Kamis, 03 Desember 2015

Cak Nun dan Malam Romantisme Di Alun-alun Tuban

Cak Nun dan Malam Romantisme  Di Alun-alun Tuban
Oleh : Joyojuwoto

Doc. Ashfin Van Ghofur
Budayawan kondang Cak Nun saat memberikan pengajian kebangsaan di  Alun-alun Tuban minggu malam tanggal 29 November 2015. Pengajian yang digelar oleh Pemkab Tuban dalam rangka hari jadi Kabupaten Tuban yang ke 722 ini menyedot ribuan pengunjung yang memadati alun-alun. Seakan tidak ada ruang kosong di hamparan paving dan rumput yang menjadi alas duduk para jam’iyyin wal jam’iyyat di malam yang penuh dengan nuansa kebersamaan atau maiyyah lintas generasi.

Cak Nun yang tampil bersama maestro musik asli Tuban Koesplus bersaudara tampil memukau. Koesplus bersaudara yang masih tinggal tiga bersaudara itu menghadirkan jejak-jejak kerinduan masa silam yang penuh dengan romantisme. Generasi 70-an, 80-an, hingga 90-an pasti akan merasakan sensasi masa silam yang mengharu biru.

Sejatinya tiga bersaudara Koesplus akan hadir, namun karena suatu hal acara itu hanya bisa dihadiri oleh Pak Yok Koeswoyo dan Pak Nomo Koeswoyo. Cak Nun yang menyampaikan pengajian malam itu memberikan panggung dan waktu buat Pak Yok dan Pak Nowo guna menumpahkan kerinduan mereka berdua dengan bumi kelahirannya.

Pak Nowo malam itu tampil agresif, seperti pembawaannya yang memang entertaint dan menghibur, serta agak gento goda Cak Nun kepada Pak Nowo. Sedang Pak Yok orangnya lebih pendiam, filosofis dan mistis. Sedang Tony Koeswoyo yang telah dahulu dipanggil Tuhan adalah seorang kreator yang handal. Setidaknya ada sekitar 900-an album yang dihasilkan oleh Koesplus bersaudara. Di usia yang mereka yang sudah tidak lagi muda, Pak Nomo dan Pak Yok masih bisa tampil energik seperti saat mereka menjadi bintang panggung. Lagu-lagu legendaris Koesplus seperti Kolam Susu,  dinyanyikan dengan iringan musik Kyai Kanjeng yang luar biasa.

Seakan membuka memori puluhan tahun silam, para penonton bernyanyi bersama, nyanyian yang melahirkan kerinduan akan alam Nusantara yang bagaikan surga. Dengan apik Koesplus menulis keindahan dan kemakmuran Nusantara masa silam dalam bait-bait syair lagunya yang melegenda :

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Namun sayang gambaran tanah kita tanah surga dalam lirik lagu kolam susunya Koesplus hanya tinggal di dalam memori kenangan indah kita. Bumi di mana kita berpijak telah kehilangan keberkahannya. Laut kita sekarang juga telah dipenuhi oleh amuk ombak keserakahan dan kesewenang-wenangan. Di hari ini kita tidak bisa hidup hanya dengan mengandalkan kail dan jala. Tanah surga Nusantara seakan menjadi ibu tiri bagi anak-anaknya sendiri, bangsa ini dipaksa menjadi bangsa kuli di negerinya sendiri. Atas nama investasi atas nama penanaman modal hak-hak anak negeri dikebiri. Adakah musibah yang lebih besar dibanding menjadi bangsa pengemis di negerinya sendiri ?.

Tongkat kayu dan batu tak lagi tumbuh, kesuburan tanah ini tergerus oleh modernisasi zaman. Hutan-hutan beton merambah desa-desa, menjulang tinggi ke langit-langit menyisakan keangkuhan dan egoisme sosial. Keramahan, kebersamaan, kegotong-royongan yang menjadi hiasan mahkota masyarakat terhempas jatuh berkeping-keping di atas tanah peradapan yang kian kejam.

Oleh karena itu dalam khutbah kebangsaannya Cak Nun mengajak agar masyarakat tidak melupakan sejarah, Wal Tandur Nafsun Maa Qoddamat Lighodin, mengenal benar makna “Mikul duwur, mendhem jero” sebuah filosofi Kejawen adiluhung yang mengajarkan sikap menghormati dan menghargai jasa-jasa para pendahulu kita. Mikul duwur bermakna mampu ngajeni, menghormati dan tidak melupakan kerja keras nenek moyang kita, serta sikap mendhem jero yaitu memaafkan dan menutup aib serta kesalahan para pendahulu kita, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Dan malam itu Cak Nun beserta seluruh masyarakat Tuban hadir memberikan saksi serta mengenang jasa-jasa pendahulu kita. Selamat Hari jadi Tuban yang ke 722.  Untuk para sesepuh dan moyang masyarakat Tuban, Lahumul Fatihah..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar