil bumbung-bumbung bambu berisi air legen untuk dibawa turun. Satu dua bumbung diambilnya dan di talikan diikat pinggang sebelah kiri dan kanannya. Ia harus berlomba cepat dengan rintik hujan yang mulai menerpa daun, ranting, cabang, dan dahan pepohonan. Kaki tua yang keriput itu mulai  menuruni pohon bergantian kiri dan kanan, saat sampai di pertengahan pohon tiba-tiba kaki Mbah Kardi terpeleset.
Aaauhh... !!!
Tubuh Mbah Kardi melayang ke bawah dan brukk.... !!!  tubuh lelaki renta itu menghantam tanah, tak ada lenguhan karena ia langsung pingsan. Air legen yang dibawanya tumpah bercampur dengan rintik hujan yang semakin rapat. Senja semakin kelam dan beku, lengkung cakrawala barat mulai gelap dan aroma malam mulai mencekam.
Tetes-tetes air hujan membangunkan mbah Kardi dari pingsannya, ia menggeliat bergerak pelan. Mbah Kardi dengan tertatih memberesi bumbung-bumbungnya yang berserakan di tanah yang basah. Tidak ada sedikitpun air derasannya yang tersisa seluruhnya tumpah ke tanah.
Pagi yang sepi matahari tampak malas menebarkan pendar-pendar sinar keemasannya, dinginnya sisa-sisa hujan semalam masih terasa membuat penduduk kampung Banyulangse masih setia menunggui tungku di dapur rumahnya masing-masing. Mereka enggan keluar dari rumah untuk beraktifitas dan memilih menunggu matahari beranjak dari peraduannya menebar sinar pagi, menghangatkan suasana.
Sebuah gubuk kecil di pinggiran kampung di tepat berada di dekat sungai tampak masih gelap tiada sinar lampu yang menerangi, di gubuk itulah Mbah Kardi tinggal bersama istrinya yang juga sudah tua, Mbah Jinem.
“Doke, pagi ini kita tidak punya beras, nanti kalau jalanan sudah tidak becek saya ke grumbul di seberang sungai untuk mencari tales” Kata Mbah Kardi kepada istrinya yang dipanggilnya Doke, dari kata Mbah Wedok.
“Nange, apa kuat mencari tales, jalan saja tertatih-tatih begitu” jawab Mbah Jinem memanggil suaminya Nange, yang berasal dari kata Mbah Lanang.
“Lha gimana lagi Doke, pagi ini kita tidak bisa mendapatkan upah menderas dari juragan Samo, derasanku tumpah saat saya terjatuh tadi sore, bahkan kita punya tanggungan hutang dua bumbung kepada juragan Doke”
“Nanti saya tak ke hutan untuk mencari daun-daun jati Nange, semoga daun-daunnya tidak banyak dimakan ulat sehingga bisa dijual ke pasar, hasilnya nanti kita belikan beras”
Mbah Kardi dan mbah Jinem adalah pasangan renta yang mengandalkan hidupnya dari upah tetangganya yang minta tolong untuk di deraskan pohon siwalan, atau kadang Mbah Jinem yang mencari daun-daunan di hutan untuk dijual di pasar atau diminta oleh pedagang rengkek di kampungnya. Walau sudah renta pantang bagi pasangan itu untuk meminta-minta dan berharap belas kasihan orang lain, selagi ada tenaga mereka berdua tetap bekerja sebisanya.
Selama nafas masih di badan tentu Gusti Allah masih memberikan jatah rizki kepadanya, begitu keyakinan mbah Kardi. Baginya sesuap nasi bisa dinikmati bersama sang istri sudahlah cukup untuk ia syukuri,  pakaian  yang ia punya pun ibarat yang menempel di badan, namun tak mengapa semua sudah lebih dari cukup. Yang terpenting baginya ia mampu menghadirkan rasa cukup dan syukurnya kepada Tuhan. Hal-hal itulah yang sebenarnya terus menguatkan mbah Kardi dan Mbah Jinem untuk terus ada walaupun dalam ketiadaan.
Banyak tetangga-tetangganya yang menggunakan  tenaga dan keahlian mbah Kardi untuk memanjat siwalan, walau sudah beberapa kali mbah kardi jatuh dari pohon. Orang-orang menganggap mbah kardi adalah salah seorang pemilik ilmu bajing kliring, yaitu ilmu yang menjadikan si pemiliknya mahir memanjat seperti seekor bajing. Selain itu masyarakat juga beranggapan orang yang menguasai ilmu bajing kliring jika jatuh dari pohon akan segera pulih kesehatannya.
Mbah Kardi hanya diam saja dengan anggapan orang seperti itu, toh dia memang mahir memanjat, namun di usianya yang semakin renta otot dan tenaganya tidak lagi sekuat seperti masa mudanya dulu. Seharian bisa puluhan pohon yang dipanjatnya, namun sekarang ia hanya mampu memanjat dua hingga tiga pohon dalam sehari, sekedar untuk mendapatkan beras yang dapat ia makan bersama istrinya.
Bagaimana lagi, Mbah Kardi hanya memanjat itu yang menjadi andalannya untuk mencari rizki, dan anggapan masyarakat bahwa ia menguasai bajing kliring adalah hal yang membuatnya terus dipakai tetangganya untuk memanjat pohon, walau sudah beberapa kali ia jatuh hingga membuat tubuh rentanya semakin rapuh. Mbah Kardi  berusaha bertahan untuk terus memanjat, ia ingin seperti kebo mati ing rakitan, bukan kebo mati sakit-sakitan.
“Mbah, Mbah Kardi ! teriak salah satu tetangganya dari luar gubuk.
“Owh Den Narto, ada apa Den” jawab Mbah Kardi sambil keluar dari gubuknya
“Saya minta tolong Mbah Kardi menderas pohon siwalan di belakang rumah saya Mbah” timpal Narto yang dipanggil Den itu.
Narto  adalah salah satu penduduk kampung Banyulangse yang terkenal kaya-raya, sawah dan tegalnya berhektar-hektar, namun ia terkenal pelit,selain itu desas-desus tetangganya Narto punya pesugihan, konon ia sering menjadikan buruh-buruhnya sebagai tumbal dari kekayaannya.
“Iya Den, nanti saya kesana” jawab mbah Kardi mengiyakan permintaan Den Narto.
“Baiklah Mbah saya pulang dulu, nanti langsung ke belakang rumah saja, pohon siwalan di belakang rumah itu sudah saatnya di deras, namun sayang saya tidak mendapatkan orang yang mau memanjatnya” kata Den Narto.
Setelah kepulangan Den Narto Mbah Kardi menemui istrinya di belakang yang sedang merebus ubi talas yang diambil Mbak Kardi di grumbul seberang sungai, istrinya yang sudah sudah renta itu tampak dengan sabar menata nyala api agar tidak padam. Maklum musim penghujan kayu-kayu agak basah dan susah untuk dibakar dan dibuat perapian.
“Yut, saya pergi dulu, ada orang yang meminta saya untuk memanjat pohon siwalannya” kata Mbah Kardi sambil mendekati istrinya yang sedang meniup-niup tungku api. Asap dari dapur mengepul memenuhi ruangan dapur yang tidak begitu luas, kemudian asap itu mengangkasa hilang ditiup angin.
“Memangnya siapa sepagi ini menyuruhmu Nang ? tanya Mbah Jinem
“Itu Yut, tadi Den Narto ke sini” jawab Mbah Kardi
“Mengapa Nange kok mau disuruh memanjat pohon siwalannya Den Narto ? dia itu kan terkenal punya pesugihan, nanti kami dijadikan tumbalnya pesugihannya”
“Hehe...” mbah Kardi terkekeh, “lha siapa yang mau menjadikan saya tumbal toh Doke, setan prayangan ora doyan, demit ra ndulit, siapa makhluk mana juga yang doyan sama badan yang sudah bau tanah ini toh Doke” kelakar Mbah Kardi kepada istrinya.
“Iya, Iya, tapi tunggu ubi talesnya masak ya Nang ? ini sebentar lagi juga siap”
“Tidak usah Doke, saya berangkat sekarang, itung-itung nanti upah dari Den Narto bisa kita pakai untuk membayar hutang dua bumbung milik juragan Samo yang tumpah kemarin”
“Baiklah, nanti kalau sudah selesai segeralah pulang, Nange kan belum sarapan aku menunggumu di rumah” kata Mbah Jinem.
***
Di belakang rumah besar milik Den Narto terdapat puluhan pohon siwalan yang menjulang tinggi, pohon itu berderet-deret seperti tentara yang berbaris, daunnya melambai-lambai ditiup angin pagi yang sejuk dari arah pegunungan kapur di bukit Banyulangse. Sisa-sisa hujan semalam terhapuskan oleh dekapan hangat sinar  matahari pagi. Mbah Kardi telah bersiap memanjat salah satu pohon siwalan yang berada belakang rumah Den Narto.
Pagi itu Mbah Kardi sangat gembira, wajahnya cerah bercahaya ia memandang ke atas ke arah pohon-pohon siwalan yang siap untuk di deras. Lambaian pohon-pohon siwalan yang ditiup angin  itu seperti tersenyum dan menyapanya untuk segera naik keatas. Pohon-pohon siwalan itu seperti membisikinya “Ayo Mbah ! naik dan tenanglah engkau dalam dekapanku”
Mbah Kardi  tersenyum, ia segera menaiki pohon itu, tubuhnya ringan serasa kapas yang mengangkasa, nafasnya tak lagi terengah-engah, otot-otot kaki dan tangannya juga tidak terasa kaku, semuanya menjadi ringan, ia seperti sedang menaiki tangga tujuh bidadari surga. Mbah Kardi tak ingat lagi tugasnya untuk menderas pohon siwalan, ia terus naik ke atas. Di kiri dan kanannya  dilihatnya banyak kupu-kupu yang terbang mengikutinya langkah-langkahnya, makin lama makin banyak hingga kupu-kupu yang berwarna putih cerah itu berubah menjadi pendar cahaya dan cahaya itu hilang bersamaan dengan lenyapnya tubuh Mbah Kardi.
Pagi masih sepi, Mbah Jinem duduk di depan gubuknya dengan sebakul ubi talas yang mengepul di depannya, ia sedang menunggu suaminya pulang.

Bangilan,  14 Februari 2016
Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar