Minggu, 01 November 2015

Cangkru'an dan Bedah Buku "Arus Balik"

www.4bangilan.blogspot.com - Pemuda Bangilan selangkah lebih maju dan tambah keren begitu yang tergambar dalam pikiranku. Sesuatu yang sangat luar biasa, di sebuah desa semi kota muncul satu gagasan yang sangat inspiratif "Cangkru'an dan Bedah Buku". Saya yakin bahkan haqqul yaqin (pakai Q) ini adalah satu terobosan yang melampaui zamannya, khususnya di Bangilan tentunya. 

Walau kemarin saya berhalangan hadir, namun saya merasakan ranah kebahagiaan dengan adanya kegiatan yang digagas oleh teman-teman mahasiswa yang terhimpun dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Bangilan (FKMB). Ada semacam kerinduan yang menghentak ketika buku "Arus Balik" karya Pramoedya Ananta Toer dibedah. 

Saya teringat sosok pemuda dalam novel semi historis itu, Wiranggaleng pemuda dari pedalaman Awis Krambil. Pemuda yang punya keinginan sangat sederhana menikahi gadis pujaannya Idayu, hidup di desa dengan mengolah ladang dan sawah. Hidup bahagia jauh dari hura-hura dunia. Namun sayang akhirnya keduanya terjebak dalam arus politik Kadipaten Tuban setelah ia memenangkan kejuaraan gulat.

Walau hanya seorang pemuda kampung, namun Wiranggaleng bukanlah pemuda yang kampungan. Kecerdasan dan pengetahuannya tentang politik dan pemerintahan pun lumayan, di kampung ia selalu mengikuti khutbah-khutbah yang disampaikan oleh Rama Cluring, seorang pawicara yang pernah merasakan kejayaan Majapahit. Hingga Galeng diangkat sebagai asisten Syahbandar Tuban kala itu Sayyid Habibullah Al Musawwa. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Galeng, ia berusaha mewujudkan apa yang dikhutbahkan oleh gurunya, yaitu mengembalikan kejayaan Nusantara sebagaimana era kebesaran Majapahit. 

Haru biru dan romantika  dalam novel ini kadang membuat kita gregetan, sikap kemunafikan, pengkhianatan, persekongkolan mewarnai dunia perpolitikan. Kekuasan selalu meminta tumbal, dan  korban tentu orang-orang yang lemah. Namun itulah  dinamika sebuah kehidupan. Dan tentu yang pasti disetiap perubahan, tokoh pemuda selalu tampil memimpin dan menjadi bagian dari proses perubahan itu sendiri. Pemuda adalah agent of change sebuah peradapan, ingat apa yang disampaikan oleh Bung Karno "Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan aku goncangkan dunia". Pemuda harus mampu menjadi tumpuan harapan dan soko guru bagi peradapan dunia.

Dari sini saya ingin menegaskan kepada seluruh pemuda Indonesia untuk memantapkan keyakinannya bahwa dunia pasti berubah, dan arus pasti berbalik,  arus kekalahan pada saatnya akan berganti menjadi arus kemenangan dan kita harus mempersiapkan itu semua. Sebagaimana yang dilakukan oleh Wiragaleng, jika kita tidak mampu memberikan segala-galanya buat peradapan ini, setidaknya kita telah ikut memberikan secauk pasir kebaikan buat negeri kita tercinta ini. Semoga. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar