Selasa, 10 November 2015

Pasujudan Sunan Bonang Lasem Tangga Menuju Langit

Pasujudan Sunan Bonang Lasem Tangga Menuju Langit

Ketika saya berziarah ke tempat pasujudan Sunan Bonang yang ada di Lasem, saya merasakan kehadiran sosok beliau. Saya mengagumi Raden Makhdum Ibrahim putra Sunan Ampel  itu. Banyak hal yang dapat dipetik dan diambil hikmah dari riwayat perjalanan beliau. Sunan Bonang memang seorang wali memang sangat luar biasa, selain beliau ahli dalam ilmu agama beliau juga seorang yang arif dan bijaksana. Sunan Bonang sangat menghormati kultur budaya masyarakat. Hal ini terbukti dengan warna dan corak dakwah beliau yang mengikuti arus tapi tidak terbawa arus masyarakat.

Sunan Bonang walau dari golongan priyayi namun beliau mampu menerapkan falsafah Manjing ajur ajer cendhek datan kaungkulan, dhuwur datan ngungkul-ungkuli. Hal ini menjadikan Sunan Bonang dicintai dan dihormati oleh masyarakat di manapun beliau tinggal.



Pasujudan Sunan Bonang menyimpan daya tarik yang luar biasa bagi para wisatawan rohani maupun bagi masyarakat yang ingin menikmati keindahan panorama senja di atas bukit. Lanskap pantai yang membentang di utara bukit Bonang tampak indah dengan jajaran perahu-perahu milik nelayan setempat.

Selain tempatnya yang indah dan enak dikunjungi pasujudan Sunan Bonang juga menyimpan energi barakahnya para wali, khususnya Sunan Bonang tentunya. Para peziarah yang datang ke tempat itu tentu punya niat yang bermacam-macam, mereka berdoa, bertabarrukan dan bertawasul dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an di lokasi Pasujudan. Ketika saya akan masuk ke pasujudan juru kunci mengingatkan bahwa tujuan ke pasujudan adalah untuk berdo’a kepada Allah semata.

Menurut saya, Pasujudan Sunan Bonang selain berfungsi sebagai tempat ziarah juga memiliki makna filosofis yang tinggi. Saya menyebutnya batu itu sebagai tangga-tangga menuju langit. Sunan Bonang meninggalkan pasujudan dalam rangka untuk memberikan pesan kepada kita agar kita tidak lupa untuk bersujud. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

عن أبى هريرة أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال :
 أقرب ما يكون العبد من ربّه وهو ساجد فأكثروا الدّعاء

Dari Abu Hurairoh, bahwasanya Rosulullah SAW bersabda : “Keadaan paling dekat seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah do’a (di dalamnya). (HR. Muslim).

Dengan sujud seorang hamba akan dekat dengan Rabbnya, begitu dawuhnya Nabi. Dari teks hadits di atas mengajarkan kepada kita  bahwa hanya dengan sujudlah langit kemuliaan itu dapat kita dapatkan. Bukan lantas dengan kita dongakkan leher kita hingga menjangkau langit. Bukan dengan kita tinggikan hati kita hingga menjangkau cakrawala. Bukan, justru dimensi langit dapat kita raih ketika kita meletakkan kepala serendah-rendahnya di bumi. Dan esensi ke-Tuhanan dapat kita rasakan  ketika kita dalam posisi merendah, bersimpuh dan bersujud dengan khusu’, ndepe-ndepe di keharibaan Tuhan Jalla Jalaaluh. Tuhan hadir dalam sujud-sujud kita, mengabulkan segala do’a-do’a kita, dan mengampuni segala dosa-dosa kita.

Inilah menurut saya yang di wariskan dan diajarkan Sunan Bonang kepada kita tentang batu petilasan beliau yang berada di Bonang Lasem. Joyojuwoto

6 komentar:

  1. Lasem itu daerah mana ya Pak?

    BalasHapus
  2. wah terimakasih sharingnya, aku belum pernah ke sana shg tulisan ini bisa menamabah wawasan tentang sunan Bonang

    BalasHapus
  3. melihat foto yang ditangga itu, kok kesannya tangganya puaanjang dan tanpa ujung ya *salahfokus :D

    BalasHapus
  4. Mbak Diah Siregar, hehe...tipuan kamera

    BalasHapus
  5. Pak Tira, terima kasih kunjungannya :) monggo kalau ke Lasem mampir

    BalasHapus