Sabtu, 24 Oktober 2015

Sugondo Djojopuspito Ketua Konggres Pemuda dari Tuban

Sugondo Djojopuspito Ketua Konggres Pemuda dari Tuban
Sebuah Renungan di Hari Sumpah Pemuda


Sebagai warga masyarakat Tuban kita layak bangga, ternyata momentum peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah pergerakan bangsa Indonesia, yang terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928 dan sekarang yang kita kenal  sebagai Hari Sumpah Pemuda ternyata tidak terlepas dari peran seorang pemuda dari Tuban. Sugondo Djojopuspito yang menjadi ketua dari konggres itu terlahir di Bumi Ranggalawe pada tanggal 22 Februari 1905.

Sugondo Djojopuspito terpilih sebagai ketua konggres karena beliau berasal dari organisasi PPI (Persatuan Pemuda Indonesia) sebuah organisasi yang dianggap independen dan tidak kesukuan. Padahal Mohammad Yaminlah yang saat itu menjadi kandidat ketua. Karena Mohammad Yamin berasal dari Jong Sumatra (Kesukuan), maka atas persetujuan dari Muhammad Hatta dan Bung Karno terpilihlah Sugondo Djojopuspito.

Konggres pemuda ini memiliki makna yang besar bagi tumbuh kembangnya kesadaran persatuan dan kesatuan bangsa. Bagaimana tidak, organisasi-organisasi pemuda dari berbagai pulau di Nusantara seperti Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, dan organisasi-organisasi pemuda lainnya sama berkumpul di Batavia untuk menyatakan trilogi sumpah pemuda yang meliputi : Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia.

Peran Pemuda sebagai elemen perubahan bangsa (agent Of Change) memang sangatlah vital, karena pemuda adalah penerus perjuangan bangsa. Sesungguhnya terletak ditangan pemuda urusan bangsa ini, dan pada jejak langkah pemuda pula hidup dan matinya bangsa. Jika pemuda kita lemah, maka bangsa ini juga akan lemah. Jika pemuda kita mlempem maka bangsa ini juga akan mlempem. Oleh karena itu kita sebagai warga Tuban harus mewarisi semangat persatuan dan kesatuan yang telah dicontohkan oleh Sugondo Djojopuspito, jangan sampai kita mau dipecah-pecah hingga tak tersisa sedikitpun dari kekuatan kita. Ingatlah bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Semangat sumpah pemuda ini harus kita rawat dengan sikap saling toleransi, harus kita sirami dengan semangat kegotong-royongan, harus kita pupuk dengan jiwa empati, walau kita berbeda-beda pada dasarnya kita berasal dari satu rumpun yang sama dari satu sumber yang sama. Semangat kebhinekaan harus kita tumbuhkan di tengah carut-marutnya kondisi bangsa ini. Kita jangan sampai berputus asa dan membiarkan benih-benih keretakan semakin melebar, jangan sampai ikatan persatuan kita putus karena hal-hal yang sepele. Karena beda club sepak bola, karena pilkada, pilgub, pemilihan kepala desa, pemilihan RT/RW dan lain sebagainya. Ingatlah harapan itu masih ada.

Mari kita meneladani peristiwa sejarah, meneladani para pahlawan-pahlawan kita. Mereka tidak mengharapkan apapun dari usahanya kecuali perjuangan semata. Mereka tidak mengharap kita menabur bunga di atas pusara, mereka tidak mengharapkan poto-poto mereka dipajang sebagai pahlawan-pahlawan bangsa, mereka hanya berharap kebesaran bangsa ini, mengharapkan kedaulatan negeri ini, mengharapkan rakyat makmur, hidup damai dalam naungan Negara kesatuan Republik Indonesia.

Sugondo Djojopuspito Sang Ketua Konggres Pemuda II sampai saat ini pun tak berharap apapun, karena beliau telah tenang dalam pelukan Tuhan. Walau pemerintah belum menganugerahi gelar Pahlawan Nasional. Tahun 1978 beliau wafat dan dimakamkan di Pemakaman Keluarga Besar Taman Siswa Taman Wijayabrata, Celeban, Umbulharjo Jogjakarta. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar