Selasa, 16 Februari 2016

Islam dan Nasionalisme

Islam dan Nasionalisme

http://www.kompasiana.com/
Islam adalah agama purna yang diturunkan Allah untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia, sebagai agama terakhir dan menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya, hampir seluruh permasalahan pasti tercover di dalam ajaran Islam, baik itu bersifat qoth’i maupun ijtihadi. Tentu kita sebagai pemeluk agama Islam meyakini sudah tidak ada perkara yang terlewatkan dalam ajaran Islam baik itu yang menyangkut masalah ubudiyah, maupun yang menyangkut masalah-masalah sosial.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mencermati status di time line Ust. Felix Siauw mengenai masalah nasionalisme, beliau mengatakan “Membela nasionalisme, nggak ada dalilnya, nggak ada panduannya, membela Islam jelas pahalanya, jelas contoh teladannya.”

Dari pernyataan Ust. Felix di  atas mengisyaratkan bahwa ajaran Islam tidak mengenal paham nasionalisme, atau tidak memuat ajaran nasionalisme. Kalau kita mencari sumber dalil dari hadits atau Al-Qur’an yang berbunyi “Islam itu nasionalisme, atau mungkin dengan kalimat lain yang yang lebih ekstrim bahwa nasionalisme adalah salah satu rukun Islam atau rukun iman kita, tentu sampek tuwek sampek elek  ya kita tidak akan pernah menemukannya.
 
Ibarat ranah Islam adalah samudra luas dan kita lihat di atasnya saja, tentu kita tidak mendapati apa-apa dari ajaran Islam kecuali hanya air lautnya saja, atau kalau beruntung kita bisa melihat satu-dua ikannya. Dari apa yang kita lihat itu kemudian dengan enteng kita simpulkan oh, samudra itu hanya terdiri dari air saja ya, sejauh kita memandang ya hanya air itu. Kalau kita mau agak nyrempet-nyrempet  di batas garis laut di situ kita mendapati bid’ah pasir, ada bid’ah batu karang, dan bid’ah-bid’ah lainnya. Padahal kalau kita mau menceburkan diri secara kaffah di kedalaman samudra luas kita akan mendapati berbagai macam spesies ikan, berbagai macam terumbu karang dengan pesona keindahannya, berbagai macam kemilau mutiara dan masih banyak lagi khasanah persamuderaan yang luar biasa.

Itu gambaran saya mengenai Islam dengan segala aspek yang ada di dalamnya, ada orang yang memang hanya mampu melihat permukaannya saja, ada yang nyrempet-nyrempet bid’ah di pinggiran pantai bahkan ada yang totalitas menyelam ke dalam palung samudra yang paling dalam untuk mendapatkan mutiara yang tidak di dapati oleh orang yang hanya nyincing-nyincing tanggung saja.
Tentu gambaran saya tentang Islam tadi tidak harus benar dan tepat, namanya gambaran dan perumpamaan kan tidak wajib benar dan tepat. Saya hanya berupaya menganalogikan  Islam melalui angan-angan saya saja. lalu apakah memang dalam ajaran Islam tidak memuat paham nasionalis seperti yang difatwakan oleh Ust. Felix dalam khutbah twitternya ? jika ditanya hal yang demikian saya memang bukan pakarnya untuk menjawab. Tapi saya hanya ingin sedikit memberikan apa yang saya pahami tentang nasionalis. 

Dulu ketika Rosulullah SAW terusir dari kota kelahirannya Makkah, beliau tinggal di kota yang diberkahi  Madinah Al Munawwarah. Di kota ini beliau tidak hanya diimani sebagai seorang Rosul tapi beliau juga sebagai pemimpin politik negara Madinah. Ibaratnya Rosulullah dan kaum muhajirin sudah berada pada posisi yang nyaman. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “Hujan batu di negeri sendiri lebih baik hujan emas di negeri orang” petah ini tentu tidak selamanya benar, namun setelah sekian lama orang-orang Muhajirin dan Rasulullah meninggalkan tanah kelahirannya tercinta, ada rindu terhadap kampung di mana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Kecintaan Rasulullah SAW terhadap kota kelahirannya sangat jelas tergambar sebagaimana yang beliau sabdakan :
مَا اَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَاَحَبَّكِ اِليَّ, وَلَوْلَا اَنَّ قَوْمِىْ اَخْرَجُوْنِىْ مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ
“Alangkah indah dan besarnya cintaku wahai kota Makkah. Jika tidak karena aku diusir oleh kaumku dari padamu pasti akan tak akan pilih menetap selainmu (Makkah).”

Hingga suatu ketika Rasulullah bermimpi seolah-olah beliau memasuki kota Makkah dan bertawaf di Ka’bah. Akhirnya pada setelah beliau menceritakan mimpi itu kepada para sahabatnya Rasulullah mengajak umat Islam untuk mengunjungi Makkah sambil menjalankan ibadah umrah pada bulan Dzul Qo’dah tahun ke-6 Hijriyah atau tahun 628 M. Ada sebanyak 1500 orang yang ikut dalam rombongan.

Dari hadits Nabi di atas jelas sekali Rosulullah mencintai negerinya dengan sepenuh cinta, bahkan jika beliau tidak diusir oleh kaumnya beliau tidak akan menetap kecuali di negerinya.

Selain itu dalam sebuah hadits lain ada keterangan Rosulullah pernah ditanya mengenai orang yang mempertahankan hak miliknya dari perampokan jika ia terbunuh karena usahanya untuk mempertahankan hak miliknya kemudian dia meninggal dunia maka tercatat sebagai seorang syahid.
Dari hadits-hadits di atas saya meyakini bahwa rasa nasionalis adalah bagian dari ajaran Islam dan itu syah menurut saya secara analogi maupun secara dalil qoth’i. Yang menjadi persoalan menurut saya tentang nasionalisme yang diharamkan dalam Islam adalah nasionalisme yang telah berubah rasa, warna, dan dzatnya. Ibarat legen itu halal, namun jika telah berubah menjadi toak maka hukumnya haram, ibarat beras itu halal, namun jika beras itu didapat dari mencuri maka hukum asalnya yang halal menjadi haram. Begitu juga dengan nasionalisme adalah sesuatu yang jelas kehalalannya, namun jika nasionalisme ini telah dipakai untuk ashobiyyah maka hukum asalnya yang halal menjadi batal dan berubah statusnya menjadi halal. Ini jelas dalilnya, Rosulullah bersabda :
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَى إلىَ عِصْبِيَّةِ ...(رواه أبو داود)
Artinya : “Bukan termasuk golongan kami orang-orang yang menyeru kepada fanatic kesukuan.”

Kata menyeru pada pada fanatik kesukuan tidaklah sama dengan nasionalisme itu sendiri, jadi gampanya seperti ini jika nasionalisme yang sebenarnya tujuan utamanya untuk merekatkan ukhuwwah islamiyah kok berubah dipakai untuk merusak ukhuwwah itu sendiri, maka nasionalisme hukumnya menjadi haram. Karena nasionalisme telah berubah dari kedudukannya sebagai perekat  umat menjadi senjata yang merusak persatuan umat Islam.


Jadi sekali lagi saya tegaskan jika kita mencari dalil Al Nasionalisme  ruknun min arkaanil Islam, atau Al nasionalisme imaaduddin ya tentu tidak ada, bahkan dalil Hubbul Wathon Minal Iman yang masyhur juga bukan sebuah hadits ataupun dalil A Qur’an. Itu hanya sekedar untaian hikmah agar umat Islam mencintai negeranya. Demikian uraian singkat saya mengenai nasionalisme dan Islam. 

Joyojuwoto
Bangilan, 15 februari 2016 

3 komentar:

  1. Apa jadinya bila pendudukan sebuah negara tidak ada yang mempunyai jiwa nasionalisme?

    BalasHapus
  2. Pertanyaan yang berisi penegasan,jempol untuk Mas Rafa dan Mbak Rafi :)

    BalasHapus
  3. Pertanyaan yang berisi pernyataan sekaligus penegasan, mantep Mas Rafa dan Mbak Rafi :)

    BalasHapus