Rabu, 18 November 2015

Mencintai Tuhan Sepenuh Cinta

Mencintai Tuhan Sepenuh Cinta

Gambar : samanan01.wordpress.com
Sobat dumay di manapun kalian berada, pernah kan kalian menikmati malam dengan sebungkus kacang goreng di musim penghujan, atau saat-saat menikmati secangkir kopi ataupun teh hangat di saat rintik-rintik hujan mulai turun. Seger dan nikmat. Rasa-rasanya pengin nambah terus dan nggak mau berhenti kan makannya. Pengin terus mencecap dan menikmati aroma kopi dan teh yang semerbak harumnya. Atau mungkin jika kalian penikmat kretek, wah jangan tanya hidup terasa menjadi milik kita sendiri, hidup hanya selebar daun tembakau, hidup seperti sepanjang sembilan senti.

Tak perlu berfikir apapun tentang masa depan, karena memang hidup ya saat ini, kemarin adalah masa silam dan esok pun masih misteri yang sedikitpun kita tidak mengetahuinya. Jadi hidup ya ini apa adanya dan kita nikmati seindah mungkin. Mensyukuri nikmat Tuhan dan segala karunia-Nya yang tak terbatas.

Tuhan Maha Kasih dan Sayang kepada hamba-Nya, mana mau Tuhan melihat hamba-hamba-Nya menderita dan sengsara. Tuhan yang Maha Cinta tak mau melihat kita galau, susah, gelisah. Tuhan selalu hadir bersama hamba-Nya. Coba perhatikan betapa mesranya Tuhan menghibur kita “’alaa bidzikrillahi tathma’innul qulub” bukankah dengan mengingat Tuhan hati kita menjadi tenang. Tuhan juga tidak mau hambanya kekurangan, Tuhan telah siapkan alam semesta beserta segala isinya guna memenuhi kebutuhan manusia. Alam ini tidak akan habis guna memenuhi kebutuhan seluruh makhluk-Nya, namun tentu bukan keinginan nafsunya yang tiada habisnya.

Nikmat Tuhan mana lagi yang akan kita dustakan ? Air, udara, tanah, api, gunung-gunung, hutan, laut, udara semua untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tak ada alasan kita tidak mencintai-Nya, karena cinta Tuhan Maha tak terbatas, cinta Tuhan di atas segala teori cinta.

Ketika Tuhan memerintahkan kita untuk Shalat, zakat, puasa, haji, bersedekah tidak lain karena itu kebutuhan kita untuk menjumpai-Nya. Bukan karena surga, bukan karena bidadari, bukan karena kenikmatan-kenikmatan dan kelezatan yang berbau duniawi. Ketika kita shalat sebenarnya kita sedang bermi’raj di sidratul muntaha menemui-Nya dalam cinta. Nabi bersabda “Mi’rojul Mu’min As Shalaatu” Mi’rojnya seorang mukmin adalah ketika ia menjalankan shalat. Jadi ketika kita shalat jangan main-main dengan shalat kita. Jangan seperti anak kecil yang diiming-imingi mainan lalu mau shalat. Shalatlah karena cinta, shalatlah karena bermuwajah dengan-Nya.

Begitu juga ketika kita menjalankan ibadah-ibadah lainnya seperti puasa, zakat, haji dan lain sebaginya, niatnya harus Lillahi Ta’ala, niatnya harus tulus bukan itung-itungan dengan Tuhan.

Era sekarang ini lagi marak-maraknya perdagangan dengan Tuhan. Mau sedekah agar mendapat balasan berlimpah, mau membantu jika dapat pujian dan penghormatan. Memang benar Tuhan pasti membalas kebaikan dan sedekah kita dengan berlipat-lipat jumlahnya, tapi mbok yo jangan begitu toh caranya. Adab dan solah bawanya perlu dijaga biar tidak norak.

 Jika kita mau menyadarinya sebenarnya yang butuh sedekah itu bukan orang miskin, tapi justru kitalah yang butuh mereka. Jadi sama-sama butuhnya. Jangan merasa sok telah membantu mereka, justru dengan adanya mereka kita dibantu. Karena pada hakekatnya ,enolong orang miskin dan orang-orang yang sedang kesusahan sebenarnya adalah jalan dimana kita bisa bertemu “Tuhan”

Mencintai Tuhan sangatlah intim dan pribadi, kita tidak boleh mencampuri rasa itu dengan keinginan-keinginan dan hastar duniawi lainnya. Cukup cinta Tuhan tanpa menyertakan yang lainnya. Cukup Tuhan saja yang tahu. Wa kafaa billahi sahiidan. Dan Tuhan pun sebenarnya telah menempatkan diri yang bisa dijangkau untuk dicintai. Ana Aqrabu min hablil warid, Saya lebih dekat dengan urat nadi seorang hamba. Tuhan berbisik saya selalu menyertai hamba-Ku, tidak pernah sejengkal pun Aku meninggalkannya.

Walau Tuhan Maha Ahad, Maha Tunggal, Maha perkasa dengan segala eksistensinya namun ingatlah selalu Tuhan juga Maha Wakhid. Yang Manunggal, Yang menyatu berintegrasi  dengan Hamba-Nya. Yang merendahkan diri-Nya, mendekat ke hamba-Nya..nyawiji... Begitu kata Cak Nun kepada Rendra, hingga akhirnya Rendra terguguk menangis dan berkata “Tuhan Aku mencintai-Mu”.
Oleh karena itu mari belajar mencintai Tuhan dengan sepenuh cinta, agar kita tak lagi berjarak dengan-Nya. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar