Sabtu, 28 November 2015

Sahabat Sejati Penebar Manfaat, Pemberi Syafaat

Sahabat Sejati Penebar Manfaat, Pemberi Syafaat

Manusia adalah makhluk sosial  yang disetiap lini kehidupannya selalu memerlukan sosialisasi dengan golongan manusia lain. Manusia-manusia lain itu bisa bernama saudara, kerabat, tetangga, sahabat, orang yang kita kenal, hingga orang-orang yang tidak kita kenal dan tentu masih banyak yang lainnya. Begitulah memang fitrah manusia tidak bisa melengkapi dan memenuhi kebutuhannya sendiri dari hal yang remeh-temeh hingga hal-hal yang besar tanpa mendapatkan bantuan orang lain.

Bersahabat dengan orang lain adalah termasuk bentuk sosialisasi yang dilakukan seseorang demi memenuhi tuntutan rasa kemanusiaan. Betapa sepinya dunia ini tanpa adanya persahabatan diantara sesama manusia.

Kata persahabatan ini menjadi suatu tanda dan pengikat hubungan diantara dua orang yang tidak memiliki ikatan kekerabatan. Walau demikian ikatan persahabatan yang sejati kadang melebihi ikatan kekerabatan bahkan ikatan saudara kandung sekalipun. Persahabatan memang sangat mempengaruhi kehidupan seseorang, oleh karena itu ketika kita mencari sahabat, Al Qur’an mengajarkan agar mencari sahabat yang baik dan benar, agar kelak kita tidak menyesal. Dalam Surat Al Furqon ayat 27-29 Allah Swt memberikan gambaran dan peringatan mengenai sebuah persahabatan. Silahkan simak arti dari firman tersebut :
27. dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata:                "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul".
28. kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).
29. Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang                   kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.

Begitu pentingnya sebuah persahabatan sampai-sampai Allah Swt memberikan peringatan agar kita berhati-hati memilih sahabat. Jangan sampai karena sahabat kita terjerumus ke dalam hal-hal yang dimurkai Allah dan mengambil jalan yang menyelisihi jalannya para Rosul yang telah diberi petunjuk.

Begitu pentingnya arti sebuah persahabatan Rosulullah SAW juga memberikan perhatian yang lebih, hingga beliau menyebut orang-orang yang menyatakan Islam di zaman Nabi disebut sebagai golongan sahabat Nabi. Di sini ada kedekatan emosional yang sangat kuat sekali antara sosok Nabi Muhammad SAW dengan para sahabatnya.

Sahabat-sahabat Nabi inilah baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshor yang ikut serta menolong dan mendukung dakwah Nabi dalam rangka menyebarkan risalah Islam. Berkenaan dengan hubungan persahabatan ini beliau juga menyatakan dalam sebuah haditsnya bahwa barang siapa yang ingin mengenal seseorang maka perhatikan siapa sahabatnya. Jika ia bersahabat dengan orang baik insyallah baik, begitu pula sebaliknya jika sahabatnya adalah orang-orang yang berperilaku tidak baik kemungkinan ia memiliki tanda-tanda keburukan. Atau setidaknya ia dikhawatirkan tertular keburukan sahabatnya itu.

Berhati-hatilah dalam memilih sahabat, karena perbuatan yang jelek itu lebih cepat menular dibanding perbuatan baik. Sahabat yang baik tentu akan mengajak kepada kebaikan dan ketaqwaan sedang sahabat yang jelek akan membawa kepada kejelekan pula. Sebagaimana dalam sebuah maqolah yang berbunyi :
صديقك من صدقك لا من صدّقك
Artinya : Sahabatmu adalah yang membenarkanmu, bukan orang yang membenar-benarkan kamu.

Itulah sahabat sejati yang apabila kita salah ia akan menunjukkan kebenaran kepada kita, bukan orang yang selalu membenar-benarkan kesalahan-kesalahan kita. Sahabat akan selalu memberikan warna kepada sahabatnya, sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah hadits yang kurang lebihnya, jika kita berteman tukang api, maka kita akan berbau sangit atau bahkan terbakar, dan jika kita berteman penjual minyak wangi kita juga akan tertular bau wewangian itu.

Oleh karena itu para ulama-ulama zaman dahulu memperingatkan agar kita mencari sahabat yang baik. Sunan Bonang dalam  tembang “Tombo Atinya” juga mengingatkan agar kita selalu dekat dengan orang baik, yang beliau konotasikan sebagai orang sholeh. “Wong Kang Sholeh Kumpulono”( Pergaulilah orang yang sholeh).”

Mengapa kita dalam bersahabat harus memilih yang baik dan benar ? sebenarnya tidak ada larangan kepada siapa kita bersahabat, namun jangan sampai sahabat itu nantinya mencelakakan kita, lebih-lebih celaka di akhirat kelak sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al Furqon di atas.

            Sahabat yang baik adalah sahabat yang mengingatkan kita di saat kita melakukan kesalahan, begitu juga sebaliknya kita juga mengingatkannya jika ia melakukan kesalahan. Jadi sahabat yang baik itu bukan yang sama sekali tidak punya kesalahan, karena pada dasarnya manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Di sinilah peran sahabat itu kita perlukan. Sahabat sebagai media untuk berkaca dan melihat kekurangan-kekurangan kita, karena memang seorang sahabat ibarat kaca benggala bagi sahabatnya. Jika peran persahabatan ini bisa maksimal tentu mudah bagi kita untuk selalu “Wa Tawaa Shouw bil Haqqi Wa Tawaa  Shouw bis Shobri” saling nasehat menasehati dalam hal kebaikan, dan saling nasehat menasehati dalam hal kesabaran.

            Itulah fungsi dan manfaat dari sahabat yang baik, sahabat sejati,  sahabat yang memberikan manfaat dan syafaat bagi sahabatnya. Karena besok di akhirat selain syafaatnya Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits juga diterangkan bahwa sahabat juga bisa memberikan syafaat bagi sahabatnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi Muhammad SAW bersabda :
ليدخلن الجنّة بشفاعة رجل ليس بنبي مثل الحيين, أو مثل أحد الحيين : ربيعة ومضر. (أخرجه أحمد)
Artinya : Akan masuk surga karena syafaat seseorang yang bukan Nabi, seperti dua perkampungan atau seperti salah satu dari dua perkampungan : Robiah dan Mudhor. (Diriwayatkan Imam Akhmad).


Oleh karena itu carilah sahabat yang sejati, sahabat yang bisa memberikan manfaat dan syafaat kelak di akhirat. 

Joyojuwoto.
Bangilan Tuban, 28 November 2015

Rabu, 25 November 2015

Memodusi Tuhan

Memodusi Tuhan

Siang yang garang, matahari membara membakar apa saja. Daun-daun jati belumlah bersemi dan musim ungker yang menjadi semacam pesta tahunan di bulan November yang ada di kampung saya masih tampak sepi. November rain menjadi semacam hantu candik kala yang tak pernah datang guna menakuti anak-anak jelang senja. Hujan yang dirindukan banyak orang datang terlambat, hanya kadang sedikit rintik-rintik sempat menyapa, udan uyoh wewe kata tetangga-tetangga desa saya.

Di sebuah warung kopi dipinggir jalan, di pinggirnya tumbuh pohon yang rindang. Sebatang pohon asem  rimbun peninggalan zaman Belanda menaungi sebuah warung bambu yang telah renta. Orang-orang tampak asyik mengobrol ngalor-ngidul. Menghabiskan siang yang panas dengan secangkir kopi dan cemilan.

Di depan warung terdapat dingklik-dingklik bambu yang kusam, di salah satu saya dan Parmin duduk nyangkruk di atasnya sambil gayeng menyeruput kopi yang masih panas mengepul.

“Kang, apa ini salah mongso ya, sampai hari ini hujannya kok tak kunjung tiba” Tanya Parmin kepada saya saat  kami ngobrol di dingklik warung kopi di bawah pohon asem.

“Mbuh ya Min, Biasanya dibulan seperti ini sudah musim hujan, Tak tahu kenapa tahun ini kok tidak seperti biasanya. Panasnya ini lho seperti neraka bocor saja” jawab saya sekenanya.

“Apa Tuhan marah ya sama manusia, sekarang kan orang sama berlomba menumpuk dosa. Mumpung masih muda katanya” Tebak Parmin berusaha mengurai rahasia Tuhan.

“Katanya sih, mumpung masih muda hidup dipakai foya-foya, nanti dewasa menjadi kaya-raya, baru deh saat umur menjelang senja bertobat dan akhirnya masuk surga” begitu kata Parmin melanjutkan celotehnya.

Saya yang saat itu sedang menyeruput secangkir kopi kotok yang ada di meja warung hanya diam. Sensasi kopi yang wangi saya hirup dalam-dalam. Kelembutan dan kehangatan kopinya mengingatkanku tentang sebuah buku kecil yang pernah saya baca “Filosofi Kopi”karya Dee. Yah ! memang sebenarnya saya lebih mencintai romantisme minum kopi dari segi filosofinya, saya lebih berasa mencecap makna-makna simbolis dari sebuah aktifitas minum kopi dibanding minum dzatnya kopi itu sendiri. Walau begitu saya masih sadar antara yang saya minum kopi beneran atau sekedar memuaskan hayalan.

“Memang Kang Dunyo wis tuwo, aneh-aneh saja tingkah orang sekarang” sahut saya.

“Lha iya, sekarang orang nglakuin dosa tu terang-terangan dan bangga, katanya sich cari yang haram saja susah, apalagi yang halal. Itu kan namanya kan membanggakan dosa kang.”
“Terang saja Tuhan murka, hujan gk turun-turun.” Lanjut Parmin penuh move on.

“Ya gak tahu Min, itu suka-suka Tuhan, mau marah atau tidak, mau menurunkan hujan atau tetap kemarau ya hak-hak Tuhan Kang” sahut saya.

Parmin tampak diam, tidak tahu apa dia sedang ia pikirkan. Merenungi kata-kata saya atau sedang merangkai kata untuk membalas ucapan saya. Sesekali ia menyedot kretek yang terselip diantara jari telunjuk dan jari tengahnya. Khusu’ dan sangat tuma’ninah sekali. Parmin dengan penuh penghayatan meniupkan asap-asapnya ke udara, wushh... asap-asap itu membentuk gambar-gambar imaji tidak jelas. Saya yang memang tidak merokok hanya menikmati gelas kopi yang hampir habis dan nglethik beberapa butir kacang goreng yang ada dipiring di meja warung.

“Ya memang bener Kang itu hak Tuhan, Qudrate Pengeran. Tapi kan Tuhan sudah menyerahkan semua ini pada mekanisme alam. Hukum Sunnatullah katanya” Sergah Parmin.

Lha itu kamu tahu Min, manusia hanyalah hamba. Sakdermo nglakoni, tidak punya wewenang merintah Tuhan, Tuhan kok diperintah. Mau hujan di musim kemarau mau panas di musim hujan ya terserah yang di atas Min”

“Kalau mau berdo’a ya berdo’a aja, tidak usah pakai gaya memerintah. Hehe... Sambung saya.

“Iya Kang, namun sekarang itu manusia itu banyak modusnya. Jangankan sesama manusia, Tuhan saja dimodusi..hehe.” kekeh Parmin seperti tertawa dengan dirinya sediri.

“Lha emang kenapa Min, kok modus segala ?” tanya saya sambil menyeruput kopi yang penghabisan.

“Lha gimana gak modus, antara kebaikan dan perbuatan jahat kok bisa berdampingan. Pagi ini maksiat, nanti siang tobat. Dan itu dilakukan berulang-ulang. Kapok lombok kata orang Jawa. Apa tidak modus itu”.

“Belum lagi apa-apa yang dikerjakan seseorang itu butuh pengakuan dan pencitraan. Amal sedekah yang tidak seberapa saja itung-itungan sama Tuhan Kang. Biar dibalas berlipatlah, biar selamat dari musibah lah, biar dianggap dermawanlah.”

“Naik haji juga begitu niatnya menaikkan gengsi sosial, biar dipanggil pak Haji. Apa pernah dengar panggilan Haji Nabi Muhammad SAW, Haji Abu Bakar As Siddiq, Haji Umar hehe...Apa kalau mengerjakan shalat juga mau dipanggil musholli, kalau sudah zakat dipanggil muzakki. Wah banyak pokoknya tuntutannya sama Tuhan.” Ceramah Parmin dengan segenap disiplin keilmuan pesantrennya keluar memberondong bertubi-tubi.

Khutbah siang Parmin semakin menjadi-jadi. Seakan ada hubungan yang linier antara suhu siang itu dengan pikiran Parmin yang juga sedang fire on.

Saya hanya diam, dan terus mendengarkan ceramah semi partikelir Parmin yang semakin menjadi-jadi. Kadang ikut tertawa atau hanya tersenyum mendengar penuturan sahabatku itu. Dan tak terasa cangkir-cangkir kami telah kosong menyisakan lethek hitam kental. Biasanya Parmin menggunakan lethek itu untuk mbolot kreteknya.

Siang semakin garang, matahari pun tetap membara membakar apa saja. Daun-daun jati belumlah bersemi dan musim ungker yang menjadi semacam pesta tahunan di bulan November yang ada di kampung saya masih tampak sepi. November Rain seakan menjadi sebuah mitos, setidaknya sampai siang ini.

Joyojuwoto.
Bangilan Tuban, 27 November 2015

Roro Oyi Tumbal Asmara Putra Mahkota dan Sang Raja

Roro Oyi Tumbal Asmara Putra Mahkota dan Sang Raja

Entah dosa apa yang diperbuat oleh gadis cantik peranakan Cina-Jawa putri Ki Ngabehi Mangunwijaya. Anak gadis yang baru menginjak usia remaja ini harus rela membuang  indahnya masa kanak-kanak.  Begitulah kadang anugerah berbuah malapetaka dan menjelma luka nestapa, gadis cantik ini dipaksa meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan teman-teman sepermainannya di Banyuwangi guna memenuhi hasrat birahi Sang Raja Mataram Amangkurat I.

Benar kata Eka Kurniawan bahwa “Cantik Itu Luka”. Kecantikan Roro Oyi ternyata tidak sebanding dengan kecantikan nasibnya. Memang saat itu sosio kultural masyarakat memandang bahwa terpilih sebagai istri Raja adalah kebanggaan dan semacam keberkahan hidup, walau hanya sekedar menjadi selir sang raja, walau hanya sekedar menjadi klangenan dari seorang penguasa. Begitu juga yang terjadi dengan gadis cantik Roro Oyi.

Roro Oyi dibawa ke Mataram, karena Roro Oyi belum cukup umur untuk diambil istri Ingkang Ngerso Dalem, maka ia dititipkan di rumah Ngabehi Wirorejo. Hari-hari selanjutnya Roro Oyi harus menghabiskan waktunya menjadi gadis pingitan. Ia diajari oleh Nyi Wirorejo dengan berbagai adat-istiadat keraton dan ketrampilan merawat diri serta ketrampilan olah dapur.
***

Setelah kematian Sang permaisuri Ratu Truntum Amangkurat meradang dan menjadi gelap mata, Sang Raja yang lalim ini menghukum siapa saja yang dianggap menjadi biang kematian permaisurinya. Ia tidak peduli lagi segala aturan. Orang-orang yang dianggap bersalah dihukum tanpa ada proses pengadilan. Begitulah  jika egoisme dan ambisi nafsu kekuasaan mengamputasi nurani kebenaran.

Setelah mendapat keterangan dari tabibnya bahwa kematian Ratu Truntum disebabkan oleh racun, maka Amangkurat murka. Ia menyuruh kepada prajuritnya agar menghukum selir-selirnya yang dianggap ikut bertanggung jawab atas kematian sang permaisuri. Amangkurat I menuduh bahwa selir-selirnya telah bersekongkol untuk membunuh Sang Ratu. Sehingga mereka semua harus mendapatkan hukuman.

Sebanyak lebih dari empat puluh selir raja dikurung di dalam sebuah kamar tanpa makanan apapun selama beberapa pekan. Akhirnya selir-selir ini banyak yang mati kelaparan, bahkan ada yang sampai saling memakan bangkai teman-temannya yang lebih dahulu meninggal dunia, hingga keseluruhannya juga ikut menyusul teman-temannya ke alam baka.  Tragis dan sangat mengerikan. Kebiadapan yang tak terperikan.

Drama kekejian Amangkurat I  tidak berakhir di sini. Setelah ia dirundung duka nestapa karena ditinggal wafat istri yang paling dicintainya, ia meminta untuk dicarikan istri yang sebanding dengan kecantikan dan wibawa Ratu Mas Truntum.

Adalah Pangeran Pekik yang mendapatkan tugas dari istana untuk mencarikan pendamping bagi sang Raja. Kemudian ia memerintahkan Demang Noyotruno dan Mantri Yudokarti untuk pergi mencari wanita yang katuranggannya dan jalarannya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Amangkurat I. Berdasarkan wisik yang diterima dari ahli kebatinan keraton mereka harus mencari di daerah yang tanahnya berbau harum dan sumber mata airnya wangi serta jernih.

Dari  peristiwa inilah awal mula petaka yang menimpa Roro Oyi. Setelah Roro Oyi dititipkan di Dalem Wirorejan, sang gadis yang awalnya masih kanak-kanak ini pun tumbuh menjelma menjadi gadis remaja yang jelita. Kecantikan dan tindak-tanduknya sungguh mempesona hingga  membuat siapa saja yang melihatnya akan jatuh cinta kepadanya. Kecantikan dan keluwesan Roro Oyi tentu sebanding dengan kecantikan Ken Dedes, Roro Jonggrang, ataupun putri Majapahit Dewi Kencono Wungu.

Raden Mas Tejoningrat cucu Pangeran Pekik, putra dari Amangkurat I yang saat itu baru pulang dari medan tempur melawan kaum pemberontak tidak sengaja melihat kecantikan Roro Oyi di Dalem Ngabehi Wirorejo . Ia pun menjadi penasaran dengan gadis itu. Oleh Pangeran Pekik diberitahukan bahwa Roro Oyi adalah putri sengkeran keraton yang kelak pada waktunya akan dinikahi oleh ayahnya.

Seakan panah asmara telah menikam jantung hati Sang Pangeran, setelah dari Dalem Wirorejan Raden Mas Tejoningrat jatuh sakit. Ia banyak mengurung diri di kamarnya. Sang Pangeran  menderita sakit asmara jatuh wuyung kepada gadis pujaannya. Melihat cucu kesayangannya jatuh sakit Pangeran Pekik akhirnya datang ke Wirorejan untuk meminta agar Roro Oyi bisa dinikahkan dengan cucunya. Awalnya [ermintaan itu ditolak oleh Demang Wirorejo, namun setelah dikatakan bahwa Pangeran Pekik akan bertanggung jawab maka Ki Demang pun merelakan putri yang akan dipersunting oleh Ayah dari Raden Mas Tejoningrat sendiri.

Betapa bahagianya Raden Mas Tejoningrat keinginannya untuk bersanding dengan Roro Oyi terlaksana. Begitu juga dengan Roro Oyi, ia pun lebih memilih menjadi istri dari seorang pemuda daripada menjadi istri ayah dari pemuda itu. Namun sayang cinta di bumi sengkeran itu harus dibayar dengan harga yang mahal.

Demi mendengar gadis pingitannya dinikahi oleh anaknya sendiri Amangkurat I menjadi murka. Ia tidak peduli bahwa yang menjadi sebab adalah mertuanya sendiri yaitu Pangeran Pekik. Maka karena kesalahannya yang telah berbuat melampui batas melebihi kewenangan Sang Raja, Pangeran Pekik dianggap bersalah dan mendapat hukuman mati. Akhirnya Pangeran Pekik digantung di alun-alun istana. Tidak hanya itu saja seluruh orang-orang dari keluarga Dalem Surabayan juga dibantai tak tersisa. Mereka kemudian dimakamkan di Bukit Banyusumurup wilayah sebelah selatan makam Imogiri.

Sedang Raden Mas Tejoningrat pun mendapat murka. Ia diberi pilihan antara tahta Mataram atau wanita. Jika ia memilih tahta Mataram ia harus membunuh istrinya, namun jika ia memilih wanita, Tejoningrat harus kehilangan jabataan putra mahkota pewaris kerajaan Mataram.

Tejoningrat bingung, ia terbayang wajah kakeknya Pangeran Pekik yang harus merelakan nyawanya demi kekasih hatinya. Dia pun sangat mencintai Roro Oyi, namun dia harus memilih tahta Mataram atau cinta. Takdir pun berbicara kadang cinta hanya permainan perasaan saja, ketika ia harus memilih diantara dua hal itu, Tejoningrat melupakan cintanya, ia lebih gandrung dengan kekuasaan, ia lebih memilih tahta mataram dibanding harus mempertahankan cintanya kepada Roro Oyi.

 Akhirnya tragedi yang memilukan itu pun terjadi, gadis cantik Roro Oyi harus menjadi tumbal dari permainan asmara Putra Mahkota dan Sang Raja. Besarnya syahwat kekuasaan telah mengalahkan cinta Sang Putra Mahkota hingga ia rela membunuh istrinya tercinta. Roro Oyi nasibmu tak secantik parasmu.

Joyojuwoto
Subuh, 25 November 2015

Kamis, 19 November 2015

Hidup Sepenuh Berkah

Hidup Sepenuh Berkah
Tulisan yang menjadi judul resensi ini saya kutip dari judul buku M. Husnaini “Hidup Sepenuh Berkah, Percik Hikmah Penggugah Jiwa.” Jika ada pepatah yang mengatakan jangan menilai buku dari sampulnya, maka kali ini saya kurang sepakat pada kalimat tersebut. Setidaknya pada buku yang ditulis oleh M. Husnaini, dari judulnya saja sudah cukup memberikan pelajaran kepada kita tentang hakekat hidup yang sebenarnya.

Seandainya tulisan saya hanya menampilkan judul buku tersebut saya kira sudah tidak perlu saya panjang lebarkan. Hidup adalah sepenuh berkah, selesai bukan. Apa yang kita cari dalam hidup ini kalau bukan keberkahan. Benar sekali apa yang diucapkan oleh Ira D. Aini dalam testimoni buku ini bahwa : “Keberkahan membuat hidup kita berlimpah dan bergairah...” Sudah kan ! itu yang dikejar-kejar orang sepanjang umurnya agar hidupnya berlimpah keberkahan.

Kata berkah dalam termonologi pesantren sering dimaknai “Ziyaadatul Khoir Lil Ghoir”  yaitu bertambahnya kebaikan untuk orang lain. Jadi hidup akan berkah jika kita bisa memberikan berkah dan manfaat untuk orang lain.  Begitu yang disinggung oleh penulis dalam buku ini pada judul “Membumikan Altruisme Islam.”Menurut penulis kemuliaan pribadi bukan sebatas karena rajin beribadah ritual. Menurut Rosulullah pribadi yang hebat adalah yang paling bagus tingkah lakunya dan paling banyak manfaatnya bagi sesama.

Buku yang ditulis oleh Pak Husnaini ini sederhana, namun isinya luar biasa. Meminjam istilah judul dalam buku ini “Membumikan Wasiat Langit” saya juga ingin mengatakan bahwa buku ini sangat membumi dan enak untuk dinikmati. Tak perlu anda mengerutkan dahi untuk mencerna tiap lembar dalam buku ini. Dengan keahliannya meracik hal-hal yang sederhana penulis mampu menghadirkan menu yang luar biasa. Istilahnya warung kaki lima rasa bintang lima J enak dibaca dan ramah di saku hehe...begitu kira-kira.

Bahasa yang digunakan oleh penulis tidak muluk-muluk, mengalir, akrab dan terkesan seperti mengajak mengobrol pembaca.  Tidak menggurui maupun mendogma. Apa adanya dan membicarakan hal-hal yang sangat dekat dengan kita, berbicara masalah ketupat, masalah golput, masalah hajatan dan lain sebagainya.

Terakhir, saya kutipkan isi buku ini di halaman 190 dikatakan “Terjadi silap paham antar sesama adalah biasa. Yang terpenting, jangan gegabah membuat kesimpulan sebelum melakukan tabayyun atau klarifikasi terhadap pihak terkait.” Jadi saumpama ada hal-hal yang kurang tepat dari penyampaian saya tentang buku ini silahkan berguru pada buku ini secara langsung atau silahkan bertabayyun langsung dengan penulisnya. Sekian. Joyojuwoto.





Rabu, 18 November 2015

Mencintai Tuhan Sepenuh Cinta

Mencintai Tuhan Sepenuh Cinta

Gambar : samanan01.wordpress.com
Sobat dumay di manapun kalian berada, pernah kan kalian menikmati malam dengan sebungkus kacang goreng di musim penghujan, atau saat-saat menikmati secangkir kopi ataupun teh hangat di saat rintik-rintik hujan mulai turun. Seger dan nikmat. Rasa-rasanya pengin nambah terus dan nggak mau berhenti kan makannya. Pengin terus mencecap dan menikmati aroma kopi dan teh yang semerbak harumnya. Atau mungkin jika kalian penikmat kretek, wah jangan tanya hidup terasa menjadi milik kita sendiri, hidup hanya selebar daun tembakau, hidup seperti sepanjang sembilan senti.

Tak perlu berfikir apapun tentang masa depan, karena memang hidup ya saat ini, kemarin adalah masa silam dan esok pun masih misteri yang sedikitpun kita tidak mengetahuinya. Jadi hidup ya ini apa adanya dan kita nikmati seindah mungkin. Mensyukuri nikmat Tuhan dan segala karunia-Nya yang tak terbatas.

Tuhan Maha Kasih dan Sayang kepada hamba-Nya, mana mau Tuhan melihat hamba-hamba-Nya menderita dan sengsara. Tuhan yang Maha Cinta tak mau melihat kita galau, susah, gelisah. Tuhan selalu hadir bersama hamba-Nya. Coba perhatikan betapa mesranya Tuhan menghibur kita “’alaa bidzikrillahi tathma’innul qulub” bukankah dengan mengingat Tuhan hati kita menjadi tenang. Tuhan juga tidak mau hambanya kekurangan, Tuhan telah siapkan alam semesta beserta segala isinya guna memenuhi kebutuhan manusia. Alam ini tidak akan habis guna memenuhi kebutuhan seluruh makhluk-Nya, namun tentu bukan keinginan nafsunya yang tiada habisnya.

Nikmat Tuhan mana lagi yang akan kita dustakan ? Air, udara, tanah, api, gunung-gunung, hutan, laut, udara semua untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tak ada alasan kita tidak mencintai-Nya, karena cinta Tuhan Maha tak terbatas, cinta Tuhan di atas segala teori cinta.

Ketika Tuhan memerintahkan kita untuk Shalat, zakat, puasa, haji, bersedekah tidak lain karena itu kebutuhan kita untuk menjumpai-Nya. Bukan karena surga, bukan karena bidadari, bukan karena kenikmatan-kenikmatan dan kelezatan yang berbau duniawi. Ketika kita shalat sebenarnya kita sedang bermi’raj di sidratul muntaha menemui-Nya dalam cinta. Nabi bersabda “Mi’rojul Mu’min As Shalaatu” Mi’rojnya seorang mukmin adalah ketika ia menjalankan shalat. Jadi ketika kita shalat jangan main-main dengan shalat kita. Jangan seperti anak kecil yang diiming-imingi mainan lalu mau shalat. Shalatlah karena cinta, shalatlah karena bermuwajah dengan-Nya.

Begitu juga ketika kita menjalankan ibadah-ibadah lainnya seperti puasa, zakat, haji dan lain sebaginya, niatnya harus Lillahi Ta’ala, niatnya harus tulus bukan itung-itungan dengan Tuhan.

Era sekarang ini lagi marak-maraknya perdagangan dengan Tuhan. Mau sedekah agar mendapat balasan berlimpah, mau membantu jika dapat pujian dan penghormatan. Memang benar Tuhan pasti membalas kebaikan dan sedekah kita dengan berlipat-lipat jumlahnya, tapi mbok yo jangan begitu toh caranya. Adab dan solah bawanya perlu dijaga biar tidak norak.

 Jika kita mau menyadarinya sebenarnya yang butuh sedekah itu bukan orang miskin, tapi justru kitalah yang butuh mereka. Jadi sama-sama butuhnya. Jangan merasa sok telah membantu mereka, justru dengan adanya mereka kita dibantu. Karena pada hakekatnya ,enolong orang miskin dan orang-orang yang sedang kesusahan sebenarnya adalah jalan dimana kita bisa bertemu “Tuhan”

Mencintai Tuhan sangatlah intim dan pribadi, kita tidak boleh mencampuri rasa itu dengan keinginan-keinginan dan hastar duniawi lainnya. Cukup cinta Tuhan tanpa menyertakan yang lainnya. Cukup Tuhan saja yang tahu. Wa kafaa billahi sahiidan. Dan Tuhan pun sebenarnya telah menempatkan diri yang bisa dijangkau untuk dicintai. Ana Aqrabu min hablil warid, Saya lebih dekat dengan urat nadi seorang hamba. Tuhan berbisik saya selalu menyertai hamba-Ku, tidak pernah sejengkal pun Aku meninggalkannya.

Walau Tuhan Maha Ahad, Maha Tunggal, Maha perkasa dengan segala eksistensinya namun ingatlah selalu Tuhan juga Maha Wakhid. Yang Manunggal, Yang menyatu berintegrasi  dengan Hamba-Nya. Yang merendahkan diri-Nya, mendekat ke hamba-Nya..nyawiji... Begitu kata Cak Nun kepada Rendra, hingga akhirnya Rendra terguguk menangis dan berkata “Tuhan Aku mencintai-Mu”.
Oleh karena itu mari belajar mencintai Tuhan dengan sepenuh cinta, agar kita tak lagi berjarak dengan-Nya. Joyojuwoto

Selasa, 17 November 2015

Menulis ternyata mempercepat Hari Kiamat

Menulis ternyata mempercepat Hari Kiamat

Hari kiamat adalah sebuah kepastian, namun kapan datangnya ini yang menjadi rahasia besar. Tidak ada satu pun makhluk di dunia yang tahu kapan hari itu akan datang. Rosulullah SAW sendiri pun menyatakan bahwa beliau juga tidak mengetahuinya, hanya saja Allah Swt memberikan tanda-tanda akan datangnya hari yang maha dahsyat itu. 

Di dalam al Qur'an terdapat banyak ayat-ayat yang menceritakan tentang hari kiamat, salah satunya seperti yang tercantum dalam surat Al Infitar ayat 1-3 yang berbunyi : 





Artinya : 1. Apabila langit terbelah-belah, 2. Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, 3. Dan apabila lautan dijadikan meluap. (Al Infitar ayat 1-3)

Begitu dahsyat dan mengerikannya hari kiamat, hingga semesta ini mengalami bencana, langit tempat kita berteduh runtuh, bintang-bintang berjatuhan dan lautan meluap. Kondisi ini tentu sangat mengerikan sekali.

Lebih mengerikan lagi ternyata diantara tanda kiamat itu telah tampak di depan mata kita. 

Dengan majunya teknologi informasi dan komunikasi seperti di era sekarang ini ternyata mempercepat datangnya hari kiamat. Era internet dengan semua dzurriah-dzurriahnya seperti facebook, twitter, instagram, BBM, Whatshap, Line, Blog dan lain sebagainya ternyata memiliki dampak bagi datangnya hari yang menggoncangkan itu. 

Diceritakan dari Umar bin Tsa'lab r.a. bahwasanya Rosulullah 'Alaihi wa Sallam bersabda :"Sebagian dari tanda-tanda dekatnya hari kiamat, adalah tersebarnya (melimpahnya) harta benda dan luasnya perniagaan. Dan pena-pena akan bermunculan yang menunjukkan banyaknya bacaan dan tulisan." (Riwayat An-Nasa'i).

Jika kita memperhatikan hadits ini, sangatlah jelas kiamat akan segera tiba, entah kapan. Tanda-tandanya seiring waktu sudah mulai bermunculan. Di era internet ini tiap orang  disibukkan dengan menulis. Mulai menulis status di Facebook, di BBM, di Line, Twitter, Blog dan lain sebagainya. Begitu senangnya kita menulis, sampai aktivitas apapun kita bagikan kepada orang lain, dari yang memang penting hingga hal remeh-temeh yang tidak perlu. Biar eksis katanya.

Jika kita menulis tentang nasehat dan amal kebaikan akan dimintai pertanggungjawaban, lalu bagaimana dengan segala keluh dan kesah kita di dinding-dinding maya itu ? Apakah akan kita biarkan diri kita memikul beban dari status-satus di Facebook, twitter, BBM wa 'alaa alihi.

Kemudahan-kemudahan untuk menulis dan mencari informasi dari berbagai media sosial ini harus kita manfaatkan untuk kebaikan. Karena tulisan kita kelak tentu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Jangan hanya rajin menulis tapi lupa amal. Agar kita tidak termasuk "Kabura Ma'tan "indallahi an Taquuluu Maa Laa Taf'aluun.". Joyojuwoto

Sabtu, 14 November 2015

Resensi dan sebuah kesaksian dari Buku Jangan Lelah dan Kalah Selalu Ada Cinta Tuhan di Balik Setiap Langkah

Resensi  dan sebuah kesaksian dari Buku Jangan Lelah dan Kalah
Selalu Ada Cinta Tuhan di Balik Setiap Langkah


Buku “Jangan Lelah dan Kalah, Selalu Ada Cinta Tuhan di Balik Setiap Langkah” yang ditulis oleh Endrik Safudin ibarat obat. Kalian tahu kan obat ? tentu berbeda dengan minuman soft drink atau makanan cepat saji yang miskin gizi itu.

Begitu juga dengan buku yang ada di tangan saya ini. Satu demi satu judul saya teguk, Lembar demi lembar saya lahab, kalimat demi kalimat, kata demi kata, huruf demi huruf saya cicipi, saya rasakan, dan kesegaran serta manfaat dari buku ini langsung terasa. (kayak obat sakit gigi J ). Bahasanya sederhana dan mudah dicerna, tak pelu sekolah tinggi-tinggi atau bahkan sampai kuliah S2 untuk memahami buku ini, dan yang paling penting obat ini, eh.. buku ini maksud saya sangat cocok dikonsumsi di era revolusi medsos yang menggelora.

Kalian tentu juga penganut aliran medsos kan ? baik itu madzhab facebook, twitter, Instagram, BBM, WA, Line ataupun madzhab-madzhab yang lainnya. Setiap saat di dinding maya layanan medsos tersebut kita disuguhi berbagai macam model manusia. Ada yang ceria berbunga-bunga, ada yang gundah-gulana tiada hentinya. Kayak mobil yang remnya blong gitu, berhenti-berhenti kalau sudah nabrak tugu jalanan. Astagfirullah wa na’udzubillah ya brow and Sista.

Hehe...kok isinya muji-muji terus sich ? apa bener sudah dibaca JJJ, apa sesempurna itu sebuah buku. Kalem dulu saudara-saudara,saya ini memang sedang memberikan kesaksian akan kebaikan dari bukunya Pak Dosen ini bung. Kalau masalah kelemahan dan kekurangan jangankan bukunya, orangnya saja tentu masih banyak minusnya bung. Begitu pula dengan kita tentu sama juga kan banyak khilafnya. Jadi boleh kan saya hanya menyebut kebaikannya saja.

Oke dah, biar clear dan kalian tidak manyun begitu saya cuplikkan dan saya bagikan sedikit dari isi buku ini, tapi janji ya, jika brow-brow and sista-sista penasaran jangan cari saya ya ! saya tidak tanggung jawab. Sebenarnya sich kalau jawabnya saya mau, kalau nanggungnya itu lho yang gak nguatin. Hehe...jadi ingat lagunya “Ande-ande orong-orong gak melu nggawe melu momong” haha...gokil amat sich lagu itu. Coba diganti begini aja “Ande-ande orong-orong dosamu gedhe ojo bohong” hemm..rasain tu ya yang suka bohong.

Wah!!! Malah nglantur ke mana-mana, ok konsentrasi ! konsentrasi ! saya akan membagikan sedikit dari buku yang saya baca. Buku yang ditulis oleh Pak Endrik ini dibagi menjadi dua cermin. Cermin pertama diawali dengan judul “Dengarkan suara hati” judul ini ditaruh depan oleh penulisnya tentu bukan main-main. Walau saya belum konfirmasi sama beliaunya boleh kan saya menafsirinya dengan metode tafsir bil ra’yi. Begini saudara-saudara seperti apa yang ada di dalam buku ini dituliskan pada halaman 5  di alinea ke dua “Dengarkanlah kata hati Anda, karena dia selalu menyuarakan kebenaran dan membimbing Anda untuk meraih kebahagiaan sejati” Inilah salah satu dari sekian keunggulan buku ini, dengarkan suaraa hati anda agar anda bahagia. Dalam sebuah hadits Rosulullah SAW juga bersabda : “Ingatlah bahwa dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).

Lha betul kan apa kata saya, buku ini penuh gizi dan multivitamin, itu baru satu judul di cermin pertama. Dan masih banyak lagi judul-judul yang tak kalah gregetnya.

Di cermin kedua lebih heboh dan non mainstrem banget. Coba perhatikan saya ambil salah satu judulnya. “Indahnya rasa sakit” wow!!! Tidak salah tu... Biasanya kan Indahnya jatuh cinta. Siapa juga yang merasakan indah saat sakit, yang ada ngomel dan ngresulo melulu kan. Tapi dijudul ini penulis kayaknya ingin membuka dan membagi satu rahasia besar kepada makluk yang namanya manusia yang sering lupa agar bisa menikmati indahnya rasa sakit. Memang ada !!! ada dong, coba perhatikan hadits Nabi yang dicuplik oleh penulisnya, bahwasanya Rosulullah SAW bersabda : “Tiadalah seorang muslim itu menderita kelelahan, atau penyakit atau kesusahan (kerisauan hati) hingga tertusuk duri melainkan semua itu akan menjadi penebus kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Coba siapa yang tidak mau diampuni dosa dan kesalahannya, semua tentu mau kan. Oleh karena itu ketika kita didera sakit fisik maupun sakit hati maka bersabarlah karena itu kaffarat untuk melebur dosa-dosa kita. Tapi jangan njarak sakit hati melulu ya, dengan alasan biar Allah mengampuni dosa-dosa kita. Sebelum saya tutup kesaksian ini, saya akan berperan seperti wikileak yaitu membocorkan identitas penulis bagi yang penasaran dengan buku ini, agar segera menghubunginya.Teng ting teng.....Penulis Buku Jangan Lelah dan Kalah, Selalu Ada Cinta Tuhan di Balik Setiap Langkah bisa dihubungi via Facebook atas nama Endrik Safudin. 


 “Buku ini mengingatkan kembali bahwa semua ujian, cobaan, musibah yang menimpa manusia adalah sebuah pelajaran. Pelajaran yang pada akhirnya akan meningkatkan level derajat kita.”

---Joyojuwoto  
Utadz di PP ASSALAM Bangilan Tuban, Tuban

Rabu, 11 November 2015

Selamat Hari Jadi Kabupaten Tuban Yang Ke 722

Kami Segenap Blogger Tuban mengucapkan :
" Selamat dan Sukses Hari Jadi Tuban Ke - 722"
( 12 November 1293 - 12 November 2015 )

Semoga mampu mewujudkan masyarakat Tuban yang lebih maju, Religius, sejahtera, dan bermartabat dalam tata pemerintahan yang kreatif dan bersih serta mampu mengejawentahkan  semboyan Tuban Bumi Wali. Salam.

Selasa, 10 November 2015

Pasujudan Sunan Bonang Lasem Tangga Menuju Langit

Pasujudan Sunan Bonang Lasem Tangga Menuju Langit

Ketika saya berziarah ke tempat pasujudan Sunan Bonang yang ada di Lasem, saya merasakan kehadiran sosok beliau. Saya mengagumi Raden Makhdum Ibrahim putra Sunan Ampel  itu. Banyak hal yang dapat dipetik dan diambil hikmah dari riwayat perjalanan beliau. Sunan Bonang memang seorang wali memang sangat luar biasa, selain beliau ahli dalam ilmu agama beliau juga seorang yang arif dan bijaksana. Sunan Bonang sangat menghormati kultur budaya masyarakat. Hal ini terbukti dengan warna dan corak dakwah beliau yang mengikuti arus tapi tidak terbawa arus masyarakat.

Sunan Bonang walau dari golongan priyayi namun beliau mampu menerapkan falsafah Manjing ajur ajer cendhek datan kaungkulan, dhuwur datan ngungkul-ungkuli. Hal ini menjadikan Sunan Bonang dicintai dan dihormati oleh masyarakat di manapun beliau tinggal.



Pasujudan Sunan Bonang menyimpan daya tarik yang luar biasa bagi para wisatawan rohani maupun bagi masyarakat yang ingin menikmati keindahan panorama senja di atas bukit. Lanskap pantai yang membentang di utara bukit Bonang tampak indah dengan jajaran perahu-perahu milik nelayan setempat.

Selain tempatnya yang indah dan enak dikunjungi pasujudan Sunan Bonang juga menyimpan energi barakahnya para wali, khususnya Sunan Bonang tentunya. Para peziarah yang datang ke tempat itu tentu punya niat yang bermacam-macam, mereka berdoa, bertabarrukan dan bertawasul dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an di lokasi Pasujudan. Ketika saya akan masuk ke pasujudan juru kunci mengingatkan bahwa tujuan ke pasujudan adalah untuk berdo’a kepada Allah semata.

Menurut saya, Pasujudan Sunan Bonang selain berfungsi sebagai tempat ziarah juga memiliki makna filosofis yang tinggi. Saya menyebutnya batu itu sebagai tangga-tangga menuju langit. Sunan Bonang meninggalkan pasujudan dalam rangka untuk memberikan pesan kepada kita agar kita tidak lupa untuk bersujud. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

عن أبى هريرة أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال :
 أقرب ما يكون العبد من ربّه وهو ساجد فأكثروا الدّعاء

Dari Abu Hurairoh, bahwasanya Rosulullah SAW bersabda : “Keadaan paling dekat seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah do’a (di dalamnya). (HR. Muslim).

Dengan sujud seorang hamba akan dekat dengan Rabbnya, begitu dawuhnya Nabi. Dari teks hadits di atas mengajarkan kepada kita  bahwa hanya dengan sujudlah langit kemuliaan itu dapat kita dapatkan. Bukan lantas dengan kita dongakkan leher kita hingga menjangkau langit. Bukan dengan kita tinggikan hati kita hingga menjangkau cakrawala. Bukan, justru dimensi langit dapat kita raih ketika kita meletakkan kepala serendah-rendahnya di bumi. Dan esensi ke-Tuhanan dapat kita rasakan  ketika kita dalam posisi merendah, bersimpuh dan bersujud dengan khusu’, ndepe-ndepe di keharibaan Tuhan Jalla Jalaaluh. Tuhan hadir dalam sujud-sujud kita, mengabulkan segala do’a-do’a kita, dan mengampuni segala dosa-dosa kita.

Inilah menurut saya yang di wariskan dan diajarkan Sunan Bonang kepada kita tentang batu petilasan beliau yang berada di Bonang Lasem. Joyojuwoto

Minggu, 08 November 2015

Santri Kreweng

Santri Kreweng


Syahdan di sebuah pesantren di pelosok desa Bangilan, hiduplah santri-santri di lingkungan pesantren nan asri. Pohon-pohon kelapa melambai-lambai, matahari sore terasa ramah menyapa, desir angin turut serta menyegarkan suasana senja.

Di pojok belakang gotha’an pesantren, tampak seorang santri sedang mengaduk-aduk panci di atas tungku yang menyala-nyala. Dul, santri baru sore itu mendapat giliran memasak nasi liwet untuk teman-teman gotha’annya. Di dekatnya Mad sibuk memarut kelapa yang akan dibuat sambel kreweng.

Sambel kreweng adalah paduan dari parutan kelapa yang dicampur dengan sambel pada umumnya, sambel itu tidak digoreng memakai minyak tetapi cukup dengan membakar pecahan genting (kreweng) hingga membara. Setelah itu kreweng dibaurkan dengan parutan kelapa tadi. Rasanya nyam...nyam... boleh dicoba.

“Sebentar lagi adzan magrib Dul”

Kata Mad kepada Dul yang sedang asyik mengaduk-aduk masakannya.

“Iya Mad, ayo kita segera mandi, nanti terlambat jamaah lho !” Jawab Dul.

Mereka berdua bergegas menuju sungai tempat mandi para santri putra. Di sana telah ada beberapa santri lain yang lebih dulu mandi. Ada juga yang hanya mengambil air wudlu atau sekedar ngobrol di tepi sungai dengan santri-santri lainnya sambil menunggu bedug magrib tiba.

Sungai yang berada di sisi barat pesantren itu jerih, walau tidak terlalu lebar dan dalam sungai itu mengalir sepanjang waktu. Apalagi dimusim penghujan. Jika kemarau datang air sungai sedikit surut, namun kedungnya masih menyimpan cadangan air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan santri untuk mandi dan mencuci.

Dul adalah santri baru di pesantren itu. Ia datang dari kota. Kedua orang tuanya mengirimkannya ke pesantren agar Dul bisa berlatih hidup sederhana, apa adanya, dan jauh dari kedua orang tuanya, sehingga membentuk watak dan karakter yang mandiri tanpa tergantung dengan kedua orang tuanya, walau tentu tiap bulan Dul masih mendapat kiriman uang dari orang tuanya guna memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Di rumah Dul adalah anak yang manja, semua serba mudah, fasilitas lengkap, mulai dari kamar mandi yang bagus, kamar tidur yang be AC, ada televisi, bantal, guling dan kasur yang empuk, makan yang serba enak dan lain sebagainya. Tak perlu mencuci baju, tak perlu bersih-bersih kamar mandi, tempat tidur karena itu sudah dikerjakan oleh ibunya.

Tentu kondisi itu sangat kontras dengan kehidupan santri di pesantren. Santri hidup dengan sederhana, menempati gotha’an yang apa adanya, tidur beralaskan tikar atau bahkan tidur di lantai, mandinya di kali, mencuci baju sendiri, bersih-bersih kamar sendiri, belum seabrek kegiatan yang meemras keringat dan otak. Namun begitulah pesantren mengajarkan kemandirian kepada anak didiknya. Karena alasan-alasan itulah Dul dikirim oleh kedua orang tuanya yang sadar akan pendidikan anak.

Sedang Mad adalah anak kampung dekat pesantren. Ia di pondokkan karena sudah menjadi tradisi dalam keluarganya bahwa anak laki-laki yang sudah menginjak akil baligh harus mondok. Atau setidaknya dikirim ke surau untuk belajar mengaji. Walau Dul dan Mad baru bertemu namun mereka telah akrab kayak saudara layaknya.

Dul dan Mad masih menikmati kesegaran air sungai, mereka bergabung dengan santri-santri lain bergurau di sungai, bermain semprot-semptotan air, menyelam, berenang dan lain sebagainya. Untung sungainya tidak dalam sehingga santri yang tidak bisa berenang macam Dul bisa ikut mandi tanpa harus khawatir tenggelam.

Lamat-lamat dari arah pesantren adzan magrib berkumandang. Santri-santri yang mandi bergegas meninggalkan sungai yang tidak seberapa jauh dari pesantren. Begitu juga dengan Dul dan Mad.
“Mad ayo buruan, adzan magrib telah dikumandangkan” teriak Dul dari pinggir sungai.

Setelah mengambil air wudlu, mereka berdua segera menuju gotha’an, berganti pakaian ala santri. Sarungan, memakai kemeja dan berpeci. Setelah itu mereka menuju mushola pesantren untuk menunaikan ibadah sholat magrib.

Di mushola telah banyak santri yang sama duduk berbaris rapi membentuk shof-shof menghadap kiblat. Mereka dengan khusu’ melantunkan puji-pujian kepada Tuhan. Syair Abu Nawas yang sering dipakai untuk pujian di mushola itu. Seperti paduan suara yang menggetarkan dinding-dinding pesantren, hingga menembus langit-langit di sidrotul muntaha. Lembut, syahdu, dan menggetarkan jiwa siapa saja yang mendengarkannya.


Ilahi lastu lilfirdausi ahla
Walaa aqwa ‘ala naaril jahiimi
Fahabli taubataan wagfir dzunubi
Fainaka ghafirudz dzanbil azhimi

Dzunubi mitslu a’daadir rimali
Fahabli taubata ya dzal jalaali
Wa ‘umri naqishu fi kulli yaumi
Wa dzanbi zaaidun kaifa –htimali 

Ilahi ‘abdukal ‘aashi ataaka
Muqirran bi dzunubi wa qa da’aaka
Fain taghfir fa anta lidzaka ahlun
Wa in tadrud faman narju siwaaka 


Walau belum begitu hafal dengan syair-syair pujian itu, namun tetap saja Dul bergetar hatinya. Ia sendiri tidak tahu entah karena apa. Sedang Mad yang sudah terbiasa melafalkan pujian itu tampak begitu khusu’ menikmati dan meresapi makna-makna yang terkandung dalam setiap bait-bait syair Abu Nawas itu.

Setelah menuaikan sholat magrib Dul dan Mad bersama-sama santri lainnya tadarus Al Qur’an. Para santri dibagi menjadi beberapa kelompok menurut kemampuannya membaca huruf-huruf hijaiyyah.

Setelah bertadarus Al Qur’an para santri bergegas meninggalkan mushola menuju gotha’an. Dul mencari Mad yang sudah selesai dan menunggunya di luar mushola. Ini adalah saat yang ditunggu oleh para santri. Selesai tadarus mereka akan menikmati makan malam yang mereka masak sendiri. Begitu juga Dul dan Mad, mereka berdua segera kembali ke gotha’an dan mempersiapkan pesta makan malam.

Selembar daun pisang yang diambil dari belakang pesantren telah digelar. Nasi liwet yang mereka masak tadi sore dihidangkan dengan lauk sambel kreweng. Dul dan Mad serta beberapa santri lainnya segera mengerubuti jamuan makan malam. Mereka makan dengan lahap, dan wajah-wajah polos para santri itu tampak puas menikmati pesta ala santri. Joyojuwoto.

Jumat, 06 November 2015

Petualangan Inspiratif Sambil Menyapa Negeriku


SUKA berpetualang? Atau punya ketertarikan di dunia pendidikan Indonesia? Acara ini tepat untukmu!
Kemristekdikti mengajak kamu untuk mengunjungi berbagai daerah di Tanah Air melalui kegiatan “Menyapa Negeriku”. Selama maksimal enam hari (disesuaikan dengan jadwal penerbangan dan lokasi), peserta kegiatan akan melihat langsung potret pendidikan Indonesia melalui petualangan seru dan mengasyikkan. Tidak hanya itu, peserta juga akan diajak berpartisipasi untuk berbagi inspirasi di wilayah yang dikunjungi, bisa dengan berbagi cerita maupun menularkan berbagai keahlian kepada masyarakat dan pelajar setempat.
Peserta Menyapa Negeriku akan didampingi alumni Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T), yang selama setahun telah mengabdi sebagai guru di pelosok negeri. 
Kegiatan ini dijadwalkan dengan daerah tujuan sebagai berikut: 
1. Kabupaten Simelueu, Aceh Barat 
2. Kabupaten Aceh Timur, Aceh 
3. Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau
4. Kabupaten Berau, Kalimantan Timur
5. Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara 
6. Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) 
7. Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) 
8. Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat
9. Kabupaten Sorong, Papua Barat 
10. Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat 
11. Kabupaten Jayawijaya, Papua
Berminat menjadi peserta Menyapa Negeri? Pastikan kamu memenuhi persyaratan berikut:
1. Warga Negara Indonesia (WNI)
2. Terbuka untuk semua kalangan dan profesi
3. Pendaftar kategori Umum: pria/wanita berusia 18-27 tahun
4. Pendaftar kategori profesional: pria/wanita berusia 18-35 tahun
5. Sehat jasmani dan rohani, serta bisa tinggal beberapa hari di pedalaman
6. Bersedia mendokumentasikan pengalaman perjalanan selama program Menyapa Negeriku untuk dibukukan dan berbagi di sosial media yang dimiliki.
Fasilitas:
1. Semua biaya perjalanan ditanggung sepenuhnya oleh Kemristekdikti
2. Uang saku selama program Menyapa Negeriku
3. Penginapan dan akomodasi.
4. Tulisan terpilih milik peserta akan masuk dalam buku Menyapa Negeri.
5. Seragam
6. Asuransi
7. Sertifikat
Unduh dan lengkapi formulir pendaftaran berikut serta kirimkan ke email layinberdaya@ristekdikti.go.id, diterima paling lambat 20 November 2015.
Nama peserta yang lulus seleksi akan diumumkan 20 November 2015 pada website ristekdikti.go.id dan media sosial @dikti. Peserta terpilih akan diundang mengikuti workshop pembekalan pada 29-30 November. Sedangkan pelaksanaan Program Menyapa Negeriku pada 5-10 Desember 2015.
Ayo, segera mendaftar, ya!
Unduh Formulir Pendaftaran Peserta Program Menyapa Negeriku
Unduh Di sini....!!!!
- See more at: http://www.kopertis12.or.id/2015/11/05/petualangan-inspiratif-sambil-menyapa-negeriku.html#sthash.7kATwvSW.dpuf