Senin, 29 Februari 2016

Mengenal Diri Jalan Mengenal Tuhan

Mengenal Diri Jalan Mengenal Tuhan

Kewajiban pertama yang dibebankan bagi manusia adalah mengenal Tuhannya dengan penuh rasa yakin, Awwalu Wajibin ‘alal insani Marifatul Ilahi bistiqoni, begitu yang disebutkan dalam kitab Matan Zubad karya Syekh Al Imam Ibnu Ruslan. Jika mengenal diri adalah jalan mengenal Tuhan, sedang mengenal Tuhan adalah sebuah kewajiban pertama bagi manusia taklif maka sebagaimana kaidah ushul fiqih yang menyatakan bahwa “Maa Yutawassalu bihi ila iqomatil wajib fahuwa waajibun” artinya apa-apa yang menjadi wasilah terhadap sesuatu yang wajib maka hukumnya juga menjadi wajib. Dari kaidah ini maka wajib hukumnya bagi manusia untuk mengenali dirinya sendiri sebelum ia mengenali Tuhannya.

Mengenal diri adalah jalan untuk mengenal Tuhan, barangsiapa yang tidak mengenal hakekat kediriannya  maka ia akan kehilangan hakekat Ketuhanan. Dalam bahasa haditsnya disebutkan Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu, wa man ‘arafa Rabbahu fa qad ‘arafa sirrahu” artinya “Barang siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya, dan barang siapa yang mengenal Tuhannya maka ia mengetahui rahasia-Nya.”

Dalam al Qur’an Surat Fussilat ayat : 53 disebutkan yang artinya :
   
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
Di dalam ayat ini Allah Swt akan memperlihatkan tentang tanda-tanda tentang kebenaran Al Qur’an pada diri manusia, karena memang pada diri manusia menyimpan segala potensi ayat-ayat Tuhan. Jika alam semesta adalah makrokosmos, maka diri manusia sebagai mikrokosmosnya. Apapun yang tergelar di jagad raya ini maka segala potensinya juga ada pada diri manusia.

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang diciptakan oleh Tuhan, dan dalam diri manusia baik secara jasmani maupun ruhani adalah bentuk kecil dari alam semesta ini.

Dalam sebuah desertasi yang ditulis oleh Masataka Takeshi dengan judul “Ibn ‘Arabi’s Theory of the Perfect Man and Its Place in the History of Islamic Thought” yang dialih bahasakan oleh Harir Muzakki, M.Ag dengan menjadi sebuah buku yang berjudul “Insan Kamil Pandangan Ibnu ‘Arabi” disebutkan di halaman 116 bahwa :

Tubuh manusia dalam bentuk ringkasnya adalah salinan (mitsal) seluruh alam semesta, apa pun yang diciptakan di alam terdapat pada diri manusia. Tulang bagaikan gunung, keringat seperti hujan, rambut seperti pohon; otak sama dengan awan, indera-indera bagaikan bintang-bintang. Untuk menyebut secara lengkap akan membutuhkan waktu lama; namun semua genera ciptaan terdapat salinannya pada diri manusia.”

Maha besar Allah Swt yang telah menciptakan diri kita manusia dalam bentuk kesempurnaan yang luar biasa bukan ? dan ini baru rahasia perkenalan manusia dengan bentuk dan anatomi tubuh,  jika kita mengenalnya dengan benar maka pengetahuan itu pastilah akan mengantarkan manusia pada pengetahuan Ketuhanan yang luar biasa. Oleh karena itu manusia tidak akan mengenal dengan benar siapa Tuhannya sebelum mampu mengenali dirinya sendiri.  Karena tak ada yang lebih dekat dengan kita kecuali diri kita sendiri.

Tuhan adalah sebuah pengetahuan yang adikodrati, yang mana karena keterbatasan akal dan indera  manusia tidak mampu menangkap dan menjangkau realitasnya. Orang Jawa bilang “Tan Kena Kinaya Ngapa” maknanya tidak bisa dibayangkan seperti apa, yang dalam konsep tauhid Islam itu yang disebut sebagai ”Laisa Kamitslihi sai’un.” (Tidak ada sesuatu yang menyerupai dengan-Nya) Oleh karena itu agar Sang Khaliq bisa dikenali ia menciptakan makhluk sebagai citra dari-Nya. Sebagaimana yang terkandung dalam sebuah hadits hadits Qudsi dinyatakan : “Kuntu Kanzan Mahfiyan Fa ahbabtu an u’rafa fa kholaqtul khalqa li ya’rifni” artinya : Aku adalah suatu perbendaharaan yang tersembunyi. Aku ingin sekali untuk dikenali, maka Ku-jadikan makhluk agar ia mengenali “Siapa Aku.”

Oleh karena itu untuk melihat dan merasakan realitas Sang Khaliq ini kita harus berfikir tentang kemakhlukan, bukan tentang Khaliq itu sendiri, karena pada dasarnya akal dan indera manusia tidak akan mampu menangkapnya. Dalam sebuah hadits Nabi yang lain juga disebutkan “Tafakkaruu Fi Kholqillaahi wa la tafakkaruu fillah,” artinya berfikirlah tentang makhluk Allah Swt dan jangan berfikir mengenai dzatnya Allah Swt itu sendiri.

Begitu pentingnya untuk mengenali diri sehingga banyak sekali perintah Allah Swt yang menyuruh agar manusia mengenal akan kediriannya. Dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 21 dengan tegas Allah Swt memerintahkan agar manusia mengenali dan memperhatikan dirinya, Allah Swt berfirman yang artinya :


21. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?

Perintah untuk memperhatikan diri kita sendiri dalam ayat ini sangat tegas sekali, karena memang dengan mengenali diri, manusia bisa mengenali Tuhannya. Hal ini sejalan dengan maksud Allah Swt menciptakan manusia di muka bumi dalam rangka menyembah kepada-Nya. Allah Swt berfirman dalam surat Adz-Dzariyat ayat : 56 yang artinya : “Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali mereka menyembah kepada-Ku”

Ringkasnya barang siapa yang mengenali dirinya maka akan lebur kemakhlukannya, dan barang siapa yang telah lebur kemakhlukannya maka ia akan sampai pada realitas Ketuhananya. Dan barang siapa yang telah mampu mencapai realitas Ketuhananya maka ia akan akan merasa tak pernah ada. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Al Hallaj “Kesalahan terbesar yang dibuat oleh manusia adalah ia merasa dirinya ada.” Sekian. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar