Kamis, 22 Oktober 2015

Dialektika Korupsi dan Masa Depan Peradapan Indonesia

Dialektika Korupsi dan Masa Depan Peradapan Indonesia

          
Pic : ikankoi.wordpress.com
  Korupsi menjadi kata yang paling banyak disebut dalam ranah hukum di negeri ini. Disetiap lini kehidupan anak bangsa korupsi menjadi hal yang lumrah dan jamak dilakukan, sehingga seakan-akan korupsi menjadi bagian dari peradapan dan budaya bangsa kita. Korupsi tidak hanya menjangkiti orang-orang yang awam akan konstitusi, justru korupsi itu menggurita di lembaga yang memakai simbol cakra milik Kresna yang dipakai untuk memberantas ketidak adilan. Korupsi tidak hanya menimpa orang-orang bodoh, justru korupsi banyak dilakukan oleh kaum cerdik cendikiawan. Masih lekat dalam ingatan kita tokoh-tokoh yang menggembar-gemborkan dan mengkampanyaken anti korupsi pun ternyata sebagian besar dari mereka justru ditangkap aparat hukum dan diprodeokan karena kasus korupsi juga. Apakah memang benar korupsi  telah menjadi bagian dari peradapan dan budaya asli bangsa ini ?

            Jikalau pun benar korupsi menjadi bagian dari kearifan lokal bangsa tentu kita sepakat bahwa hal itu tidak boleh kita wariskan kepada generasi-generasi setelah kita. Nilai-nilai yang baik wajib kita jaga dan kita wariskan sedang nilai-nilai yang merusak harus kita enyahkan. Harus ada gerakan radikal untuk menjadikan korupsi sebagai musuh bersama agar kita bisa membangun peradapan baru yang penuh integritas.

            Tradisi korupsi yang telah mengakar dan menjalari nadi-nadi kehidupan bangsa sejatinya bisa kita cegah sejak dini dengan memberikan pendidikan karakter yang kuat kepada anak bangsa, seperti pendidikan di sekolah seharusnya tidak hanya mengajarkan pengetahuan secara teoritis saja namun perlu ada format yang jelas dan terukur untuk membangun jiwa dan karakter anak didik. Kita patut bersyukur dan  bahagia akhir-akhir ini pemerintah telah menggembar-gemborkan struktur kurikulum 2013 yang mana dalam proses pembelajarannya wajib menggunakan pendekatan saintifik. Yaitu sebuah pendekatan yang diyakini menjadi titian emas bagi perkembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik.

Pemerintah sepertinya sangat mengharapkan keajaiban dari kurikulum ini, agar nantinya generasi emas Indonesia dua puluh atau tiga puluh tahun yang akan datang benar-benar muncul generasi yang benar-benar baru dan terlepas dari pengaruh rezim lama yang yang dianggap menjadi sumber  petaka negara. Tidak berlebihan memang harapan ini, karena mayoritas pejabat publik tersangkut dengan kasus endemik korupsi. Mulai dari kalangan pejabat, birokrat, penegak hukum, pengusaha saling main mata untuk menilap uang rakyat, untuk merampok kekayaan negara. Saling kerja sama dalam hal kemungkaran, seakan memang itu telah menjadi sebuah tradisi. Sungguh begitu ngerinya korupsi yang melanda negeriku tercinta ini.

Uswah yang baik dan keteladanan menjadi barang yang langka di era kini, kita seakan telah kehilangan bumi untuk berpijak. Kehilangan jati diri dan kemurnian identitas. Padahal dulu kita adalah bangsa yang besar. Lihatlah Mataram Kuno dengan Borobudurnya, lihatlah Sriwijaya yang menjadi pusat penyebaran agama budha se Asia Tenggara kala itu, dan lihatlah surya Majapahit yang cemerlang menerangi seantero nusantara. Abad itu adalah abad di mana di belahan dunia hanya ada dua kerajaan yang berjaya Majapahit dan kekaisaran Tiongkok.

Kita juga punya sejarah pemerintahan yang keagungannya seperti sebuah dongeng, sebuah kerajaaan yang dipimpin oleh Maharani, seorang Ratu namun keadilannya bagai malaikat yang menjelma di dunia. Kerajaan Kalingga yang dipimpin oleh Ratu Sima. Sang Ratu menerapkan undang-undang yang ketat kepada seluruh warga kerajaan, tidak terkecuali itu bangsawan istana, bahkan keluarganya sendiri. Hukum ditegakkan setegak-tegaknya, keadilan dijaga, hukum tidak pandang bulu, hukum menjadi panglima tertinggi bagi kehidupan masyarakat, makmur, aman, dan sejahteralah kerajaan Kalingga menurut catatan dari negeri Cina.

Mataram Kuno, Sriwijaya, Majapahit, Kalingga mungkin adalah sepenggal romantisme sejarah di negeri ini, namun kita perlu belajar dari kearifan sejarah itu, agar kacang tidak lupa pada kulitnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Bung Karno Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Itulah bangsa yang besar, bangsa yang menghargai jasa-jasa para leluhurnya.

Tugas kita sebagai warga negara sekarang adalah menyambungkan kembali benang sejarah masa silam yang terputus, mencari missing link dari kearifan lokal yang telah tertukar karena syahwat kekuasaan dan bujukan keduniawian. Agar masa depan bangsa ini kembali cemerlang dan sinarnya memberkati seantero bumi pertiwi. Agar bangsa ini kembali menjadi bangsa Garuda yang akan terbang ke segala penjuru cakrawala nusantara. Joyojuwoto.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar