Sabtu, 13 Februari 2016

Dalang Kentrung Terakhir

Dalang Kentrung Terakhir

*1Gending alit munggwing driji,
Ojo lali yen momong raga,
Ya Lailla Hailallah
Ya Muhammad Rasulallah
Lamun supe wiwitane,
Kaya ngapa mring gesange,
Ya Lailla Hailallah
Ya Muhammad Rasulallah
............................................
Suara serak-serak Mbah Rati terdengar lamat-lamat tersaput angin kemarau di pinggiran hutan jati, malam itu Mbah Rati sedang membaca mantra  gending wiwitan sambil duduk bersimpuh menghadap ke timur, seperti duduknya huruf Mim yang melambangkan kepasrahan mutlak kepada dzat yang Maha Kuasa. Mbah Rati dalam keheningan mulutnya komat-kamit membaca tembang pelebur sukma. Tembang yang berisi ajaran tentang Ngemong raga, tembang tentang Sangkan Paran. Ya setiap pertunjukan kentrung Mbah Rati selalu diawali dengan ritual khusu’ menghadap kearah kiblatnya kehidupan, arah timur, arah di mana segala bermula, arah di mana awal kehidupan diciptakan.
Pertunjukan kentrung bagi Mbah Rati adalah darma, kentrung bukan sekedar sebagai hiburan semata namun lebih dari itu ia menganggap kentrung adalah dzikirnya kepada Tuhan, kentrung adalah tugas suci dan pengabdian serta penghambaannya kepada Syang Hyang Gusti. Karena pada dasarnya manusia memang  dititahkan Tuhan untuk manembah kepada-Nya, sekaligus sebagai khalifatullah di muka bumi. “Hananira sejati wahananing Hyang” Adanya kita sebagai utusan dari Tuhan. Tidak heran jika di setiap pertunjukan kentrung Mbah Rati selalu dalam keadaan tidak berhadas, suci secara lahir dan suci secara batin. Begitu juga dengan para penabuh yang mengiringi pertunjukan kentrung.
Para penonton yang melingkari lapangan dusun tampak terbawa suasana, hening mendengarkan dengan seksama bait-bait tembang yang dibawakan oleh Mbah Ratri. Menghayati setiap kalimat yang meluncur dari seorang nenek yang sudah sangat sepuh itu, seakan mereka adalah para cucu yang sedang asyik mendengarkan sebuah dongeng yang indah. Dongeng pengantar tidur, tidur ke alam kelanggengan.
Malam itu adalah malam yang kesekian kalinya Mbah Ratri menggelar pertunjukan kentrung di lapangan dusunnya, pertunjukan yang digelar di akhir musim kemarau dalam rangka upacara bersih desa. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya biasanya Mbah Ratri memilih lakon yang menghibur banyak leluconnya dan atau membawakan kisah-kisah tentang percintaan yang melegenda semisal Sarahwulan-Jowarsah, namun kali iniMbah Ratri membawakan lakon tuo, lakon yang diambil dari Serat Dewaruci. Lakon tentang pencarian makna dan tentang hakekat kesejatian hidup.
Lakon Dewaruci adalah lakon Bima yang menjalankan perintah dari guru Dorna untuk mencari air pawitrasari, air kehidupan, atau maa’ul hayat. Lakon ini biasanya dibawakan sebagai wejangan tentang ilmu kasampurnan hidup.
***
Nduk besok jika tugasmu hampir purna dalam ngemong masyarakat lewat kentrung, jangan lupa bawakan lakon Serat Dewaruci” Dawuh Kyai Basiman kepada santrinya, Ratri yang duduk bersimpuh di depannya.
“Iya Kyai, pesan ini akan saya ingat selalu” Jawab Ratri sambil tetap menunduk dihadapan gurunya itu.
“Ingat Nduk !  kentrung tidak hanya sekedar hiburan semata, namun kentrung adalah jalanmu, jalan yang akan mengantarkanmu hingga nanti engkau sampai pada jalan kasampurnan hidup” Kyai Basiman melanjutkan wejangannya.
Ratri hanya diam, dia adalah satu-satunya santri Kyai Basiman yang mendapatkan amanah untuk melanjutkan tradisi kentrung, sesuatu yang aneh memang, biasanya santri ditunjuk oleh Kyainya untuk mengajar mengaji di langgar-langgar jika telah selesai masa nyantrinya, namun ini beda, Ratri harus mendalang kentrung, sebuah tugas yang tidak mudah tentunya, menjadi dalang kentrung berarti menjadi semisal bocah angon, anak gembala, yang menggembalakan nafsu-nafsu hewani manusia agar tidak tidak lepas kendali menerjang paugeran Tuhan. Disetiap pertunjukan Ratri akan berperan sebagai dalang yang akan memberikan wejangan hidup lewat hiburan kentrung.
Peran dalang kentrung telah dilakukan dengan baik oleh Mbah Ratri sesuai dengan amanah Kyai Basiman, telah puluhan tahun Ratri masuk kampung keluar kampung mengajarkan makna hidup dalam bait-bait tembang kentrung, hingga sampai masanya ia harus menyempurnakan tugasnya memberikan wejangan purna pada masyarakat.
***
*2Tirta nirmala wisesaning urip
Wus kawengku aji kang sampurna
Pinunjul ing jagad kabeh
Kauban bapa biyung
Mulya saking sira mak mami
Leluwihing triloka
Langgeng ananipun
Arya Sena matur nembah
Inggih pundi prenahe kang toya ening
Ulun mugi tedahana
......

Mbah Ratri dengan khusu’ menembangkan syair-syair  dalam serat Dewaruci, seakan beliau sendiri yang sedang berjuang keras untuk memperoleh air kesucian itu agar dapat dipakai untuk membasuh badan jasmani dan ruhaninya guna bertemu dengan yang Dzat Yang Maha Suci. Sebagaimana Bima Sena yang melabrak pekatnya hutan Tribrasara, mendaki puncak gunung Gandamuka, melawan dua raksasa bersaudara Rukmuka dan Rukmakala, serta mengaduk-aduk luasnya samudra yang tak terkira. Hanya untuk mendapatkan tirta pawitrasari atau air kesucian itu.

Bait demi bait dalam serat Dewaruci telah ditembangkan oleh Mbah Ratri, malam semakin gelap dan sunyi, hanya desau angin yang perlahan menggerakkan nyala obor yang mengelilingi lapangan desa, nyala itu bagai tarian spiritual para sufi yang mabuk Ketuhanan. Para penonton tidak ada yang beranjak dari tempat duduknya, mereka menyimak tentang apa yang disampaikan oleh Mbah Ratri. Pertunjukan kentrung yang biasanya ramai oleh sorakan penonton karena banyolan maupun kisah-kisah percintaan yang menggembirakan kini tampak seperti sanggar pawejangan para cantrik di padepokan-padepokan suci para brahmana.

Mbah Ratri tampak semangat sekali memainkan kendangnya, sedang dua orang penabuhnya juga terbawa permainan Mbah Ratri, seperti sebuah majelis sufi  yang memainkan musiknya Mbah Ratri tampak menghayati benar permainannya malam ini, seperti Ar Rumi yang merasakan asma-asma Tuhan dalam setiap denting musik yang didengarnya, hingga ia mengalami ekstase yang luar biasa.

Tepat tengah malam pertunjukan kentrung Mbah Rati purna, para penonton tampak puas menikmati hidangan ruhani dalam nampan-nampan tembang Dewaruci. Mereka pun bubar meninggalkan keheningan di lapangan. Tinggal nyala obor yang semakin redup bergerak pelan mengikuti tiupan angin malam.

“Kang Mbah Ratri tadi seperti orang kesurupan saja ya dalam memainkan kentrungnya” kata Trimo kepada Bejo sahabatnya sambil mereka berdua berjalan meninggalkan area lapangan.

“Iya tidak seperti biasanya beliau begitu, kenapa ya kang ? jawab Bejo sambil melontarkan pertanyaan kepada Trimo.

“Denger-denger sih Kang kata kakekku dulu jika dalang kentrung telah membawakan lakon Serat Dewaruci itu pertanda tugasnya telah berakhir” balas Trimo

“Berakhir bagaimana maksudnya Kang ?

“Saya sendiri juga tidak begitu paham, kata kakekku ada dua kemungkinan, ia akan berhenti menjadi dalang kentrung atau bahkan mungkin ia akan meninggalkan dunia ini karena tugasnya telah selesai.  Ah sudahlah ayo kita segera pulang.” Jawab Trimo mengakhiri obrolannya.

Pagi itu di dusun Mbah Rati terasa sepi,  angin kemarau seakan diam bersemayam dalam keheningan Shubuh, semburat merah cakrawala timur pun tampak pucat, suara ayam yang berkokok seperti suara terompet tahun baru yang kesiangan. Sebuah rumah sederhana dipinggiran desa dekat ladang jagung menghadap ke arah selatan masih tampak tertutup rapat, tidak seperti biasanya. Seakan alam berhenti menggeliat diam dalam pelukan Tuhan. Sepi dan sunyi.

Bangilan, 13/2/2016

Catatan :
*1 Gending pembuka dalam pertunjukan kentrung.
*2 Serat Dewaruci Vol : 11

            

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar