Jumat, 26 Februari 2016

Agama Bangsa Nusantara

Agama Bangsa Nusantara

Dalam tulisan di buku-buku sejarah Nasional yang diajarkan di sekolah-sekolah, maupun dalam catatan-catatan peneliti dan sejarawan asing menyebutkan bahwa agama atau kepercayaan  yang dipeluk oleh penduduk Nusantara sebelum masuknya agama Hindu-Budha, Islam, dan Kristen adalah pemujaan terhadap roh nenek moyang atau dikenal dengan istilah Animisme. Selain itu disinyalir masyarakat Nusantara juga mempercayai benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib yang lazim dikenal dengan istilah Dinamisme.

Lalu benarkah data-data sejarah yang menyatakan bahwa agama Nusantara adalah penyembahan terhadap roh nenek moyang dan peyembahan terhadap benda-benda yang memiliki kekuatan gaib semisal pohon-pohon besar, batu, gunung dan lain sebagainya ?

Walau hal ini telah diamini oleh seluruh masyarakat Indonesia dari dulu hingga sekarang ini, baik dari kalangan sejarawan dalam maupun  luar negeri, dari guru-guru sejarah dan dari berbagai pihak yang berwajib menyampaikan sejarah bangsa, ternyata pandangan itu tidak selamanya benar.  Disiplin ilmu sejarah memang bersifat nisbi yang mana kebenarannya bersifat sementara dan relatif, jika terdapat data dan sumber sejarah lain yang dianggap lebih valid dan bisa dipertanggung jawabkan secara empiris dan ilmiah maka teori sebelumnya dianggap batal.

Begitu juga dengan konsep Animisme-Dinamisme,  walau tidak secara langsung disebutkan bahwa konsep beragama penduduk Nusantara adalah penyembahan terhadap berhala namun hal ini mengindikasikan dan memunculkan anggapan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah para penyembah berhala. Apalagi didukung oleh fakta-fakta peninggalan kebudayaan dan kepercayaan pada masa zaman batu khususnya era meghalitikum yang banyak meninggalkan jejak batu besar sebagai sarana untuk penyembahan dan pemujaan roh nenek moyang. Semisal menhir, dolmen, sarkofagus, waruga, pundek berundak dan lain sebagainya.
Penyebutan yang menyatakan bahwa kepercayaan masyarakat Nusantara sebagai pemeluk animisme-dinamisme yang berkonotasi menyembah batu atau berhala oleh Bangsa Barat menurut dugaan saya walau ini belum melewati fase analisis ketat, hal ini digunakan sebagai senjata budaya untuk merusak moral dan keyakinan anak cucu bangsa ini. orang-orang Barat yang waktu itu datang ke Nusantara  dengan membawa ajaran Kristen akan menuding “Itu lho moyangmu, bangsamu adalah bangsa jahiliah, mereka adalah para penyembah berhala.” Dengan tudingan itu diharapkan kita akan kehilangan jatidiri sebagai bangsa yang berperadaban.

Menurut sejarawan, budayawan sekaligus Ulama kondang, KH. Agus Sunyoto ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) sebenarnya agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Nusantara adalah tauhidisme, yaitu ajaran yang mengesakan Tuhan.  Oleh penduduk Nusantara agama ini disebut secara berbeda-beda sesuai dengan tempatnya. Orang Jawa menyebutnya Kapitayan, Orang Sunda menyebutnya Sunda Wiwitan, Orang Dayak menyebutnya Kaharingan, orang Batak menyebutnya Ugamo Malim. Agama ini telah sekian lama dipeluk oleh masyarakat semenjak jaman batu tua atau paleolitikum.

Dalam keyakinan penganut kepercayaan Kapitayan di Jawa, pertama kali yang mengajarkan Kapitayan adalah Danghyang Semar keturunan manusia purba dari jenis Homo Sapiens. Dalam kitab Paramayoga dan Pustakaraja purwa silsilah Nabi Adam hingga sampai pada Semar dijelaskan sebagai berikut :
Nabi Adam > Nabi Syis > Anwas dan Anwar > Hyang Nur Rasa > Hyang Wenang > Hyang Tunggal > Hyang Ismaya > Wungkuhan > Smarasanta (Semar).

Semar inilah yang dianggap sebagai pamomongnya tanah Jawa, mengasuh raja-raja Jawa dengan beravatar menjadi wujud yang berbeda-beda, seperti pada masa Majapahit menjelma menjadi Sabda Palon-Naya Genggong yang mengasuh Prabu Brawijaya V.

Kepercayaan Kapitayan secara sederhana adalah kepercayaan yang memuja sembahan utama  yang disebut Sanghyang Taya, yang bermakna kekosongan, awang-uwung.  Taya sendiri bermakna absolute tidak bisa dipikirkan dan dibayangkan seperti apa. Orang Jawa menggambarkan Taya sebagai dzat yang “Tan Kena Kinaya Ngapa” yang maknanya tidak bisa disangka seperti apa. Dalam konsep tauhid Islam itu yang disebut sebagai ”Laisa Kamitslihi sai’un.” Untuk mencapai dzat yang tak terjangkau orang Jawa biasanya menggunakan istilah Uninong-Aning-Unong untuk berusaha mencapai jalan Taya tadi.

Taya bermakna tidak ada tapi ada, ada tapi tidak ada, untuk itu agar bisa dikenal dan  disembah oleh manusia Sanghyang Taya digambarkan mempribadi dalam nama dan sifat yang disebut Tu atau To, yan bermakna seutas benang. Daya gaib yang bersifat adikodrati. Tu atau To adalah tunggaldalam dzat, satu pribadi. Tu lazim disebut Sanghyang Tu-nggal. Dia memiliki dua sifat, yaitu kebaikan dan keburukan. Yang bersifat baik disebut Tu-han, sedang yang bersifat buruk disebut Han-Tu.

Karena Sanghyang Tunggal bersifat ghaib untuk memujanya dibutuhkan sarana yang bisa ditangkap oleh panca indera manusia. Oleh karena itu dalam kepercayaan Kapitayan ini dibalik sesuatu yang memiliki nama Tu ini dipakai sebagai sarana penyembahan, seperti wa-Tu (batu), Tu-rumbuk (pohon beringin), Tu-Gu, Tu-lang,  Tu-ndak (punden berundak), Tu-tut (limpa) To-san (pusaka), To-peng, To-ya (air).

Dalam penyembahan terhadap Sanghyang Tunggal tadi biasanya disediakan Tu-mpeng, dalam Tu-mpi (keranjang bambu), Tu-ak (arak), Tu-kung (Ayam) yang kesemuanya itu dipersembahkan kepada Sanghyang Tunggal.

Persembahan-persembahan itu hanya sebagai perantara saja untuk mendekati dzat yang Taya tadi, sedang para rohaniawan kapitayan melakukan sembah-Hyang langsung kepada Sanghyang Tunggal di ruangan khusus yang disebut Sanggar. Yaitu sebuah bangunan segi empat, beratap Tu-mpang, dengan Tu-tuk (lubang) di dinding sebelah timur sebagai lambang kehampaan Syanghyang Taya. Adapun praktek sembah-Hayangnya adalah sebagai berikut aebagaimana yang disampaikan oleh KH. Agus Sunyoto :

Mula mula sang Rohaniawan melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap Tu-tuk (lubang) dengan kedua tangan diangkat keatas menghadirkan Sanghyang taya kedalam Tu-tud (hati), setelah merasa Sanghyang taya hadir didalam hati, kedua tangan diturunkan di dada tepat pada Tu-tud (hati), posisi ini disebut Swadikep (sidakep/memegang ke-akuan diri), proses Tulajeg ini dilakukan dalam tempo lama.

Setelah tulajeg selesai, sembahyang dilanjutkan dengan posisi Tu-ngkul (membungkuk memandang kebawah) yang juga dilakukan dalam tempo yang relatif lama.

Lalu dilanjut kan dengan posisi Tu-lumpuk (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki) dilakukan dalam relatif lama.

Yang terakhir, dilakukan dengan posisi To-ndhem (bersujud seperti bayi dalam perut ibunya) juga dilakukan dalam tempo yang lama.

Setelah melakukan sembahyang yang begitu lama itu, Rohaniawan Kapitayan dengan segenap perasaan berusaha menjaga keberlangsungan Sanghyang taya yang sudah disemayamkan didalam Tu-tud (hati).
Seorang pemuja Sanghyang taya yang dianggap saleh akan dikaruniai Tu-ah (kekuatan gaib yang bersifat positif) dan Tu-lah (kekuatan gaib penangkal negatif). Mereka yang memiliki Tu-ah dan Tu-lah itulah yang dianggap berhak menjadi pemimpin masyarakat dengan gelar ra-Tu atau dha-Tu.

Oleh karena itu konsep raja atau ra-Tu bagi masyarakat Jawa dianggap sebagai perwujudan dan pengejawentahan daya gaib Taya atau Tu-han yang ada di muka bumi. Demikian agama dan kepercayaan yang dianut selama berabad-abad oleh Bangsa Nusantara sebelum agama-agama luar masuk ke wilayah Nusantara. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar