Rabu, 25 November 2015

Roro Oyi Tumbal Asmara Putra Mahkota dan Sang Raja

Roro Oyi Tumbal Asmara Putra Mahkota dan Sang Raja

Entah dosa apa yang diperbuat oleh gadis cantik peranakan Cina-Jawa putri Ki Ngabehi Mangunwijaya. Anak gadis yang baru menginjak usia remaja ini harus rela membuang  indahnya masa kanak-kanak.  Begitulah kadang anugerah berbuah malapetaka dan menjelma luka nestapa, gadis cantik ini dipaksa meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan teman-teman sepermainannya di Banyuwangi guna memenuhi hasrat birahi Sang Raja Mataram Amangkurat I.

Benar kata Eka Kurniawan bahwa “Cantik Itu Luka”. Kecantikan Roro Oyi ternyata tidak sebanding dengan kecantikan nasibnya. Memang saat itu sosio kultural masyarakat memandang bahwa terpilih sebagai istri Raja adalah kebanggaan dan semacam keberkahan hidup, walau hanya sekedar menjadi selir sang raja, walau hanya sekedar menjadi klangenan dari seorang penguasa. Begitu juga yang terjadi dengan gadis cantik Roro Oyi.

Roro Oyi dibawa ke Mataram, karena Roro Oyi belum cukup umur untuk diambil istri Ingkang Ngerso Dalem, maka ia dititipkan di rumah Ngabehi Wirorejo. Hari-hari selanjutnya Roro Oyi harus menghabiskan waktunya menjadi gadis pingitan. Ia diajari oleh Nyi Wirorejo dengan berbagai adat-istiadat keraton dan ketrampilan merawat diri serta ketrampilan olah dapur.
***

Setelah kematian Sang permaisuri Ratu Truntum Amangkurat meradang dan menjadi gelap mata, Sang Raja yang lalim ini menghukum siapa saja yang dianggap menjadi biang kematian permaisurinya. Ia tidak peduli lagi segala aturan. Orang-orang yang dianggap bersalah dihukum tanpa ada proses pengadilan. Begitulah  jika egoisme dan ambisi nafsu kekuasaan mengamputasi nurani kebenaran.

Setelah mendapat keterangan dari tabibnya bahwa kematian Ratu Truntum disebabkan oleh racun, maka Amangkurat murka. Ia menyuruh kepada prajuritnya agar menghukum selir-selirnya yang dianggap ikut bertanggung jawab atas kematian sang permaisuri. Amangkurat I menuduh bahwa selir-selirnya telah bersekongkol untuk membunuh Sang Ratu. Sehingga mereka semua harus mendapatkan hukuman.

Sebanyak lebih dari empat puluh selir raja dikurung di dalam sebuah kamar tanpa makanan apapun selama beberapa pekan. Akhirnya selir-selir ini banyak yang mati kelaparan, bahkan ada yang sampai saling memakan bangkai teman-temannya yang lebih dahulu meninggal dunia, hingga keseluruhannya juga ikut menyusul teman-temannya ke alam baka.  Tragis dan sangat mengerikan. Kebiadapan yang tak terperikan.

Drama kekejian Amangkurat I  tidak berakhir di sini. Setelah ia dirundung duka nestapa karena ditinggal wafat istri yang paling dicintainya, ia meminta untuk dicarikan istri yang sebanding dengan kecantikan dan wibawa Ratu Mas Truntum.

Adalah Pangeran Pekik yang mendapatkan tugas dari istana untuk mencarikan pendamping bagi sang Raja. Kemudian ia memerintahkan Demang Noyotruno dan Mantri Yudokarti untuk pergi mencari wanita yang katuranggannya dan jalarannya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Amangkurat I. Berdasarkan wisik yang diterima dari ahli kebatinan keraton mereka harus mencari di daerah yang tanahnya berbau harum dan sumber mata airnya wangi serta jernih.

Dari  peristiwa inilah awal mula petaka yang menimpa Roro Oyi. Setelah Roro Oyi dititipkan di Dalem Wirorejan, sang gadis yang awalnya masih kanak-kanak ini pun tumbuh menjelma menjadi gadis remaja yang jelita. Kecantikan dan tindak-tanduknya sungguh mempesona hingga  membuat siapa saja yang melihatnya akan jatuh cinta kepadanya. Kecantikan dan keluwesan Roro Oyi tentu sebanding dengan kecantikan Ken Dedes, Roro Jonggrang, ataupun putri Majapahit Dewi Kencono Wungu.

Raden Mas Tejoningrat cucu Pangeran Pekik, putra dari Amangkurat I yang saat itu baru pulang dari medan tempur melawan kaum pemberontak tidak sengaja melihat kecantikan Roro Oyi di Dalem Ngabehi Wirorejo . Ia pun menjadi penasaran dengan gadis itu. Oleh Pangeran Pekik diberitahukan bahwa Roro Oyi adalah putri sengkeran keraton yang kelak pada waktunya akan dinikahi oleh ayahnya.

Seakan panah asmara telah menikam jantung hati Sang Pangeran, setelah dari Dalem Wirorejan Raden Mas Tejoningrat jatuh sakit. Ia banyak mengurung diri di kamarnya. Sang Pangeran  menderita sakit asmara jatuh wuyung kepada gadis pujaannya. Melihat cucu kesayangannya jatuh sakit Pangeran Pekik akhirnya datang ke Wirorejan untuk meminta agar Roro Oyi bisa dinikahkan dengan cucunya. Awalnya [ermintaan itu ditolak oleh Demang Wirorejo, namun setelah dikatakan bahwa Pangeran Pekik akan bertanggung jawab maka Ki Demang pun merelakan putri yang akan dipersunting oleh Ayah dari Raden Mas Tejoningrat sendiri.

Betapa bahagianya Raden Mas Tejoningrat keinginannya untuk bersanding dengan Roro Oyi terlaksana. Begitu juga dengan Roro Oyi, ia pun lebih memilih menjadi istri dari seorang pemuda daripada menjadi istri ayah dari pemuda itu. Namun sayang cinta di bumi sengkeran itu harus dibayar dengan harga yang mahal.

Demi mendengar gadis pingitannya dinikahi oleh anaknya sendiri Amangkurat I menjadi murka. Ia tidak peduli bahwa yang menjadi sebab adalah mertuanya sendiri yaitu Pangeran Pekik. Maka karena kesalahannya yang telah berbuat melampui batas melebihi kewenangan Sang Raja, Pangeran Pekik dianggap bersalah dan mendapat hukuman mati. Akhirnya Pangeran Pekik digantung di alun-alun istana. Tidak hanya itu saja seluruh orang-orang dari keluarga Dalem Surabayan juga dibantai tak tersisa. Mereka kemudian dimakamkan di Bukit Banyusumurup wilayah sebelah selatan makam Imogiri.

Sedang Raden Mas Tejoningrat pun mendapat murka. Ia diberi pilihan antara tahta Mataram atau wanita. Jika ia memilih tahta Mataram ia harus membunuh istrinya, namun jika ia memilih wanita, Tejoningrat harus kehilangan jabataan putra mahkota pewaris kerajaan Mataram.

Tejoningrat bingung, ia terbayang wajah kakeknya Pangeran Pekik yang harus merelakan nyawanya demi kekasih hatinya. Dia pun sangat mencintai Roro Oyi, namun dia harus memilih tahta Mataram atau cinta. Takdir pun berbicara kadang cinta hanya permainan perasaan saja, ketika ia harus memilih diantara dua hal itu, Tejoningrat melupakan cintanya, ia lebih gandrung dengan kekuasaan, ia lebih memilih tahta mataram dibanding harus mempertahankan cintanya kepada Roro Oyi.

 Akhirnya tragedi yang memilukan itu pun terjadi, gadis cantik Roro Oyi harus menjadi tumbal dari permainan asmara Putra Mahkota dan Sang Raja. Besarnya syahwat kekuasaan telah mengalahkan cinta Sang Putra Mahkota hingga ia rela membunuh istrinya tercinta. Roro Oyi nasibmu tak secantik parasmu.

Joyojuwoto
Subuh, 25 November 2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar