Jumat, 05 Februari 2016

Memburu Cahaya Lentera di Kota Langitan Tuban

Memburu Cahaya Lentera di Kota Langitan Tuban
(Ketika karya,cita,cinta dan promblematika dihadapi)
Oleh : Muhammad Fajar Syafiqul Amidan (Siswa MA ASSALAM Bangilan)

Pic : Investasituban.blogspot.com
            Masih percayakah kita kepada harapan, mimpi dan keajaiban di kehidupan ini? Mungkin di umur yang masih belia ini saya masih percaya akan hal tersebut dan saya harap kita tidak akan kehilangan semua itu ketika di tengah perjalanan nanti.
            “Semua berawal dari mimpi’’ itulah istilah yang mungkin tak terdengar asing di telinga kita, memang kebanyakan dari kita selalu menggunakan istilah tersebut dalam setiap keinginan yang belum kesampaian saat ini dan mungkin juga banyak dari kita yang sekarang ini hanya terus bermimpi dan mempertanyakan kapan mimpi itu bisa jadi kenyataan ? hal itu juga berlaku kepada saya dan teman-teman saya disini, yang mencoba meniti harapan di bumi para wali ini (Tuban).
            Berbicara soal Tuban, itulah kota kelahiran saya, mungkin saya satu dari beribu anak yang mencoba merubah kota saya ini menjadi lebih baik, secarakan kota sendiri. Pengetahuan saya soal Tuban gak terlalu banyak oleh karna itu saya mohon maaf kalau ada kesalah fahaman ataupun kata yang menyinggung, maklum ini hanyalah pendapat dari seorang pelajar asal Tuban.
            Seperti kota-kota di Indonesia yang lain yang slalu mempunyai problematika dan banyak hal yang harus dibereskan, Tuban menjadi salah satunya, menurut saya ini seperti sama halnya mencari bercakantinta hitam di atas selembar kertas putih. orang berkata, “mencari kesalahan dari sesuatu itu amatlah mudah’’ memang hal itulah yang akan saya paparkan kali ini.
 1.Globalisasi sang pelahap era
            Zaman sudah berubah, tak seperti dulu lagi, masa lalu memang tidak akan terulang kembali, hal itulah yang sedang melanda kota ini. Membahas soal globalisasi dari sudut pandang saya &mungkin dalam benak kalian pernah terbesit ataupun bertanya-tanya ,apakah mungkin kita bisa bersosialiasi seperti dulu, bermain bersama, tertawa, menangis? setelah era globalisasi melanda dunia tak terkecuali TUBAN. Memang sih globalisasi itu banyak menguntungkan tapi kalau di lihat dari segi sosialbagi saya sendiri dan kalian juga mungkin pernah merasakannya yaitu untuk ketemu atau berkumpul denganorang-orang sangat memprihatinkan, faham kan maksud saya, semasa dulu kecil adalah masa yang mungkin kita akan selalu ingat. Coba liat anak-anak masa sekarang sudah disibukkan dengan gadget yang mereka pegang, entah itu pagi,siang,malam gadget tidak akan lepas dari tangan, mainan zaman dulu sudah tergerus zaman digantikan dengan mainan online yang ada di depan layar, memang seru sih saya akui tapi untuk dalam aspek sosial sama teman amatlah kurang.
Beberapa kejadian lagi yang sering para remaja alami bukan hanya di Tuban sendiri sebenarnya tapi juga seluruh negeri  yaitu apakah kebudayaan lokal dan seni tradisional akan ditinggalkan dan dilupakan?  jikalau sudah tak ada pemuda yang mau meneruskan dan sibuk belajar mapel sekolah yang seolah-olah bertujuan ingin membentuk mereka menjadi robot tenaga kerja saja, apakah kita para pemuda sudah enggan dan malu ketika mengakui bahwa budaya tersebut warisan nenek moyang kita?ketika tren-tren baru zaman sekarang melanda dilingkungan kita, apakah warisan budaya lokal sudah tak dianggap penting lagi bagi generasi muda? Namun dilain sisi, saya masih yakin ada segelintir orang yang mencoba melestarikan hal tersebut dengan cara pewarisan yang berbeda dan unik agar mampu menambah minat bagi generasi zaman sekarang. penyesuain kondisi anak muda sekarang amatlah penting, dengan ide-ide kreatif anak bangsa mungkin akan lahir perpaduan serta metode baru dalam pewarisan budaya ini. Saya harap pemerintah kota Tuban juga harus terus menyemangati dan menyokong  orang-orang tersebut baik dalam segi finansial maupun non-finansial.
Sebenarnya banyak sekali budaya di kota Tuban ini yang unik dan sangat khas yang mungkin sebagian dari kita yang jarang mendengarnya dan terdengar asing, kali ini saya hanya akan membahas salah satunya saja yaitu budaya sandur.
            Sandur merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional kerakyatan yang langka, bahkan dapat dikatakan hampir punah, mengingat durasi pementasan kesenian tersebut semakin memurun. Sandur sebenarnya tidak hanya terdapat di wilayah Lamongan saja, tetapi juga terdapat di daerah-daerah lain, seperti daerah Bojonegoro, Probolinggo, Pamekasan, Bangkalan, Jombang, Surabaya, Tuban dan Lamongan. Secara pragmatis menurut pengamatan penulis, dewasa ini di daerah, daerah yang disebutkan di atas, hampir tidak pernah ada durasi pementasan kesenian sandur tersebut. Jika dimungkinkan ada, maka durasinya sangat kecil bila dibandingkan dengan daerah Lamongan.
Kesenian sandur di daerah Lamongan ini mempunyai kesamaan dengan kesenian sandur yang ada di daerah lain (Tuban dan Bojonegoro). Kata sandur berawal dari sebuah artikel yang berjudul “Seni Sandur Saya Mundur”. Dengan kata lain bahwa sandur berasal dari kata mesisan ngedur atau beksan mundur, karena sandur dipentaskan semalam ngedur (semalam suntuk).
Kesenian sandur merupakan kesenian yang terminologinya diambil dari anonim sandur: isane tandur (sa’wise tandur) yang berarti selesai bercocok tanam. Dengan kata lain bahwa seni sandur adalah salah satu bentuk ekspresi seni masyarakat agraris yang dilakukan selesai bercocok tanam. Disamping itu cerita yang ada dalam sandur, berbicara tentang gambaran kehidupan petani dalam menjalankan aktifitas agrarisnya.
Membicarakan kesenian tradisional kerakyatan yang berupa kesenian sandur. Seolah memasuki lorong gelap sejarah kesenian yang berbasis sinkretisme ini. Kesenian yang terminologinya lahir di tengah masyarakat agraris ini hampir punah keberadaan dan eksistensinya. Sehingga perangkat dan materi pertunjukannya banyak menyimbolkan idiom-idiom pertanian. Misalnya dalam dialog, pertunjukan sandur tema cerita yang diangkat bertemakan sawah, ladang dan kehidupan para petani yang ada di pedesaan. Inilah salah satu keunikan budaya lokal bangsa yang ada di Tuban.
             Generasi muda boleh saja berorasi dimanapun dan menggemborkan bahwa dia cinta akan budayanya, namun tindakan untuk melakukan perbaikan sangatlah diharapkan oleh kota Tuban ini bukan hanya omong kosong belaka termasuk dalam hal kebudayaan. Anak muda tidak harus menghilangkan kebudayaan lama jikalau ingin mengikuti tren masa kini, justru memadukan tren dulu dan sekarang akan menambah keragaman budaya dalam negeri, Globalisasai bukanlah sesuatu hal yang bisa kita hindari tapi merupakan hal yang bisa kita kendalikan dan kita saring segi positifnya.
2. Trilogi penting  antara Politik,ekonomi dan alam
            “Harapan dimana hidup akan terus mulia dan terus mendapatkan hal yang dimau”, mungkin istilah yang cocok untuk kekuasaan yang telah didapat bagi orang yang menang dalam berpolitik. Suara rakyat mulai menggelora dalam negeri ini, ketika rakyat menutut kemaslahatan dalam hidup mereka.
Tuban adalah kota di ujung utara pulau Jawa, dimana politik juga menjadi perebutan disana, tidak bisa di pungkiri seperti kota-kota lainnya di Tuban masih banyak diantara orang yang mengikuti Pilkada atau Pemilu maupun lainnya akan sulit mendulang suara tanpa politik uang. Rakyat sudah terlanjur diajari politik uang, sehingga rakyat akan memberikan suaranya jika ada uang. Bahkan, mereka enggan datang di TPS jika tidak ‘dibayar’Meski ini tidak semua, tapi realita di tengah-tengah masyarakat seperti itu.
Kecenderungan tentang hal tersebut sudah tidak sesuai dengan asas Pemilu yang Jujur, Adil dan Terbuka. Namun, kenyataan mau tidak mau harus diterima karena rakyat sudah terlanjur diajari politik uang. 
Di Negeri ini rakyat diajari berdemokrasi yang salah. Semua ditentukan oleh siapa saja yang mempunyai banyak uang. jangan salahkan rakyat kalau kemudian menuntut konpensasi uang untuk hak suaranya, jika semua stake holder pemilu tidak bersungguh-sungguh menghentikan politik uang seperti itu, politik tetap bakal memakan biaya tinggi (high cost politic). Akibatnya, politisi cenderung mencari keuntungan pribadi untuk mengembalilan modal yang telah mereka keluarkan.Untuk saat ini tidak menjadi rahasia lagi, untuk menang dalam Pemilu mayoritas ditentukan oleh seberapa banyaknya uang yang disebar ke pemilih, oleh karena itu harapan besar bagi generasi mendatang akan mampu membenahi hal tersebut di Kota tercinta dan negeri kebanggaan ini.
Jika ada hal yang jelek dari kota saya ini pasti juga ada yang positifnya, Tuban sekarang dalam sektor ekonominya sudah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun pemerintah yang dipilih memang diharuskan untuk merubah apa yang dia pimpin, demi kemaslahatan rakyatnya dan bukan untuk kepentingan individu saja.
Tuban juga memiliki kawasan industri ada beberapa perusahaan industri diantaranya PETROCHINA (di kecamatan Soko) yang menghasilkan minyak mentah serta PT Trans Pacific Petrochemical Indonesia (TPPI) & PERTAMINA TTU (di kecamatan Jenuh) dan Pabrik Semen Holcim & Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang dibangun di daerah Jenuh. Kawasan industri mencapai 50 ribu hektar yang tersebar di 10 kecamatan. Zona 1 di kecamatan Bancar dengan luas 5,802 hektar dan zona 2 34,00 hektar dan zona 3 9,225 hektar.
Di sektor ekonomi utamanya adalah perdagangan industri pengolahan dan pertambangan. Perdagangan menyumbang output sebesar Rp 3 Triliun sedangkan industri pengolahan dan pertambangan masing-masing sebesar Rp 2,9 Triliun dan Rp 1,8 Triliun. Pertumbuhan ekonomi pada 2010 mencapai 6,39% dimana angka pertumbuhan tertinggi terjadi di sektor pertambangan sebesar 11,8%.
            Dibalik ekonomi Tuban yang maju tentunya juga ada fakta ironi yang diderita oleh lingkungan di Kota Tuban sendiri. Alam Tuban sudah tak seperti dulu lagi setelah banyak lahan yang digunakan untuk perumahan dan industri, kalau misalnya itu disebut dengan pengorbanan untuk memajukan  kemaslahatan masyarakatnya maka kerusakan alam disini menjadi taruhannya.
            Sudah banyak bukti bahwa orang – orang di era sekarang yang tak memperdulikan alam lagi, kerusakan alam dimana-mana, di otak manusia sekarang hanyalah bagaimana bisa hidup sejahtera ekonominya, tanpa berfikir kerusakan yang diperbuat olehnya. ‘’Ekonomi itu yang terpenting’’ adalah kata-kata yang cocok untuk pedoman bagi manusia perusak alam ini.
            Alam adalah anugerah Tuhan yang harus di jaga,kita boleh saja memanfaatkan sesuka kita namun harus juga dibarengi dengan usaha untuk kelestarian lingkungan. Tuban termasuk kota dengan panorama alam yang menakjubkan, diantaranya yang terkenal: pantai Boom,pantai Sowan, pantai Jenu, pantai cemara, goa ngerong,goa akbar, air terjun nglirip dan lain lain. Namun tanpa disadari masyarakat masih banyak yang belum mengerti apa arti dari menjaga lingkungan, akibatnya banyak dari lingkungan alam yang sudah kotor dipenuhi dengan sampah,limbah industri dan eksploitasi besar-besaran yang hanyabertujuan untuk menambah pundi-pundi materi saja.
             Manusia adalah makhluk yang bergantung pada alam, tanpa kita sadari alam telah berbaik hati melindungi manusia dari berbagai ancaman bencana, contohnya seperti: tanah longsor,banjir,erosi,abrasi,pemanasan global dan berbagai hal lainnya. Tanpa manusia, alam bisa hidup, alam mempunyai mekanisme dan tata cara pembenahan terhadap dirinya sendiri, sedangkan kita sebagai manusia hanya perlu menjaganya agar tidak rusak. Jikalau peningkatan ekonomi sangat diperlukan bagi pembangunan pendidikan dan infrastruktur daerah Tuban,sedangkan alam lah sebagai taruhannya, sekarang apakah siap manusia menanggung semua dampak dari kerusakan alam yang terjadi? Pikirlah kembali!
Usaha untuk perbaikan alam ini mungkin akan sulit untuk diwujudkan, seperti halnya di awal teks yang saya tulis, masihkah harapan itu ada dan keajaiban akan terjadi? Mungkin memang saatnya perbaikan untuk semua hal itu, disini merupakan penentuan diantara 99% usaha dan 1% keajaiban nan apabila kedua tersebut direalitakan itu butuh usaha keras. Aktivis alam kota Tuban yang mencurahnya hidupnya untuk perbaikan alam ini pasti sudah berusaha keras untuk menjaga alam, sekarang yang menjadi permasalahan tentang kesadaran masyarakat Tuban sendiri dalam menyadari pentingnya menjaga alam.
Percayalah bahwa selallu ada cara yang lebih baik dalam penanganan masalah yang kita tanggung, disini bukan dituntut wacana setinggi langit yang hanya mengombar janji akan tetapi mengambang direalitanya, calon pemimpin yang baik dan rakyat yang baik pula harus memikirkan ini bersama-sama, ini bukan masalah perorangan saja tapi kita semua sebagai warga Tuban.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar