Jumat, 29 Januari 2016

Wuludomba Pancal Panggung

Wuludomba Pancal Panggung

Pangeran Benawa adalah putra dari Sultan Hadiwijaya raja Pajang. Bersama dengan saudara-saudaranya yang lain yaitu Pangeran Jatikusuma, Pangeran Jatiswara, Pangeran Warihkusuma, Pangeran Warsakusuma, dan Pangeran Anom (Pangeran Panjaringan) pergi ke kadipaten Jipang untuk memerintah dan menjadi Adipati di sana. Karena sepeninggal Sultan Hadiwijaya yang menggantikan jabatan sultan adalah menantunya yang bernama Arya Pangiri. Walau sebenarnya yang berhak menjadi sultan Pajang adalah Pangeran Benawa karena dialah sebenarnya yang menjadi putra mahkota. Karena saudaranya yang pertama adalah seorang perempuan yang kemudian menikah dengan Arya Pangiri tadi.
Ketika Pangeran Benawa madeg Ratu di Jipang Panolan, Mataram di bawah kepemimpinan Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati menginginkan wilayah-wilayah di brang Wetan tunduk di bawah kekuasaan Mataram termasuk diantaranya adalah Jipang, namun Pangeran Benawa tidak mau. Hingga pada suatu ketika Jipang Panolan menyerang Rajekwesi sebuah kadipaten di sebelah timur Jipang yang telah menyatakan tunduk pada Mataram. Penyerangan itu gagal Rajekwesi berhasil menghalau pasukan Jipang Panolan.
Melihat keadaan yang demikian akhirnya Rajekwesi meminta Mataram untuk membantu kadipaten itu untuk menumbangkan Jipang. Namun sayang Jipang masih cukup kuat saat itu, bahkan pasukan Mataram yang dikirim untuk membantu Rajekwesi dalam menghadapi Jipang melalui jalur bengawan Solo dapat dihalau. Setelah diselidiki mengapa Jipang sangat berani menghadapi gempuran dari Mataram dan Rajekwesi, ternyata Jipang memiliki piyandel berupa pusaka peninggalan dari Pajang yang dikenal dengan nama Wuludumba Panjal Panggung. Yaitu lima buah pusaka yang terdiri dari Pedang Kyai Kangkam, Keris Kyai Karawelang, Keris Kyai Sengkelat, Cundrik Kudi Trantang, dan Tombak Kyai Tunggulwulung. Pusaka yang tersimpan dalam gentong silatung itulah yang dianggap mengayomi kebesaran dan kedigdayaan Jipang Panolan.
Karena dengan cara kekerasan Jipang tidak dapa dilunakkan maka Adipati Rajekwesi, Sosrodingrat berunding dengan para punggawa kadipaten rajekwesi bagaimana caranya bisa menaklukkan Jipang Panolan. Atas usul dari patih Yudanagara agar supaya mencuri piyandel kadipaten Jipang Panolan itu. Usul pun diterima kemudian Tumenggung Danalapa juga memberikan masukan agar yang melakukan pencurian pusaka diserahkan kepada Modin Nguken dan Modin Kuncen, mereka berdua adalah murid dari Pangeran Andongwilis Sukalila yang terkenal memiliki kesaktian ilmu sirep tingkat tinggi.
Setelah dicapai kata sepakat Adipati Sosrodiningrat memerintahkan kepada Bekel Ngasem untuk memberi kabar kepada Modin Kuncen dan Modin Nguken agar menghadap kepada Adipati. Dengan tergesa Bekel Ngasem menaiki kudanya dan memacunya menuju ke arah barat untuk menemui kedua Modin itu.
Sesampainya di Nguken Bekel Ngasem pun memberitahukan agar kedua Modin itu segera sowan kepada Kanjeng Adipati. Karena tidak diberi tahu maksud dari Adipati Sosrodiningrat kedua Modin itu dengan tergesa sowan menuju kotaraja. Di Pendapa kadipaten mereka berdua  diterima oleh Adipati Sosrodiningrat. Setelah berbasa-basi dan menanyakan kabar kedua modin itu Adipati Sosrodiningrat kemudian mengatakan maksud dan tujuan kedua modin itu di panggil ke kadipaten.
“Modin Kuncen dan Modin Nguken, ketahuilah keadaan sedang genting-gentingnya, Jipang Panolan dengan terang-terangan berani menyerang Rajekwesi, setelah Saya rundingkan dengan para punggawa ternyata Jipang Panolan berani menyerang Rajekwesi karena mereka memiliki piyandel pusaka Wuludomba Pancal Panggung. Oleh karena itulah kalian berdua saya minta sowan ke kadipaten. Kalian berdua saya tugasi agar mencuri pusaka itu dari Jipang Panolan” Dawuh Sang Adipati.
Karena menyangkut tugas bela negara mau tidak mau Modin Kuncen dan Nguken pun menerima kewajiban itu, mereka berdua kemudian meninggalkan kadipaten Rajekwesi dan selanjutnya pergi untuk mencuri pusaka Jipang Panolan. Modin Nguken sebagai penunjuk jalan, karena tempat tinggalnya dekat dengan wilayah Jipang, dengan penuh kehati-hatian mereka berdua akhirnya bisa mendekati gedung tempat penyimpanan pusaka.
“Adi Nguken, lihatlah banyak prajurit yang berjaga di sekitar gedung pusaka, kita tunggu hingga tengah malam baru kemudian kita matek aji sirep kita, karena pada saat itulah daya sirep Begananda sedang jaya-jayanya.” Kata Modin Kuncen sambil bisik-bisik kepada Modin Nguken.
“Baiklah Kang, kita tunggu di sini, nanti saat tengah malam mari kira rapal ajian sirep kita, sekalian mencoba daya kekuatan sirep Begananda dari Eyang Guru Andongwilis Sukalila.” Modin Nguken menimpali.
Waktu terus berjalan, para prajurit yang bertugas menjaga gedung pusaka masih mondar-mandir penuh kesiagaan, seakan tiap jengkal ruang dan tempat tidak luput dari perhatian mereka. Malam terus merayap menuju puncaknya, keadaan semakin sepi hanya suara kelepak kelelawar malam yang beterbangan kesana-kemari menyambar buah-buahan dari pohon-pohon di depan gedung pusaka.
Di tempat yang tertutup rerimbunan semak dan pohon-pohon Modin Nguken dan Modin Kuncen masih bersiaga, mereka bersiap-siap menebar kedigdayaan ajian sirep Begananda yang tanpa tanding.
“Kakang Kuncen ini saat yang tepat kita beraksi kakang.” Bisik Modin Nguken
“Baiklah di, ayo bersiaplah !.”
Kemudian kedua modin itu bersedakep mengosongkan pikiran memuja kepada dzat yang maha kuasa, memohon diperkenankan do-a-do’a mereka. Dari bibir kedua modin itu terlihat berkomat-kamit membaca mantra :
“Hong Ingsun amatek aji sirep begananda kang ana Indrajid, kumelun nglimputi ing mega malang, bul peteng ndhedhet alelimengan, upas racun darubesi, pet pepet kemput bawur wora-wari aliwaran tekane waminasara, kang katempuh jim setan peri parayangan, gandarwa, jalma manungsa tan wurung ambruk, lemes wuta tan bisa krekat, bleg seg turu kepatisaking kersane Gusti Allah.”
Setelah selesai membaca mantra, kedua modin itu kemudian njejeg bumi tiga kali sambil menahan napas. Perlahan namun pasti daya sirep begananda mulai bekerja. Tiba-tiba angin bertiup semilir membawa hawa kantuk yang luar biasa, satu persatu para prajurit penjaga gedung pusaka ambruk ke tanah dan tertidur. Bahkan ada pula yang tidur dalam kondisi masih berdiri.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Modin Kuncen dan Modin Nguken, mereka berdua langsung masuk ke gedung pusaka dan mengambil piyandel Jipang Panolan berupa pusaka Wuludomba Pancal Panggung.
Setelah berhasil mereka berdua kabur membawa pusaka itu ke arah timur dengan maksud mereka bisa segera membawanya pulang ke Nguken yang memang tidak terlalu jauh dari Jipang Panolan. Wilayah itu hanya dibatasi oleh Bengawan Solo. Namun sayang pusaka yang diwadahi Gentong terlalu mencolok jika  dibawa langsung, akhirnya Modin Nguken dan Modin Kuncen membagi tugas.
“Adi Nguken, rumahmu kan dekat dari sini, engkau pulanglah terlebih dahulu ke Nguken kemudian setelah itu segera melapor ke Rajekwesi bahwa kita telah berhasil memboyong pusaka Jipang Panolan”
“Baik Kakang, lha Kakang Kuncen sendiri bagaimana ? tanya Modin Nguken
“Saya akan pergi ke Kedung Tuban Adi, di sana saya akan membeli satu gentong sehingga bisa saya pikul Adi, dan saya akan menyamar sebagai pedagang keliling” Jawab Modin Kuncen
“Baiklah Kang, saya pamit dulu dan Kakang Nguken berhati-hatilah, semoga Tuhan melindungi perjalanan Kakang”
“Terima kasih Adi segeralah berangkat, mumpung belum datang waktu Shubuh”
Kemudian Modin Nguken segera beranjak pergi meninggalkan Modin Kuncen yang menunggu datangnya pagi agar keberadaannya tidak dicurigai.
Pagi itu di Kadipaten Jipang Panolan geger, para prajurit disiagakan untuk melakukan pengejaran terhadap maling yang telah mencuri pusaka kadipaten. Di paseban Kadipaten Pangeran Benawa mengumpulkan adik-adiknya untuk merundingkan kejadian tadi malam.
“Dimas Jatikusuma, ketahuilah bahwa pusaka Jipang Panolan telah dicuri, dana kita tidak ada yang tahu siapa dan untuk apa maling itu mencuri pusaka kadipaten.”
“Iya Kangmas, para prajurit juga telah saya perintahkan untuk melakukan pengejaran terhadap maling itu Kangmas.” Kelihatannya malingnya memiliki kelebihan yang luar biasa hingga tak ada satupun dari para penjaga yang mengetahuinya.”
“Oleh karena itu Dimas Jatikusuma saya titahkan kepada kamu dan adik-adikmu semua, Jatiswara, Warihkusuma, Warsakusuma, dan Panjaringan untuk ikut serta melacak hilangnya pusaka kebesaran Jipang Panolan. Dan Jangan pernah kembali sebelum mendapatkan pusaka itu Dimas.” Kata Pangeran Benawa kepada Jatikusuma.
“Baik Kangmas !
Selanjutnya Pangeran Jatikusuma bersama keempat adiknya pun meninggalkan kadipaten untuk melacak hilangnya pusaka kadipaten. Mereka berempat masuk hutan keluar hutan, mendaki bebukitan serta menuruni lembah-lembah serta jurang yang dalam.
.......

Bagaimanakah kisah lima pangeran itu? simak kelanjutannya di lain waktu...terima kasih.












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar