Sabtu, 26 September 2015

Jawara-Jawara Lembah Khaibar

“Jawara-Jawara Lembah Khaibar”
Oleh : Joyojuwoto

Sorak-sorai pasukan umat Islam membahana memenuhi lembah Khaibar, perang berkobar antara pasukan umat Islam melawan kaum Yahudi. Khaibar memiliki benteng-benteng yang kuat dan pasukan yang banyak dan pertahanan yang berlapis-lapis. Selain itu mereka juga memiliki jawara-jawara pilih tanding yang siap mempertahankan tiap jengkal tanah Khaibar. Oleh karena itu orang-orang Yahudi merasa yakin bahwa pasukan umat Islam tidak akan mampu mengalahkan mereka.

Walau dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW namun pasukan umat Islam kesulitan untuk menembus setiap benteng di Khaibar. Jawara-jawara Yahudi dengan penuh semangat memobilisasi pasukannya untuk menghalau setiap serangan dari lawan. Sallam seorang pemuda Yahudi bersama prajurit-prajurit pilihan yang berada di front depan mati-matian mempertahankan kehormatan klan Yahudi. Tidak mau kalah dengan keberanian dan kepahlawanan pasukan Yahudi umat Islam dengan semangat jihad yang membara bagai air bah melibas pasukan Sallam, korban berjatuhan termasuk Sallam sang komandan yang gagah berani.

Dengan tewasnya Sallam ternyata pertahanan Yahudi tidak mengendor, umat Islam masih kesulitan untuk menaklukkan Khaibar yang dilindungi beteng-benteng yang kokoh. Dari balik benteng muncul kembali seorang jawara Yahudi yang mengobrak-abrik pasukan umat Islam. Marhab seorang jawara yang memiliki kekuatan setara dengan ribuan pasukan menantang jago-jago dari pasukan umat Islam. Ia berteriak-teriak dengan congkak dan menyombongkan diri :

Khaibar tahu adalah Marhab
Senjata ampuh pahlawan kawakan

Tidak mau pasukan Islam diremehkan oleh Marhab, Amir turun ke gelanggang menyambut tantangan Marhab :

Khaibar tahu adalah Amir
Senjata ampuh pahlawan di medan laga

Terjadi perang  tanding antara Amir dan Marhab, saling serang, saling menusuk, bergulung-gulung hingga debu-debu beterbangan memenuhi medan laga. Hingga akhirnya pedang Marhab menebas Amir, namun Amir berhasil menangkis dengan perisainya, Amis terdesak ia berusaha membalas serangan Marhab dengan membabatkan pedangnya ke arah kaki Marhab, namun sayang pedang Amir terlalu pendek, pedang itu tidak mengenai sasaran justru pedang itu mengenai urat nadi di lengannya, hingga akhirnya Amir gugur.

Marhab tak terkalahkan ia kembali menantang jago-jago dari umat Islam. Tampillah Mahmud saudara Muhammad bin Maslamah menyambut Marhab, namun lagi-lagi jago dari umat Islam terbunuh. Melihat saudaranya terbunuh Muhammad bin Maslamah keluar menantang Marhab. Terjadi perang yang dahsyat diantara keduanya hingga mereka keluar dari arena perang. Diantara pohon-pohon mereka saling serang, pada suatu kesempatan pedang Marhab menebas Muhammad, dengan sigap Muhammad berhasil menangkisnya dan dengan gerakan kilat Muhammad membalas serangan Marhab, ia membabatkan pedang ke arah kaki, naas bagi Marhab ia tidak sempat menghindar. Marhab sang jagoan Yahudi pun roboh bersimbah darah.

                Muhammad bin Maslamah membiarkan Marhab sekarat tak berdaya. Ia tidak membunuhnya walau Marhab telah meminta-minta untuk dibunuh karena ia tak sanggup menahan malu dan penderitaannya. Saat itu Ali bin Abi Thalib datang dan untuk mengakhiri derita Marhab, Ali pun membunuhnya.

Dengan terbunuhnya para Jawara Yahudi tidak serta merta benteng Khaibar dapat ditaklukkan. Rosulullah memerintahkan Abu Bakar dan Umar bin Khattab untuk memimpin pasukan menaklukkan benteng Khaibar, namun kekokohan benteng masih tak mampu ditembus oleh pasukan umat Islam. Kemudian Rosulullah mengatakan besok pasukan umat Islam akan dapat menaklukkan Khaibar, dan komandannya adalah lelaki yang mencintai Alllah dan Rosul-Nya, begitu juga Allah dan Rosul-Nya pun mencintainya.

Pada malam harinya para sahabat sama berfikir siapa kira-kira yang dimaksud oleh Rosulullah, masing-masing berharap merekalah yang akan diserahi bendera komando itu. Pada pagi harinya para sahabat sama berkumpul bersama Rosulullah menanti siapa kira-kira yang akan ditunjuk oleh beliau. Kemudian Rosulullah mencari Ali bin Abi Thalib yang saat itu sedang sakit mata. Setelah diobati oleh Nabi, sakitnya Ali sembuh seketika. Dan Ali ditunjuk oleh Rosulullah untuk memegang bendera itu.

Setelah bendera komanda ditangan Ali bin abi Thalib, pasukan umat Islam pun melanjutkan pertempuran untuk menaklukkan Khaibar. Pertempuran  kembali berkobar, disalah satu pintu benteng Ali bin Abi Thalib bertempur habis-habisan melawan pasukan Yahudi hingga salah satu prajurit Yahudi berhasil menebas Ali dan perisainya terlempar. Dalam kondisi yang terjepit Ali bin Abi Thalib dengan sigap dan penuh kejutan berhasil menjebol salah satu daun pintu benteng dan dijadikan sebagai perisai. Ali terus bertempur dengan gagah berani menerjang musuh dengan perisai daun pintu. Padahal dua puluh orang belum tentu kuat mengangkat daun pintu itu. Banyak pasukan Yahudi yang terbunuh. Dengan jebolnya pintu benteng akhirnya pasukan Yahudi dapat dikalahkan oleh umat Islam. Khaibar pun takluk di bawah panji-panji Islam. Sekian. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar