Sabtu, 28 Februari 2015

Cinta Sejati

Cinta Sejati


Carilah cinta yang sejati, yang ada hanyalah pada-Nya
Carilah cinta yang hakiki, yang ada pada-Nya yang Esa
Carilah cinta yang abadi, yang ada hanyalah pada-Nya
Carilah kasih yang kekal selamanya, yang ada hanyalah pada Tuhanmu

(Raihan)

Cinta adalah anugrah dan keindahan yang bersumber dari Tuhan yang Maha indah. Cinta adalah fitrah seluruh makhluk di alam raya ini. Cinta ada  bersama titah Tuhan untuk menjadi ibu bagi semesta, ia ada bersama hembusan nafas, aliran darah, dan detak jantung kehidupan.

Cinta energi tanpa batas, lembut  namun daya kekuatannya mampu menaklukkan badai yang menghadang, tak ada gunung yang tinggi dihadapan cinta, tak ada lembah yang dalam atas nama cinta, tak ada kebahagiaan tanpa cinta demikian juga tak ada derita yang lebih menyakitkan dibanding duka lara karena cinta.

Cinta adalah fitrah dan kita tidak bisa memungkirinya, karena cinta adalah utusan Tuhan yang dikirim kepada seluruh makhluknya di dunia. Fitrah itu tidak akan mengalami perubahan, hanya perubahan itu sendiri yang tak berubah. Allah Swt berfirman dalam Al Qur’an Surat Ar Rum ayat  30 :

فطرة الله الّتى فطر النّاس عليها لا تبديلا لخلق الله

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tak ada perubahan pada fitrah Allah”

Jika memang cinta adalah sebuah ketetapan Tuhan, maka hendaknya kita mampu mempergunakan potensi energi cinta yang tanpa batas itu untuk kemaslahatan dan bukan menjadikannyasebagai sumber malapetaka dan kesengsaraan.

Sangat banyak kisah-kisah yang diceritakan sejarah dan epos tentang perang besar antar negara karena persoalan cinta. Negeri Ayodya dan Alengka berperang karena persoalan cinta, perang Bubat antara Majapahit dan Pajajaran juga berlatar belakang asmara, dalam foklore lokal Kabupaten Tuban terdapat kisah kepahlawanan seorang prajurit wanita Sri Huning juga memperjuangkan cinta. Begitulah setiap lika-liku sejarah bumbu cinta selalu ada dan menyemarakkan panggung sejarah kehidupan manusia.

Jika cinta telah bersemi di kedalaman hati seorang manusia, khususnya kaum muda dan mudi hendaknya ia hati-hati dalam menjaga diri, karena di dalam cinta ada muatan-muatan bara nafsu yang kadang membakar indahnya cinta itu sendiri. Biarkan bunga-bunga cinta mekar dan bersemai indah di taman yang diridhoi Tuhan. Rosulullah Saw mengajarkan kepada kita jika diantara kamu wahai pemudah telah siap menikah maka hendaknya ia segera menikah, dan apabila belum mampu untuk itu hendaknya ia menahan diri dengan berpuasa.

Menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama dalam cinta adalah perbuatan yang mulia. Jika ada seorang yang dimabuk cinta dan ternyata cintanya tidak kesampaian hingga ke jenjang pernikahan, kemudian ia menjaga diri dari perbuatan dosa kemudian menyimpan  cintanya hingga ia meninggal dunia karenanya, maka ia seperti seorang yang meninggal dunia dalam keadaan syahid fi sabilillah. Subhanallah...

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim, Al Khatib, Ibnu Asakir, dan Ad dailami Rosulullah Saw bersabda :

من عشق فعفّ فكتم فمات مات شهيدا

Artinya : Barang siapa yang sangat mencintai (seseorang) kemudian ia tetap menjaga diri dari perbuatan dosa dan menyimpan cintanya sampai mati karenanya, maka ia telah mati syahid”


Oleh karena itu jagalah cinta, rawatlah cinta, hingga pada saatnya nanti, cinta itu bersemi di taman suci Miitsaqan ghalidzan, karena di situ cinta sejati bersemi dalam pendar-pendar cahaya Ilahi. Sekian. Jwt. 28.02.15

Jumat, 27 Februari 2015

Cinta Yang Sederhana



Cinta Yang Sederhana



Apabila cinta tidak berhasil…
BEBASKAN dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
dan terbang ke alam bebas LAGI ..
Ingatlah…
bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan
kehilangannya..
tapi..ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati
bersamanya…

Puisi cinta sang Nabi dari lebanon ini sangat sederhana dan manusiawi. Coba perhatikan ia menulis "Apabila cinta tidak berhasil, bebaskan dirimu... Kalimat ini sangat elegan, cinta yang tidak seperti di negeri dongeng, cinta yang biasa seperti yang ada di sekitar kita, puisi cinta yang tidak memabukkan bagi pembacanya. Jika cinta kita pada seseorang tentu masih banyak lagi pilihan yang bisa kita buat. Tidak sekedar galau, tidak bilang cinta mati namun memberikan pilihan hati untuk kembali melebarkan sayapnya, karena pada dasarnya masih banyak pilihan-pilihan realistis ketimbang kita mabuk kepayang seperti kisah-kisah cinta di negeri dongeng.

Begitulah seorang Kahlil Gibran, puisi-puisi cintanya memang kaya akan makna walau kadang sederhana, kadang pula puisinya atraktif dan mengobsesi banyak orang untuk menjadi puitis dan nyastra. Saya pun dulu punya koleksi buku-buku Kahlil Gibran walau tidak banyak ada sekitar lima sampai enam judul buku.

Menurut saya puisi diatas sangat luar biasa. Biasanya puisi tentang cinta diksi-diksi yang dipilih mendayu-dayu dan melankolik, memberikan efek trance bagi pembacanya. Namun puisi diatas sangat sederhana dan memberikan nuansa kebeningan jiwa, seperti sebuah mantra menentramkan, seperti untaian doa yang memurnikan. Tidak ada deburan gelombang nafsu dalam mencintai, cukup hening, tanpa isyarat, tanpa tanda. Cinta yang sederhana.

Namun ternyata cinta sang pemilik Sayap-sayap Patah ini tidak sesederhana seperti apa yang ditulisnya. Cintanya kepada beberapa perempuan kandas di tengah jalan, hingga ia membujang sepanjang hidupnya. Kondisi patah hati ini oleh Kahlil Gibran diubah menjadi energi yang tak pernah mati guna menorehkan puisi-puisinya yang melegenda sepanjang masa.

“Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir” kata Jendral  Tian Peng alis Cut Pat kay, murid Biksu Tom San Cong itu selalu menderita hidupnya karena cinta. Memang cinta yang tidak dilandasi rasa kesederhanaan akan membawa derita yang tak berkesudahan. Oleh karena itu Rosulullah mengajarkan cinta yang sederhana cinta yang sewajarnya. Beliau bersabda :

أحبب حبيبك هونا ما عسى ان يكون بغيضك يوما ما
وابغض بغيضك هونا ما عسى ان يكون حبيبك يوما ما

“Cintailah kekasihmu sekedarnya, sebab bisa jadi suatu saat nanti akan kau benci, dan bencilah orang sekedarnya saja bisa jadi akan kau cintai suatu saat nanti”

Sungguh luar biasa sabda mulia beliau Nabi Muhammad Saw, sabda yang akan menjadi mata air pengetahuan sepanjang masa, menjadi bintang penerang kala gulita,  bahagialah yang mengikuti petunjuknya.

Dulu kita juga sering dengar Embah-embah kita memberikan nasehat yang cukup singkat tapi mengena, “Ojo Gething Mundhak Nyanding” jangan membenci yang terlalu, siapa tahu kelak ia akan menjadi pendampingmu akan menjadi orang yang dekat dengan kamu.

Kata kunci kebahagiaan adalah kesederhanaan, sederhana dalam hal apapun,  dalam berfikir, dalam bekerja, dalam hal makan, minum, mencintai, membenci dan semuanya. Bahkan dalam beribadah kepada Tuhan pun harus kita lakukan dengan sederhana. Apa adanya. Karena sikap berlebihan dan terlalu akan membawa pada kesengsaraan. Jadi railah cinta dengan sederhana, walau kadang cinta tak sesederhana seperti apa yang kita fikirkan. Jwt/27.02.15

Minggu, 22 Februari 2015

Antara Goyang Dumang dan Tombo Atinya Sunan Bonang

Gambar : evakurniawan.wordpres.com
Siapa yang tidak hafal dan bergoyang-goyang ketika  lagu goyang dumang  dinyanyikan. Dari anak kecil hingga orang tua akan manggut-manggut mendengar lagu ini. kelompok-kelompok tertentu yang mempunyai kepentingan untuk menghancurkan karakter bangsa dan adat ketimuran kita sangat memahami bahwa musik adalak salah satu media yang sangat digemari oleh manusia. Segmen musik memang universal dan tanpa batas. 

Lihatlah di sekeliling kita anak-anak usia TK, usia SD sangat hafal dengan lagu-lagu yang bertema dewasa. Walau mereka belum memahami artinya, namun lirik-lirik lagu yang vulgar dan seronok itu dengan tanpa disadari akan mempengaruhi perkembangamn jiwa si anak. Saya memang bukan seorang ahli psikologi, namun kenyataan itu ada disekiling kita dan saya kira fakta itu lebih detail dari sekedar teori dan tanda-tanda psikologis.

Kebanyakan lagu-lagu sekarang berkualitas rendah. Baik dari segi musiknya maupun liriknya. Sekarang yang ditonjolkan lebih kearah penyanyinya. Asal cantik, asal berani tampil seksi akan menuai sukses di pentas hiburan tanah air, walau suaranya pas-pasan, walau vokalnya tak karuan. Semuanya tidak menjadi penting, yang penting adalah tenar dan bisa meraup rupiah yang melimpah.

Menurut saya ini adalah sebuah fenomena negatif dan tragedi kesenian di tanah air. Bukankah dulu tontonan menjadi sebuah tuntunan bagi masyarakat ? dan tentu menjadi sebuah jariyah bagi aktivis musik jika lagu-lagunya membawa masyarakat kearah yang lebih baik. Walau saya sadar bahwa statemen saya ini tidak sepenuhnya benar, namun setidaknya musik membawa pengaruh dalam diri pribadi masyarakat. 

Apakah karena tuntutan masyarakat yang memang telah sakit sehingga industri musik di tanah air kita ini menjadi sangat tidak jelas ? atau karena ada upaya pembusukan karakter bangsa lewat industri hiburan sehingga semuanya serba rendahan ? bukankah masyarakat masih sangat suka ketika tembang lir ilir dilagukan, bukankah tombo atinya Sunan Bonang masih sangat laris ketika musiknya diaransemen ulang ? bukankah musik-musiknya Iwan Fals yang syarat kritik sosial dan berkelas juga masih laris manis dan melegenda sepanjang masa ?

Pertanyaan-pertanyaan diatas memberikan satu gambaran bahwa musik sekarang dipakai oleh kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan penjajahan budaya, dijadikan racun maha arsenik yang dicekokkan kepada anak-anak kita. Kita dipaksa menikmati hiburan kelas sampah hingga mau tidak mau setiap saat telinga kita akan mendengar musik lagu-lagu rendahan. Tidak hanya itu yang lebih parah lagi adalah ternyata pemerintah ikut-ikutan latah. Lihat saja setiap kegiatan senam atau kegiatan-kegiatan di instansi pemerintahan ritual wajib mereka selalu memutar lagu-lagu tidak jelas semisal goyang dumang, goyang morena dan lain sebagainya.

Saya jadi ingat komedian super lucu Bagio, Ia punya satu istilah yang selalu membuat saya terpingkal yaitu "Untuk Menyanyi". Kalimat itu disambung dengan kalimat lain semisal "Diundang Pak Lurah Untuk Menyanyi" dan memang hampir seluruh aktivitas kita tidak lepas dari menyanyi. Di televisi seheboh dan segempar apapun acaranya juga tetap itu-itu saja, seperti kata Bagio, "Untuk Menyanyi"


Jika musik dan nyanyian-nyayian rendahan telah menjadi menu wajib telinga kita setiap saat, alangkah rusaknya generasi ke depan kita. Coba perhatikan lagu goyang dumang :

Ayo kita goyang
biar hati senang
pikiranpun tenang
galau jadi hilang
biar hati senang
Semua masalah jadi hilang

Saya menulis syair diatas bukan berarti saya hafal, saya menconteknya dari google. Goyang dumang sekarang menjadi sebuah alternatif baru untuk menghilangkan masalah dan membuat hati menjadi tenang. Beda dengan apa yang diajarkan oleh Al Qur'an, Hadits, maupun ajaran Salafussholeh. Dalam Al Qur'an jelas diterangkan jika hati tidak tenang maka kita disuruh berdzikir bukan malah goyang yang tidak karuan itu. Begitu juga Sunan Bonang memberikan resep obat penyakit hati agar selalu damai dan tenang. beliau membuat sebuah tembang "Tombo Ati" berikut syairnya :

Tombo ati iku lima sak wernane
Moco Qur'an angen-angen sakmanane
kaping pindo sholat wengi lakonono
kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
salah sawijine sopo biso ngelakoni
Insyaallah Gusti Allah nyembadani

Syair Tombo Ati melegenda dan masih digemari hingga kini. Di mushola-mushola dan masjid dikampungku masih sering dijadikan puji-pujian sebelum shalat lima waktu didirikan, dan mendengarnya serasa jiwa ini ikut tenang karenanya. Lalu manakah yang akan kita ikuti jika kita punya masalah dengan kehidupan kita, akankah kita akan goyang dumang sampai nyawa melayang hingga akhir dari kehidupan kita akan su'ul khotimah, ataukah kita akan mengikuti petunjuk Sunan Bonang yang tembangnya disandarkan pada ajaran mulia dari Rosulullah ?. Silahkan memilih, karena Tuhan telah menyediakan dua jalan bagi kehidupan kita.

"Faalhamahaa fujuurohaa wa taqwaaha"
"Qod aflaha man zakkaaha wa qod khooba man dassaahaa"

Semoga Allah melindungi anak cucu kita dari godaan zaman dan menjadikannya amal sholeh bagi kita. Amien.

Jwt. 22.02.15








Definisi Cinta Yang Tak Terdefinisikan

Definisi Cinta Yang Tak Terdefinisikan


CINTA adalah kata satu kata sejuta rasa, begitu kira-kira ungkapan yang sering kita dengar tentang cinta. bukan definisi memang, setidaknya itu menjadi salah satu bingkai untuk memberikan definisi tentang cinta. Cinta memang susah dijelaskan, namun keberadaannya nyata. Seperti hembus angin, panasnya api, dinginnya air, teriknya matahari, dan gelapnya malam. Belum ada satupun ahli yang mampu menjelaskan secara pasti arti dari kata cinta. Tidak juga dijelaskan dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, mungkin  cinta memang tak perlu untuk dijelaskan karena cinta akan menjelaskan dirinya dengan caranya sendiri.

Cinta adalah ruh semesta, baik untuk makhluk hidup maupun benda mati. Semua terhubung dan saling berpasangan dengan tali kasat mata yang bernama cinta. Langit berpasangan dengan bumi, atas berpasangan dengan bawah, kiri dengan kanan, terang dengan gelap, ada putih ada hitam, ada baik ada jelek, dan semuanya tentu ada jodohnya ada pasangannya, dan cintalah yang merekatkannya.

Cinta menjadi kosakata abadi dalam kehidupan manusia. Mulai jaman dahulu hingga berakhirnya jaman, cinta tetap menjadi obrolan yang tak pernah selesai, cinta akan menjadi satu-satunya kata yang tak akan terdefinisikan dalam kamus-kamus pengetahuan manusia. Walau cinta dekat bahkan sangat dekat dengan kehidupan ini. 

Apapun yang disentuh oleh energi cinta akan abadi dan menjadi legenda yang tak pernah selesai. Rabi'ah al Adawiyah, Jalaluddin Ar Rumi  adalah tokoh sufi yang abadi karena jalan cintanya. Romeo-Juliet, Sam Pek-Eng Tay, Hayati-Zainuddin, adalah kisah cinta yang dituturkan sepanjang masa. Adakah keabadian selain Tuhan yang mampu mengalahkan keabadian cinta itu sendiri ?

Cinta adalah puncak pengabdian kepada Tuhan, cinta adalah jalan para Nabi, Jalan orang-orang suci. Kita adalah anak-anak cinta, dan cinta selalu mengasuh zaman dengan caranya sendiri. Karena cinta adalah definisi tak yang terdefinisikan. Mungkin kita memang tak perlu repot mencari definisi cinta. Karena cinta akan menjelaskan dzatnya.

الحبّ لا يمكن تفسيره, فهو يفسّر كلّ شيءِ

"Cinta tak bisa dijelaskan
Cintalah yang akan menjelaskan semuanya".

Jwt. 22.2.15

Kisah Kasih Gelombang

 Kisah Kasih Gelombang

gelombang
mengembang
bergulung-gulung
berdebur
meliuk-liuk pelan
mencium bibir
mu
yang berpasir

merayap
menghempas
lidah-lidah gelombang
membuang resah
dipangkuan ceruk nan indah

tangan-tanganmu
membentang
mendekap
erat
melepas rindu
pada pasir dan batu

derai-derai cemaramu
menarikan pakarena
menghangatkan suasana

senyum matahari pagi
memerah
lembut menyapamu
dari singgahsananya
di ujung dunia

bisikan angit laut
bercerita tentang
kerang-kerang
ubur-ubur
siput laut
dan legenda kemesraan sepanjang masa
mimi dan mintuna
laut
gelombang
pasir
dalam lanskap pantai
pan
tai

Jwt. 20.02.15

Kamis, 19 Februari 2015

Mangrove

 Mangrove

desau angin menyapa
deru ombak laut pantai utara 
mengunjungi pelataran tidurmu

dinginnya musim hujan 
menggigit kulit ari 
menusuk-nusuk tulang

nyamuk-nyamuk rawa 
berpesta darah 
membacakan mantra 
yang tak bisa difahami
namun jelas itu meneror tidurmu
yang tak lagi nyenyak

di bumi perkemahan 
keterbatasan adalah pendidikan

di bumi perkemahan 
kemalasan adalah musuh 
yang harus kita lawan 

Di bumi perkemahan 
bara semangat harus kita nyalakan 

di bumi perkemahan 
api suci pengorbanan menjadi nafas 
dan denyut nadi yang harus kita jaga abadi 

di bumi perkemahan 
kedewasaanmu dipertanyakan
kemandirianmu dipertaruhkan 
asamu ditempa
agar sekokoh pohon-pohon cemara 
yang setia memeluk pasir-pasir pantai mendekapnya 
dari badai rob dan monster abrasi 

mangrove pesanmu 
menyatu dalam lembaran jiwaku
"Jadi Apapun, 
Jadilah Orang Yang Berwawasan Lingkungan" 

Mangrove 
mang
rove 
19.02.15

Minggu, 15 Februari 2015

Kutuk waktu

Gerimis dipelataran senja 
bercerita tentang angin resah mengeluh gundah 
kabut hitam memejamkan matanya 
petir bersautan memekakkan gendang telinga 

januari tlah berlalu 
namun waktu marah menggerutu 
mana yang akan aku sumpahi dengan tangisku 
biar orang-orang sama berteriak 
banjir...banjir 

aku tak peduli 
hutanku tak lagi perawan 
gunung-gunungku dijarah serakah 
kan kukutuk dengan amarahku 
yang membakar ladang dan sawahmu 
mengeringkan air mata dan mata airmu 

di kemarau waktu 
tunggu sumpah dan amarahku 
tak ada pawang waktu yang akan menghentikanku
itu kutukku
itu sumpahku
itu amarahku
kutuk
waktu

Jwt. 15.2.15



Rabu, 11 Februari 2015

Sastra dan Perlawanan sosial

Sastra dan Perlawanan sosial

“Ajarilah anak-anakmu sastra,
karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani”
(Umar bin Khattab)

Seorang Umar bin Khattab yang terkenal dengan sifatnya yang keras dan tegas ternyata memiliki keintiman dengan dunia sastra. Tidak aneh memang dalam tradisi Arab sastra adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Hingga tiap tahun di bulan-bulan Muharram diadakan perlombaan pembacaan syair-syair di pusat keramaian yang berada di pasar Ukaz dan Zulmajaz. Para penyair yang memenangi event terbesar di kota Makkah itu mendapatkan hadiah yang berlimpah dan karyanya akan diabadikan dan beri kehormatan untuk digantungkan di dinding Ka’bah, yang dikenal dengan nama “Al mu’allaqoh”.

Sastra menjadi komponen penting dalam kehidupan masyarakat arab, karena sastra mengajarkan keberanian dan sifat kepahlawanan dalam diri para pemuda Arab saat itu. Seorang Hamzah yang terkenal dengan julukan singa padang pasir ternyata tidak hanya pintar dalam memainkan pedang, namun paman Nabi ini juga lihai dalam mengolah lidah menjadi pedang yang tajam untuk melawan syair-syair kaum Quraisy yang memusuhi Nabi. Begitu juga Ali bin Abi Thalib selain pakar ilmu pengetahuan beliau juga fasih dalam bersyair dan pandai dalam menyusun kata.

Sastra seyogyanya dimiliki oleh semua orang, baik ia sebagai seorang pemimpin, ilmuan, panglima perang, rakyat jelata dan lain sebaginya. Karena sastra ibarat pupuk yang akan menyuburkan dan memaksimalkan peran dan potensi yang dimiliki oleh orang tersebut. Sastra juga memberikan rasa estetis bagi jiwa seseorang dan ini memberikan efek yang baik bagi kehidupannya. Sastra memang tidak melulu berbicara tentang keindahan dan kata-kata yang memukau, namun lebih dari itu sastra harus menjadi katarsis (pemurnian jiwa) bagi masyarakat.

Napoleon Bonaparte tidak hanya seorang panglima perang yang tangguh, namun sang kaisar dari Perancis itu juga piawai menulis surat cinta. Setidaknya ada sekitar 75.000 lembar surat cinta ia kirimkan kepada istrinya yang cantik Josephine de Beauharnais. Begitu juga pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia dahulu sangat dekat dengan sastra. H. Agus Salim sering berkirim surat cinta untuk istrinya, M. Natsir, Bung Tomo, Bung Karno adalah pemimpin-pemimpin yang bertipe romantis. Di sela-sela kesibukannya mereka menyempatkan menulis surat cinta buat istri dan keluarga mereka.
Lihat dan perhatikan betapa indah dan romantisnya Bung Tomo menulis surat untuk istrinya,
“Tak terlalu tinggi citta-citaku, impian kita punya rumah di atas gunung, jauh dari keramaian. Rumah yang sederhana, seperti pondok. Hawanya bersih sejuk dan pemandangannya indah. Kau tanam bunga-bunga dan kita menanam sayur sendiri. Aku kumpulkan muda-mudi kudidik mereka menjadi patriot bangsa” (Surat Cinta Bung Tomo)
Bung Karno pun terkenal sebagai pria yang romantis dan flamboyan, bacalah surat cinta Bung Karno untuk Ibu Fatmawati :
“O, Fatma, yang menyinarkan tjahja. Terangilah selaloe djalan djiwakoe. Soepaja sampai dibahagia raja. Dalam swarganya tjinta-kasihmoe...” (Soekarno, Penggalan kalimat di dalam surat cinta kepada Fatmawati bertanggal 11 september 1941)

Sastra memang identik dengan cinta. Dan tidak ada yang salah dengan kosakata itu. Asalkan berada pada susunan kata yang tepat. Cinta Allah, cinta Rosul, Cinta agama, bangsa, cinta istri, cinta anak, dan lebih-lebih mencintai kemanusiaan ini. Bukankah Rosulullah Saw juga mengajarkan cinta. Beliau bersabda : “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.

Namun sastra juga tidak melulu berbicara masalah cinta. Sastra itu komprehensif dan luas. Sastra jangan sampai hanya dimonopoli oleh kelompok tertentu. sastra jangan sampai keluar dan tercerabut dari lingkungan masyarakat. Baik itu lingkungan akademis, lingkungan psikologis, lingkungan sosiologis maupun lingkungan biologis. Justru sastra harus mengakar kuat ke dalam bumi kehidupan manusia agar sastra tidak kehilangan makna.

Kita mengenal banyak sastrawan yang mendedikasikan tulisannya untuk kemanusiaan. Seorang sastrawan tidak latah berdiri di atas menara gading yang tak terjangkau, atau bertapa di dalam goa kehidupan yang sunyi. Seorang sastrawan adalah yang peka terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Dengan sastra ia jadikan sebuah peluru yang siap membidik kesewenang-wenangan penguasa. Dengan sastra ia jadikan sebuah perlawanan terhadap rezim yang dholim. Tengoklah Pram, Rendra, Iwan Fals, Wiji Thukul mereka keluar masuk penjara, diasingkan, dicekal, bahkan dimatikan hidupnya karena tulisannya, karena syairnya, karena puisinya karena lagu-lagunya yang tajam menelanjangi kebrobokan birokrasi di negeri ini.

Jadi masihkah kita menutup mata dan menganggap remeh sebuah kata “Sastra” ?. 

Selasa, 10 Februari 2015

Gembul Pada Suatu Senja

Pada suatu senja
dilembah gembul
bidadari menuruni tangga cahaya
gemulai lembut selendang jingga
mendekap hangat labirin lembah para Wali

gremicik sungaimu
mencipta melodi cinta
anak-anak desa
menembangkan syair-syair senja
bermandi ria
dibening mata airmu

 desau anginmu
berpadu wangi
harum bunga-bunga liar
menerpa dinding-dinding kars
tempat guratan nasib digantungkan

pohon-pohonmu tinggi menjulang
tebing-tebingmu bagai  taman gantung Babilonia

Gembul
dipangkuanmu kera Jawa bersemayam membangun istananya
tertawa bahagia
berlari
bergendongan
berayun
dari satu daun ke daun
dari satu ranting ke ranting
dari satu dahan ke dahan
dari satu pohon ke pohon

Gembul
tawamu
bahagiaku.

jwt. 10.2.15

Minggu, 08 Februari 2015

Yang tak sempat ingat

Sempat hinggap di dahan ingatan, namun entah tiba-tiba lenyap seperti embun terlambat bangun pagi. Deretan huruf itu tak sempat kutangkap dalam dekapan kertas buramku. Penaku tak sempat memahatkannya dalam lembaran zaman, buru-buru kukejar dalam labirin angan namun sia-sia saja bagai anak panah yang telah lepas dan enggan kembali pada busurnya. 

Puisiku, coretanku atau apalah namanya aku tak sempat memberikan nama. Benang takdirmu tak mampu kuurai hingga kebingungan dan rasa penyesalan yang kini kurasakan. Kelahiranmu sekejap kemudian dalam kejap itu pula hilang tersandung tombol kematian yang bernama delete. Belum sempat aku membaca mantra save, belum sempat aku mengembalikan waktu dengan kotak undo and redo. Namun kematian kayaknya telah datang sebelum kelahiran itu sendiri ditetapkan. 

Pasrah dan ridha adalah adonan ramuan yang tepat bagi kecerobohanku yang akut. Satu proses pelajaran penting yang layak distabilo atau digaris merahi agar menjadi ingatan bagi pembelajaran hidupku yang belum tentu aku dapatkan di bangku-bangku sekolah, bahwa jangan pernah menyepelekan hal yang kecil, jangan meremehkan barang yang kelihatannya remeh. Sebab tidak ada dalam kamus manapun seseorang terpeleset gunung atau terperosok lautan, yang ada terpeleset karena kulit pisang atau terperosok lubang yang kecil. 

Terima kasih Tuhan untuk gurauan-Mu hari ini, karena ku tahu dari kitab suci bahwa hidup memang hanyalah sebuah kumpulan dari gurauan dan permainan belaka, ampuni hamba-Mu yang tak bisa dikatakan putih lagi, sebagaimana saat awal Engkau buka lembaran hidupku dulu. Semoga warna-warni hidup ini menjadi gradasi yang layak untuk dipersembahkan dalam altar suci-Mu. Amien. Bersatu dalam cinta-Mu. Bangilan, 7.2.15

Jumat, 06 Februari 2015

Muawiyah Sang Khalifah Bani Umayah

Siapapun tidak ada yang meragukan peran besar Khulafaur rasyidin dalam melanjutkan risalah Islam pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw. Namun banyak yang mengatakan setelah itu pemerintahan Islam tidak lagi berwajah "demokratis'. Walau saya sendiri juga masih bertanya-tanya apakah memang Islam itu sejalan dengan konsep demokrasi ansich. Dunia Islam saat itu penuh dengan pengkhiatan dan trik politik yang saling menghancurkan antara umat Islam sendiri, khususnya era  Dinasti Umayah.

Hal ini memang sangat beralasan, setelah Muawiyah bin Abi Sufyan diangkat sebagai khalifah menggantikan Hasan bin Ali yang berkuasa tidak lebih dari empat bulan Muawiyah  merombak sistem yang dianggap demokrasi tadi dengan sistem monarchi.

Walau sebenarnya Muawiyah tetap melakukan proses bai'at terhadap khalifah yang menggantikannga kelak. Yaitu putranya sendiri Yazid bin Muawiyah beliau angkat sebagai Putra Mahkota. Namun hal ini masih dianggap proses pemaksaan dan kayak sistem monarchi di negara-negara yang menerapkan model pemerintahan kerajaan.

Saya sendiri tidak berani walau hanya sekedar mengatakan Muawiyah adalah seorang feodalis. Karena bagaimanapun juga beliau adalah salah seorang sahabat Nabi, bukan hanya itu saja beliau adalah salah seorang yang tergabung dalam team penulis wahyu yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Tsabit.

Walau beliau termasuk lambat dalam masuk Islam yaitu ketika perjanjian Hudaibiyah tahun 627 M, beliau juga banyak meriwayatkan hadits. Ada sekitar 163 buah hadits Rosulullah yang beliau riwayatkan. Rosulullah pun pernah mendo'akan Muawiyah, doanya adalah : "Ya Allah jadikankah dia orang yang memberikan petunjuk jalan yang benar dan orang yang mendapatkan hidayah".

Siapapun yang didoakan Rosulullah Saw tentu bukanlah orang sembarangan, tentu ada keistimewaan yang menyertainya. Lihatlah ketika masa pemerintahan khalifah Usman bin Affwan beliau memimpin pasukannya menyebrang lautan untuk menyerang Romawi. Perang besar berkobar, Romawi sebuah kekaisaran yang telah mapan dipaksa takluk dalam pertempuran laut terbesar sepanjang sejarah pada masa itu. Perang ini dikenal dengan nama Zat as Sawari.

Kepiwaian dan karier politik Muawiyah sangat matang. Hal ini terbukti ketika beliau mendapat kesempatan menduduki kursi khalifah, banyak lompatan-lompatan yang beliau lakukan. Diantaranya dalam bidang militer Muawiyah menyadari bahwa wilayah Islam tidak hanya daratan saja namun telah meluas hingga seberang lautan hingga beliau membentuk armada laut. Laksamana yang terkenal saat itu adalah Aqabah bin Amir.

Dalam bidang sosial Muawiyah juga banyak melakukan perbaikan untuk melayani dan memberikan kemudahan pada masyarakat sipil, seperti membentuk dinas pos, mencetak mata uang, membangun balai pendidikan, mengangkat hakim dan lain sebagainya.

Muawiyah sangat percaya terhadap janji nubuwwah Rosulullah Saw, hal ini terbukti saat ia menjabat menjadi khalifah, Muawiyah mengerahkan armadanya untuk menggempur Konstantinopel Ibu Kota Romawi Timur. Rosulullah pernah menjanjikan bahwa kelak kota itu akan ditaklukkan oleh umat Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pimpinan dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.

Walau Muawiyah belum berhasil menaklukkan Konstantinopel namun beliau telah menunjukkan kecintaan dan kepercayaan beliau kepada Rosulullah Saw. Kelak janji itu baru benar-benar menjadi kenyataan di era kekhalifahan Turki Usmani, delapan ratus tahun sejak pertama kalinya Rasulullah mensabdakannya. Dan Muawiyah telah memulainya. Sekian. Jwt. Jatirogo, 6-2-15

Rabu, 04 Februari 2015

“Menyambut Februari Dengan Al Qur’an”

“Menyambut Februari Dengan Al Qur’an”

Awal Februari 2015 adalah awal yang baik. Bulan ini lebih dikenal sebagai bulan merah jambu namun tidak untuk pemuda-pemudi Bangilan. walau tidak untuk semuanya tentunya, namun setidaknya bagi kaum muda Bangilan yang tergabung dalam organisasi LPPTKA dan BKRMI yang tersebar diseluruh pelosok Bangilan.

Dalam kegiatan Pelatihan Standarisasi Ustad/Ustadzah se-Kecamatan Bangilan, mereka sedang giat-giatnya digembleng dengan ilmu Al-Qur’an baik dari segi tilawahnya, tajwidnya, murattalnya bahkan hingga ke bentuk dan gestur bibir karena sedang memperdalam sifatul huruf. Karena membaca huruf Al Qur’an beda dengan membaca abjad latin. Selain dituntut benar, kita dalam membaca huruf Al Qur’an harus memperhatikan mahkraj-mahkraj huruf hijayyahnya. Karena jika salah dalam mengucapkan maka akibatnya sangat fatal sekali. Artinya tentu akan melenceng dari semestinya.
Oleh karena itu Rosulullah Saw memerintahkan kita untuk membaca Al Qur’an seperti orang Arab dalam membacanya. Beliau bersabda :
اقرؤاالقرآن بركون العرب
“Bacalah Al Qur’an dengan rukun-rukunnya orang Arab”

Dalam Al Qur’an juga ditegaskan agar kita membaca Al Qur’an dengan tartil. Allah berfirman :
ورتّل القرآن ترتيلا
“Dan bacalah Al Qur’an dengan tartil”

Tidak aneh memang jika kegiatan ini dilaksanakan, karena memang merekalah ujung tombak pengajaran Al Qur’an di langgar-langgar, saya sangat memberikan apresiasi yang luar biasa positif untuk kegiatan ini. Kebetulan saya juga salah satu peserta dari kegiatan yang dilaksanakan di TPQ Al Ihsan Kedungmulyo. Sangat spesialis di awal Februari kemarin. Hari itu adalah puncak acara yang diisi dengan munaqosah. Diuji oleh para pakar dalam bidangnya. Ada Ustadz Irkhamni dari Langitan, ada Ustadz Subhan ketua BKPRMI Kab. Tuban, ada Ustadz Siddiq Al hafidz, dan tidak kalah fenomenalnya Ust. Fuaduddin jebolan Pesantren Tanggir yang legendaris.

Saya sendiri sejak matahari awal Februari terbit sudah merasakan sensasi yang membahagiakan. Walau sebenarnya secara materi belum begitu menguasai. Begitulah kebahagiaan selalu dapat mengalahkan segala kesulitan. Pagi yang biasanya saya agak malas mandi, namun tidak untuk pagi itu. Saya mandi full servis. Pakai sabun, keramas dengan sampoo, sikat gigi pun sampai tiga kali. Saya ulang-ulang. Pokoknya saya pengin tampil fres dihari yang bersejarah, munaqosah Al Qur’an Keren kan.

Kegiatan pagi itu benar-benar mengalahkan event-event terpenting dalam hidup saya. Dulu waktu mau berangkat wisuda saya tak seheboh itu, biasa dan datar-datar saja. Hanya ketika akan akad nikah saja yang kayaknya perasaan itu hampir sama. Entah, entah karena apa saya sendiri tidak memahaminya.

Mungkin ini adalah Al Qu’an effect, saya percaya memang Al Qur’an mampu memberikan effect positif bagi siapa saja yang dekat dengannya. Membacanya, mentadabburi maknanya. Bukan hanya effeck ruhani al Qur’an juga memberikan dampak yang positif terhadap kesehatan seseorang. Bukankah Al qur’an adalah penyembuh ? Allah berfirman :
وننزّل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين
“Dan kami turunkan dari Al Qur’an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…”

Jadi mari mendekatkan diri dengan Al Qur’an agar kita selalu diliputi kesehatan dan keberkahan baik di dunia lebih-lebih di akhirat kelak. Salam. Jwt. 3.2.15