Minggu, 21 Februari 2016

MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dan Potensi Lokal Yang Terabaikan

MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dan Potensi Lokal Yang Terabaikan

MEA (Masyarakat Ekonomi Asean)  sudah diberlakukan mulai akhir 2015 kemarin, produk-produk luar negeri khususnya Cina telah membanjiri pasar-pasar lokal di Indonesia. Tidak terkecuali di Kabupaten Tuban, di pasar-pasar tradisional telah banyak kita dapati produk impor. Untuk itu masyarakat harus mulai pasang kuda-kuda membekali diri  dengan wawasan global.

Saya menyambut baik usaha Pemkab Tuban menggandeng Forum Masyarakat Indonesia Berwawasan Global (Indonesia Forum For Global Vision) di pendopo Krido Manunggal mengadakan simposium Nasional dengan tema : “Prospek dan Rencana Pembangunan Ekonomi Lokal Menuju Tuban Yang Semakin Maju dan Sejahtera.” Diharapkan simposium ini menjadi pemantik bagi peran bersama Pemkab dan masyarakat untuk mempersiapkan diri go internasional.

Fenomena masuknya produk impor  ke pasar-pasar tradisonal yang ditawarkan lebih murah tentu berdampak buruk bagi produk-produk lokal, masyarakat yang belum siap dipaksa harus bersaing ketat dengan produk luar negeri. Jangankan lebih murah lebih mahal pun kecenderungan masyarakat lebih memilih produk luar negeri dibanding memilih produk lokal. Ada kecenderungan konsumen lebih merasa bangga menggunakan produk luar negeri dibandingkan dengan produk dalam negeri. Ini menjadi PR bersama agar masyarakat mempunyai kesadaran terhadap lokalitas, toh tidak jarang masalah mutu produk lokal tidak kalah dengan produk impor.

Dengan masuknya era MEA ini masyarakat harus mempersiapkan diri agar tidak kalah bersaing di pasar global, oleh karena itu perlu pemahaman global agar masyarakat bisa go global menyambut persaingan pasar bebas.

Masyarakat khususnya Tuban jangan sampai menjadi bulan-bulanan dan menjadi korban persaingan di era pasar bebas, oleh karena itu mulai sekarang masyarakat harus jeli melihat potensi yang ada. Sumber daya alam di Tuban telah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pasar, hanya saja perlu sedikit sentuhan kemajuan dan inovasi agar siap bersaing di kelas atas. Salah satu contohnya adalah ketela, jika ketela kita jual masih dalam bentuk ketela harganya murah dan tidak banyak orang yang tertarik, namun jika ketela telah kita olah dengan teknologi ketela bisa dibuat menjadi tepung Mocaf yang harganya bisa empat sampai lima kali lipat dari harga ketela itu sendiri. Itu baru satu potensi ketela bisa meningkatkan ekonomi masyarakat, belum potensi-potensi lain yang tersedia cukup banyak di wilayah Tuban, semisal jagung, kelapa, kedelai, kacang tanah  dan lain sebagainya.

Potensi-potensi lokal inilah yang harus menjadi perhatian Pemkab dan masyarakat tentunya agar kita tidak kalah bersaing dengan produk-produk dari luar negeri. Dan tentu masih sangat banyak potensi lokal yang perlu digarap dan mendapat perhatian serius agar berdaya guna bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat khususnya Tuban.

Salah satu kendala sulitnya memajukan aspek lokal di Tuban adalah kreativitas dan inovasi, tidak banyak masyarakat khususnya ilmuan dan peneliti yang benar-benar mau terjun ke lapangan untuk menggali dan menciptakan hal-hal yang baru dan inovatif. Lazimnya masyarakat lebih suka menjadi pegawai kantoran, memakai dasi, dan abai dengan potensi lokal yang perlu di garap. Mana ada coba sarjana pertanian yang mau tekun mengembangkan sistem pertanian di daerahnya, mereka akan lebih suka menjadi pegawai daripada terjun  langsung berbaur di sawah-sawah yang berlumpur.

Sikap dan cara pandang yang sedemikian ini yang menjadi kendala terhadap kemajuan masyarakat, karena bersekolah niatnya untuk menjadi pegawai bukan menuntut ilmu yang kemudian diaplikasikan di tengah-tengah masyarakat.

Masyarakat menunggu sentuhan-sentuhan keajaiban dari sebuah ilmu pengetahuan yang akan mengubah paradigma masyarakat selama ini yang menganggap bahwa singkong itu tidak lebih keren dibandingkan Roti. Sudah saatnya masyarakat bangga dan merasa terhormat menjadi Petani Singkong, karena dengan sentuhan teknologi singkong sekarang bisa diolah menjadi tepung Mocaf yang menjadi bahan dasar pembuatan roti. Jadi kita tidak perlu lagi mengatakan “Aku Anak Singkong dan Kau Anak Keju” karena itu sudah masa lalu. 21/2/2016 Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar