Sabtu, 06 Februari 2016

Cinta Samin

Cinta Samin

Malam yang gelap tanpa bintang, angin malam diam seakan menahan nafasnya, belalang, jangkrik  dan hewan-hewan di sekitar hutan di pinggiran desa Bate seakan senyap, khusyu’ mendengarkan mantra pelebur sukma yang dibacakan oleh Mbah Rati. Mantra yang tersusun dalam bentuk tembang wiwitan guna memulai pertunjukan kentrung. Tampak para penduduk desa berkumpul di sebuah tanah lapang, di bawah pohon trembesi raksasa yang umurnya sekian ratus tahun lamanya. Obor-obor dari bambu di pasang di setiap sudut lapangan cukup menerangi malam yang magis.

Mbah Rati adalah satu-satunya dalang kentrung di desa Bate, di setiap malam bersih desa ia selalu menggelar pertunjukan kentrung dan masyarakat akan sama datang berduyun-duyun untuk mendengarkan cerita yang akan dibawakan oleh Mbah Rati. Gending kawitan sebagai pembuka ritual kentrung telah selesai dirapal, angin seolah kembali mengalir, belalng, jangkrik dan hewan-hewan di sekitar hutan kembali menabuh orkestra semesta, menyenandungkan kidung-kidung pepujian kepada Sang Tuhan.

“Dulur-dulur malam ini Mbah Rati akan membawakan cerita Sarahwulan-Jowarsah” Kata Mbah Samijo di hadapan para penonton.

“Huuuuu !!!!

Teriakan para penonton senang, khususnya dari kalangan muda-mudi, karena mereka akan mendengarkan kisah percintaan legendaris antara Sarahwulan dan Jowarsah. Kisah percintaan dua sejoli itu seakan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bate. Mereka percaya jika kisah itu dimainkan, maka para pemuda atau pemudi yang sudah saatnya menikah namun belum ketemu jodohnya atau mungkin sudah ketemu namun tidak direstui oleh kedua orang tua mereka maka setelah pertunjukan kentrung yang digelar setiap setahun sekali  itu selesai, kisah cinta mereka pun akhirnya  akan sampai pada muaranya. Nikah.

Begitu memang yang telah menjadi kepercayaan dan tradisi masyarakat, oleh karena itu ketika Mbah Rati akan mendalang kentrung dengan lakon Sarahwulan-Jowarsah lapangan di pinggiran desa menjadi ramai. Sudah lama  Mbah Rati tidak membawakan lakon cinta dua sejoli yang ditentang oleh Mbok Wandan Sili ibu dari Sarahwulan walau akhirnya keduanya diperteemukan di pelaminan.

“Kang tadi pada saat Mbah Rati merapal mantra pelebur sukma Kang Samin berdo’a meminta apa ? tanya Sami dengan malu-malu kepada kekasihnya Samin.

Samin masih diam, dia memandangi kekasihnya itu. Sudah lima tahun mereka menjalin hubungan cinta namun sayang kedua orang tua Sami tidak merestuinya. Samin pemuda Bate yang hidup pas-pasan bahkan kekurangan dengan Ibunya yang sebatangkara, sedang Sami adalah kembang desa dari desa sebelah. Samin dan Sami saling  mencintai dengan sepenuh cinta, namun cinta mereka terhalang oleh penolakan orang tua Sami.

“Tentu aku berdo’a semoga cinta kita direstui dan sampai ke muaranya, yaitu menikah denganmu Dik” jawab Samin.

“Oleh karena itu perhatikan dengan baik-baik nanti pas Mbah Rati mendalang ya Dik ? jangan lupa sambil terus berdo’a kepada Gusti Allah” lanjut Samin membisiki telinga kekasihnya.

Sementara itu Mbah Rati telah menghadap ke arah timur, sebagai tanda ia akan memulai mendongeng dalam bentuk tembang, tangan tua yang telah keriput itu tampak terampil memainkan kendang kecil, sambil suara rentanya menembangkan bait-bait syair tentang cinta Sarahwulan dan kekasihnya. Sementara itu Mbah Samijo menabuh rebana besar, sedang Mbah Setri menabuh ketimplung. Tiga alat musik itu menyentak-nyentak berpadu suara magis Sang Dalang membentuk harmoni musik pedesaan di pinggiran hutan yang khas.

“Kasihan ya Kang Dewi Sarahwulan, ia begitu mencintai kekasihnya Jowarsah, namun Nyi Wandan Sili tidak menyetujuinya”

“Benar Dik, kisah Sarahwulan ini sangat mirip dengan kisah cinta kita Dik” Samin menimpali ucapan kekasihnya.

“Iya kang, kau seperti Jowarsah dan aku seperti Dewi Sarahwulan, semoga kisah cinta kita berakhir indah sebagaimana Sang Dewi yang akhirnya menikah dengan Sang pujaan hatinya ya Kang” bisik Sami kepada kekasihnya.

“Iya walau kisah cinta mereka berdua harus diperjuangkan dengan pengorbanan dan tekad yang kuat dari sepasang kekasih sejati itu”

Malam semakin larut langit tampak gelap tak ada secuil bintang ataupun rembulan pun yang tampak. Bait demi bait tembang yang menceritakan kisah Sarahwulan-Jowarsah telah dilantunkan oleh Mbah Rati, iringan musiknya pun menyesuaikan suasana dan alur dalam cerita. Jika suasananya menyedihkan musiknya pun seakan mengiris-iris kalbu para pendengarnya, namun jika ceritanya menggemberikan, musiknya pun rancak riang gembira, dan penonton pun bertepuk tangan penuh suka.

Mbah Rati Sang Dalang Kentrung beserta dua orang panjaknya seakan mampu menyihir suasana malam itu, mereka dengan sepenuh jiwa membawakan irama-irama dari tembang-tembang yang mereka bawakan. Kadang guyonan dari Mbah Rati, Mbah Setri ataupun dari Mbah Samijo pun ikut membuat hangatnya suasana malam pesta bersih desa di pinggiran hutan jati itu.

Akhirnya tembang pungkasan sebagai tanda berakhirnya pertunjukan Kentrung pun dibawakan oleh Mbah Rati. Akhir yang bahagia walau awalnya harus diperjuangkan dengan uraian air mata cinta Sarahwulan-Jowarsah berakhir dititik bahagia.

“Kang pertunjukan Ketrungnya sudah selesai, saya tak pulang dulu ya itu temanku sudah menunggu” Kata Sami kepada Kang Samin.

“Iya hati-hati di jalan Dik, semoga perjalanan kita sampai pada akhir yang baik sebagaimana kisah Sarahwulan yang dibawakan oleh Mbah Dalang” Jawab Samin.

Sami pun pergi meninggalkan Samin yang masih duduk di lapangan, orang-orang pun sama bubar meninggalkan kerlap-kerlip cahaya obor yang mulai redup. Malam makin dingin dan gelap namun hati Samin seakan bersinar, entah karena apa.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar