Minggu, 10 Januari 2016

Pak Soes Sang Rektor

Pak Soes Sang Rektor

Pak Soes adalah seorang kakek tua yang membara, berambut putih, kumis dan cambangnya pun sama putihnya. Umurnya sekitar tujuh puluh sembilan tahunan, namun semangatnya tak pernah padam. Semangat untuk terus berkarya walau ia harus menempuh jalan kesunyian. Ia tak memiliki cita-cita dan keinginan yang macam-macam, cukup menulis, menulis, dan menulis. Tidak lebih dan tidak kurang. Menulis adalah jiwanya, menulis adalah semangat hidupnya, dan menulis adalah salah satu alasan ia untuk terus ada.

Soesilo Toer, adik dari penulis Pramodya Ananta Toer yang juga seorang doktor lulusan Institut Plekhanov Uni Soviet yang sekarang tinggal di rumah warisan keluarga besar Mastoer dan mengelola perpustakaan PATABA (Pramodya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) adalah seorang pribadi yang hangat, terbuka, apa adanya, tidak dibuat-buat dan sangat original. Kemarin saat liburan sekolah saya bersaya teman-teman menyempatkan diri dolan ke kediaman beliau yang berada di Jalan Sumbawa No. 40. Karena baru pertama kalinya kami ke PATABA, kami sempat bertanya-tanya kepada orang-orang yang saya temui. Namun sayang  dari beberapa orang yang saya tanya ternyata tidak kenal yang namanya Soesilo Toer. Padahal menurut perkiraan saya pasti orang seluruh Blora atau setidaknya masyarakat sekitar alun-alun Blora kenal dengan yang namanya perpustakaan dan rumah dari keluarga besar Mastoer.

Lha gaung Pram saja tidak hanya selevel nasional bahkan sudah dikenal dari lima benua masak tetangganya saja kok tidak kenal. Kayaknya faktor ideologi yang menjadikan Pram tidak begitu populer di tanah kelahirannya sendiri. Pemerintah daerah kelihatannya juga tidak memiliki perhatian terhadap apa yang diwariskan oleh anak biologisnya itu. Namun penilaian saya ini pun hanya sepintas lintas saja, karena saya di situ juga hanya beberapa jam saja, tentu terlalu dini jika digunakan sebagai acuan penilaian.

Kembali kepada Pak Soes panggilan akrab Pak Soesilo Toer, adalah pribadi yang kuat dan tegar. Beliau juga sosok yang sangat menyenangkan. Di usia yang boleh dikatakan senja beliau masih sangat giat menulis. Banyak buku yang telah ditulisnya disela-sela kesibukannya berternak kambing dan mengurusi pekarangan rumah yang digunakan untuk menghidupi keluarganya. Diantara karya-karya beliau banyak mengulas mengenai sosok kakaknya semisal buku yang berjudul Pram dari Dalam, Pram dalam Kelambu, Pram dalam Bubu, Pram dalam Belenggu, dan Pram dalam Tungku. Selain sibuk menulis dan beternak beliau juga yang mengurusi PATABA.  Jika ada pengunjung beliaulah yang menemani para pengunjung untuk menikmati buku-buku yang ada di perpustkaan itu. Bahkan kita akan dibuat betah dan senang dengan cerita-cerita beliau tentang Pram, tentang Indonesia, dan tentang berbagai hal yang sangat menyenangkan.

Pak Soes ibarat ember kata beliau. Sekali dipukul akan berbunyi berkali-kali. Pak Soes sangat antusias dan sangat senang sekali jika ada orang yang mengunjungi perpustakannya. Ini terlihat dari sambutan beliau kepada kami yang sangat luar biasa. Pancaran wajah beliau sumringah, tawanya renyah, dan senyumnya merekah. Kami yang baru kenal merasa sudah sangat akrab dengan beliaunya. Seakan-akan kedatangan kami ibarat kedatangan seorang cucu yang datang bertandang ke rumah kakeknya. Sungguh-sungguh sangat menyenangkan.

Pak Soes akan sangat senang menceritakan sejarah-sejarah bangsa kita masa silam. Ada banyak hal yang beliau ceritakan dan dijamin kita akan dibuat tertawa ngakak, kadang pula kita akan dibuat terheran-heran dengan cerita beliau yang belum pernah kita dapati di buku-buku. Dan kadang kita juga akan dibuat terbengong-bengong dengan pengetahuannya yang lintas negara. maklum selain pernah sebelas tahun di Rusia beliau juga memiliki referensi buku yang sangat banyak dan beragam jenisnya.

Selain sibuk menulis Pak Soes ternyata adalah seorang “rektor”  dan ini adalah hobi yang dijalaninya semenjak kecil. Dengan status kerektorannya ini beliau merelakan waktu malamnya untuk keliling kota Blora mencari sisa-sisa sampah hotel atau restoran untuk di rektorinya. Korek-korek barang kotor itu adalah salah satu hobi beliau. Hingga meminjam istilah dari Rene Descartes “egito ergo sum” Saya berfikir maka saya ada. Sedang Pak Soes bilang “Lelesa Ergo Sum” Saya memulung maka saya ada.

Itulah sedikit kesan yang saya dapatkan dari seorang Pak Soes yang memiliki ketegaran dan kekuatan untuk memilih jalan kesunyian. Jalan yang hanya mampu ditempuh oleh orang-orang yang memiliki komitmen dan kebesaran jiwa. Saya turut mendo’akan semoga beliau diberi kesehatan dan umur yang panjang, agar salah satu dari cita-cita beliau terkabulkan yaitu mengalahkan kakaknya Pram dalam umur, walau mungkin itu hanya sehari saja. Sekian. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar