Sabtu, 28 November 2015

Sahabat Sejati Penebar Manfaat, Pemberi Syafaat

Sahabat Sejati Penebar Manfaat, Pemberi Syafaat

Manusia adalah makhluk sosial  yang disetiap lini kehidupannya selalu memerlukan sosialisasi dengan golongan manusia lain. Manusia-manusia lain itu bisa bernama saudara, kerabat, tetangga, sahabat, orang yang kita kenal, hingga orang-orang yang tidak kita kenal dan tentu masih banyak yang lainnya. Begitulah memang fitrah manusia tidak bisa melengkapi dan memenuhi kebutuhannya sendiri dari hal yang remeh-temeh hingga hal-hal yang besar tanpa mendapatkan bantuan orang lain.

Bersahabat dengan orang lain adalah termasuk bentuk sosialisasi yang dilakukan seseorang demi memenuhi tuntutan rasa kemanusiaan. Betapa sepinya dunia ini tanpa adanya persahabatan diantara sesama manusia.

Kata persahabatan ini menjadi suatu tanda dan pengikat hubungan diantara dua orang yang tidak memiliki ikatan kekerabatan. Walau demikian ikatan persahabatan yang sejati kadang melebihi ikatan kekerabatan bahkan ikatan saudara kandung sekalipun. Persahabatan memang sangat mempengaruhi kehidupan seseorang, oleh karena itu ketika kita mencari sahabat, Al Qur’an mengajarkan agar mencari sahabat yang baik dan benar, agar kelak kita tidak menyesal. Dalam Surat Al Furqon ayat 27-29 Allah Swt memberikan gambaran dan peringatan mengenai sebuah persahabatan. Silahkan simak arti dari firman tersebut :
27. dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata:                "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul".
28. kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).
29. Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang                   kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.

Begitu pentingnya sebuah persahabatan sampai-sampai Allah Swt memberikan peringatan agar kita berhati-hati memilih sahabat. Jangan sampai karena sahabat kita terjerumus ke dalam hal-hal yang dimurkai Allah dan mengambil jalan yang menyelisihi jalannya para Rosul yang telah diberi petunjuk.

Begitu pentingnya arti sebuah persahabatan Rosulullah SAW juga memberikan perhatian yang lebih, hingga beliau menyebut orang-orang yang menyatakan Islam di zaman Nabi disebut sebagai golongan sahabat Nabi. Di sini ada kedekatan emosional yang sangat kuat sekali antara sosok Nabi Muhammad SAW dengan para sahabatnya.

Sahabat-sahabat Nabi inilah baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshor yang ikut serta menolong dan mendukung dakwah Nabi dalam rangka menyebarkan risalah Islam. Berkenaan dengan hubungan persahabatan ini beliau juga menyatakan dalam sebuah haditsnya bahwa barang siapa yang ingin mengenal seseorang maka perhatikan siapa sahabatnya. Jika ia bersahabat dengan orang baik insyallah baik, begitu pula sebaliknya jika sahabatnya adalah orang-orang yang berperilaku tidak baik kemungkinan ia memiliki tanda-tanda keburukan. Atau setidaknya ia dikhawatirkan tertular keburukan sahabatnya itu.

Berhati-hatilah dalam memilih sahabat, karena perbuatan yang jelek itu lebih cepat menular dibanding perbuatan baik. Sahabat yang baik tentu akan mengajak kepada kebaikan dan ketaqwaan sedang sahabat yang jelek akan membawa kepada kejelekan pula. Sebagaimana dalam sebuah maqolah yang berbunyi :
صديقك من صدقك لا من صدّقك
Artinya : Sahabatmu adalah yang membenarkanmu, bukan orang yang membenar-benarkan kamu.

Itulah sahabat sejati yang apabila kita salah ia akan menunjukkan kebenaran kepada kita, bukan orang yang selalu membenar-benarkan kesalahan-kesalahan kita. Sahabat akan selalu memberikan warna kepada sahabatnya, sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah hadits yang kurang lebihnya, jika kita berteman tukang api, maka kita akan berbau sangit atau bahkan terbakar, dan jika kita berteman penjual minyak wangi kita juga akan tertular bau wewangian itu.

Oleh karena itu para ulama-ulama zaman dahulu memperingatkan agar kita mencari sahabat yang baik. Sunan Bonang dalam  tembang “Tombo Atinya” juga mengingatkan agar kita selalu dekat dengan orang baik, yang beliau konotasikan sebagai orang sholeh. “Wong Kang Sholeh Kumpulono”( Pergaulilah orang yang sholeh).”

Mengapa kita dalam bersahabat harus memilih yang baik dan benar ? sebenarnya tidak ada larangan kepada siapa kita bersahabat, namun jangan sampai sahabat itu nantinya mencelakakan kita, lebih-lebih celaka di akhirat kelak sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al Furqon di atas.

            Sahabat yang baik adalah sahabat yang mengingatkan kita di saat kita melakukan kesalahan, begitu juga sebaliknya kita juga mengingatkannya jika ia melakukan kesalahan. Jadi sahabat yang baik itu bukan yang sama sekali tidak punya kesalahan, karena pada dasarnya manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Di sinilah peran sahabat itu kita perlukan. Sahabat sebagai media untuk berkaca dan melihat kekurangan-kekurangan kita, karena memang seorang sahabat ibarat kaca benggala bagi sahabatnya. Jika peran persahabatan ini bisa maksimal tentu mudah bagi kita untuk selalu “Wa Tawaa Shouw bil Haqqi Wa Tawaa  Shouw bis Shobri” saling nasehat menasehati dalam hal kebaikan, dan saling nasehat menasehati dalam hal kesabaran.

            Itulah fungsi dan manfaat dari sahabat yang baik, sahabat sejati,  sahabat yang memberikan manfaat dan syafaat bagi sahabatnya. Karena besok di akhirat selain syafaatnya Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits juga diterangkan bahwa sahabat juga bisa memberikan syafaat bagi sahabatnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi Muhammad SAW bersabda :
ليدخلن الجنّة بشفاعة رجل ليس بنبي مثل الحيين, أو مثل أحد الحيين : ربيعة ومضر. (أخرجه أحمد)
Artinya : Akan masuk surga karena syafaat seseorang yang bukan Nabi, seperti dua perkampungan atau seperti salah satu dari dua perkampungan : Robiah dan Mudhor. (Diriwayatkan Imam Akhmad).


Oleh karena itu carilah sahabat yang sejati, sahabat yang bisa memberikan manfaat dan syafaat kelak di akhirat. 

Joyojuwoto.
Bangilan Tuban, 28 November 2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar