Minggu, 16 Agustus 2015

The Time, is Iman and Amal Saleh

The Time, is Iman and Amal Saleh

KH. Yunan Jauhar, S.Pd., M.pd.I


Lagu “Hymne Oh Pondokku” ditutup dengan kata “ibuku”. Pondok adalah ibu. Seorang ibu tidak akan melepaskan atau meninggalkan anaknya begitu saja tanpa dihiraukan atau diperhatikan lagi. Meskipun anaknya sudah menjadi seorang presiden, ibu akan tetap menasihati anaknya. Demikian pula sang anak juga akan selalu meminta nasihat ibunya. Sementara bapak adalah guru bagi putranya, wali kelas, pembimbing kegiatan atau organisasi di PP ASSALAM, dan lain sebagainya. Apa saja yang dikerjakan seorang bapak dan ibu putra putri panjenengan itu ada di pondok.
Panjenengan kula aturi rawuh dateng Pondok punika. ASSALAM bade ngaturi pirsa bilih ... dari kandungan yang sama itu akan lahir anak-anak yang berbeda. ASSALAM dituduh bukan  (aswaja) atau wahabi, dan lain-lain. Katakanlah, ASSALAM itu aswaja, aswaja yang cerdas!
Panjenengan di sini berkumpul, bertemu, bertatap muka, bersilaturahim. Dengan sering berkumpul, muncullah ide atau gagasan cemerlang. Di Jawa, ada istilah “cangkir” pada saat berkumpul. Panjenengan ngertos artosipun cangkir ? Cangkir itu sama dengan “nyencang pikir”. Jika kita sering bertemu, maka kita akan banyak me-nyencang pikir.
Ingatlah… ampun ngantos mudah-mudah merasa silau ! kranten Laisa kullu mā yalma‘u dzahaban. Belumlah tentu rumput tetangga itu lebih hijau daripada rumput kita. Pondok ini sudah mengajari putra putri panjenengan sedaya tentang hal itu. Maka, jangan pernah tertipu.
Panjenengan, kula, pengasuh Pondok lan para ustadz lan ustadzah datang ke pondok ini tidak hanya untuk men-charge atau memperbaharui semangat dan motivasi, tapi untuk membaca rapor masing-masing, tentang keikhlasan kita, kesederhanaan kita, dan lain-lain. Apakah kita yang ada di Pondok ini sudah menerapkan keikhlasan yang telah diajarkan ASSALAM dalam kehidupan nyata? Bagaimanakah kesederhanaan kita ? Bacalah! Demikian juga dengan rapor pondok. Adakah nilai-nilai ASSALAM yang berubah? In shaa Allah, ASSALAM akan tetap istiqamah dalam menjaga nilai-nilai gemblengan Abah Moehaimin Tamam.

Anak-anakku…! ASSALAM tidak pernah merasa takjub dengan berbagai profesi alumninya, tapi akan kagum dengan keistiqamahan mereka dalam menjalani profesi tersebut berdasarkan nilai-nilai yang telah diajarkan ASSALAM. ASSALAM akan takjub dengan komitmen mereka terhadap nilai-nilai pondok ini.
Resapilah Surat Ali Imran ayat 190–191:
إن فى خلق السماوات والأرض واختلاف الليل والنهار والنهار, لآيات لأول الألباب. الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون فى خلق السموات, ربنا ماخلقت هذا باطلا, سبحانك فقنا عذاب النار.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya… Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Resapilah maknanya agar anak-anakku bercermin dari berbagai arah. Bercerminlah dari berbagai sisi, bukan hanya dari depan sebab muka kita selalu kita poles. Lihat pulalah bagian belakang kita.
Anak-anakku… ASSALAM telah memberikan “kunci” kepada kalian. Memang, bahasa Arab kita kalah dari LIPIA, demikian pula bahasa Inggris kita kalah dari sekolah-sekolah umum. Tapi, anak-anak ASSALAM bisa menggunakan “kunci” tersebut dengan baik.
Dunia pergaulan semakin luas, sementara buminya yang kita diami ini tidak makin meluas. Jika kita tidak mengembangkan kunci-kunci tersebut, maka kita akan semakin tersingkir. Jangan sampai punya kunci tapi tidak dipakai.
Ingatlah, ASSALAM bukan lembaga pergerakan, tapi lembaga pendidikan. ASSALAM mendidik anak-anak yang akan mendidik presiden, menteri, jenderal, dan lain-lain. ASSALAM mendidik santri dengan cara mu‘amalah (bergaul dalam kehidupan sosial atau bermasyarakat), mu‘asyarah (pergaulan dalam keluarga), dan mukhalathah (berbaur dengan teman dan anak-anak didik atau guru).
ASSALAM ibarat menghadapi anak-anak yatim lebih dari 1500 orang karena mereka menjadi santri ditinggal orang tua pulang ke rumah. Maka, santri-santri di ASSALAM haruslah ditemani, diajari, dibimbing selama 24 jam.
Hingga saat ini, banyak yang ingin meniru ASSALAM, tapi yang dilihat hanya kulitnya saja, tidak mau melihat nilai-nilai dan jiwa yang ada di dalamnya. Orang-orang hanya ingin meniru bahasa Arab-nya atau bahasa Inggris-nya, atau pengelolaan asramanya.
Anak-anakku… jadilah kalian mundzirul qaum (pemberi peringatan atau pendakwah kebaikan) sesuai dengan profesinya masing-masing.
Anak-anakku…! Jika kita mengatakan saat ini belum waktunya menegakkan nilai-nilai Islam, kira-kira anak dan cucu kita nanti pasti akan mengatakan hal yang sama, yaitu belum waktunya. Karena itu, kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi.
Anak-anakku… belum tentu saat di pondok tidak menjadi ketua, setelah keluar dari pondok ia tidak akan menjadi ketua, karena kalian semua telah diberi kunci. Bahayanya, kalau kalian hanya punya kunci, tapi mengaku punya lemari.
Ketahuilah, nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan tawadlu pada zaman dahulu sangatlah tinggi. Namun, di zaman ini virus egoisme amat mendominasi.
Saat ini, unsur ibadah dalam kehidupan amat tipis. The time is money, prestise, dan lain sebagainya. Ini adalah sekularisme. Yang benar adalah the time is iman dan amal saleh.*

*Pidato Pemantapan Wali Santri KMI ASSALAM Bangilan TP. 2015/2016

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar