Jumat, 16 Oktober 2015

Syi'ir Tanpo Waton, dan Tradisi Keilmuan Sang Imam

Pic : http://biografiulamahabaib.blogspot.co.id/
Syi'ir Tanpo Waton sangat populer dan masyhur di kalangan umat Islam khususnya kaum Nahdliyin, begitu populernya hingga syi'iran ini diputar di masjid-masjid dan mushola menunggu shalat jamaah lima waktu didirikan. 

Tidak hanya populer karena langgam dan cengkoknya yang memang lembut dan enak didengar di telinga, namun syi'ir yang banyak disebut-sebut sebagai  syi'ir Gus Dur ini pun banyak dikutip dan dijadikan dalil. Khususnya pada bait "Akeh kang apal Qur'an Haditse... seneng ngafirke marang liyane, Kafire dewe ra digatekke... yen iseh kotor ati lan akale"

Sebenarnya tidak masalah bagi saya mengambil syi'ir atau apapun namanya sebagai dalil atau bahkan sebagai dalih sekalipun asalkan memenuhi kaidah ilmiah dan memiliki sumber yang jelas. Mungkin saya menulis ini sudah kadaluwarsa karena syi'ir ini sudah ada dan populer sekitar tiga atau empat tahun yang lalu. Namun maksud saya menulis  tentang Syiir Tanpo Waton karena sampai sekarang masih saya jumpai orang-orang yang mengatakan bahwa syiir ini adalah ciptaan Gus Dur. Padahal diberbagai sumber telah disebutkan dengan meyakinkan dengan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun bahwa pencipta tembang syiir Tanpo Waton adalah KH. Muhammad Nizam atau akrab disebut Gus Nizam, pengasuh Pondok Pesantren Ahlus Shofa wal-Wafa Simoketawang, Wonoayu Sidoarjo.

Walau telah ada klarifikasi dan sumber yang jelas mengenai pencipta syiir ini, namun sayangnya banyak kalangan yang masih saja menyebut bahwa Gus Dur lah penciptanya. Gus Nizam sendiri memang tidak mempermasalahkan jika syiir ini dianggap sebagai syiir Gus Dur, namun hal ini tentu tidak mengubah status pencipta dari syiiran ini. 

Sikap ikhtiyat (kehati-hatian) dalam mengutip suatu dalil tentu sangat penting sekali, apalagi dalil itu  berkaitan dan dipakai untuk masalah-masalah keagamaan, yang mana al-Qur'an dan Haditslah yang memiliki hak otoratif untuk dijadikan sebagai dalil, yang kemudian nanti diikuti oleh ijma', qiyas, dan lain sebaginya, tentu hal ini perlu mendapat perhatian serius dari kalangan umat Islam. Jika menyebutkan sumber dalil yang jelas saja kita masih saja salah dan sembrono, kemudian di mana letak kehati-hatian itu. Dan Syiir Tanpo Waton jelas ditulis oleh Gus Nizam, maka seyogyanya kita menghormati beliau dengan cara menyebutnya dan menuliskannya bahwa itu memang karya beliau.

Mari mengambil teladan dari para generasi salaf zaman dahulu yang bersungguh-sungguh dalam mencari sumber ilmu. Imam Bukhori harus menempuh perjalanan berkilo-kilo meter untuk memastikan kebenaran sebuah hadits yang beliau dengar. Saat itu belum ada kendaraan seperti sekarang, komunikasi juga masih manual belum ada HP, internet, dan segala produk kecanggihan peradapan yang memudahkan seseorang mencari sebuah kebenaran. Namun dengan sabar sang Imam berjalan berhari-hari guna mencari kebenaran dari hadits yang di dengarnya. Padahal itu baru salah satu syarat dari syarat-syarat derajad sebuah hadits. belum syarat-syarat lain yang harus dipenuhi bahkan untuk orang yang meriwayatkan hadits itu sendiri, semisal  dobit, siqqoh, dan wara.

Begitulah contoh dan keteladanan dari Ulama zaman dahulu yang perlu untuk kita teladani tentunya, sehingga kita tidak sekedar asal ngomong lebih-lebih itu yang berkenaan dengan suatu keilmuan yang tidak kita fahami. Mari terus belajar dan selalu menunjukkan sikap tawadhu' karena kita bukanlah apa-apa, mari mendekat pada Kyai, dan terus mengaji, dan mengkaji. Joyojuwoto


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar