Sabtu, 15 Agustus 2015

Selembar Kain Pel

Selembar Kain Pel

Aku tidak pernah malu atau pun menyesal menjadi selembar kain pel. Walau dari satu pohon kapas yang sama belun tentu nasib kita sama.  Nasab boleh sama namun nasib siapa tahu. Inilah sebuah takdir katanya, teman saya yang satu pohon, bahkan satu tangkai yang sama ternyata nasib kami memang berbeda.  Bersyukurlah ia yang ketika diproses dari wujud sebuah kapas ternyata ia tergabung dengan kapas-kapas kualitas nomor satu. Saya tahu apa arti nomor satu, tentu nasibnya sangatlah mujur. Ia akan diproses menjadi  benang-benang halus, dan menjadi bahan pakain yang mahal tentunya. Oleh karena itu semua makhluk Tuhan tidak terkecuali saya yang hanya sebuah potongan dari kapas akan merasa beruntung jika mendapatkan predikat nomor satu. 

Nomor satu pada dasarnya adalah bagian dari dzat Tuhan itu sendiri.  Qul Huwa Allahu Ahad, Katakan Tuhan itu Satu. Ahad itu Tuhan Allah yang Tunggal eksistensinya. Di lain kalimat Tuhan juga disebut Wakhid yang berarti Allah yang manunggal, menyatu yang integral, nyawiji dan mendekat dalam jiwa hamba-Nya. Ana Aqrabu min hablil warid. “Saya (Tuhan) lebih dekat dari urat leher seorang hamba.”

Tentu kelanjutan dari eksistensi satu tadi saya bisa menebaknya, benang-benang yang telah menjadi kain-kain mahal itu akan diperlakukan sangat hati-hati untuk dijadikan pakaian yang mewah. Sebagai perwujudan dari nomor satu tadi pastinya pakaian itu berkualitas wah dan mendapat kehormatan di tempatkan di Mal-mal yang glamour, berhawa sejuk dan menentramkan. Dipamerkan dengan cara yang elegan dan dibandrol dengan harga yang fantastik tentunya.

Yang paling ku iri tentu yang melihat-lihat dan memegang kode nomor satu tadi bisa dipastikan gerombolan gadis-gadis cantik dan pria-pria tampan tentunya. Bertangan lembut, berparfum wangi, dan yang pasti berduit banyak. Saya sebenarnya heran memang ada hubungannya ya duit dan gadis cantik ataupun pria tampan. Atau jangan-jangan menjadi cantik ataupun tampan gara-gara duit tadi ya. Sedang saya dan beberapa teman yang tidak lolos operasi kapas kualitas number one harus puas tepatnya dipaksa puas menerima takdir untuk diolah menjadi benang-benang yang kasar, yang natinya out putnya juga tidak jauh dari kata kasar tadi.

Saya kalau boleh memilih sebenarnya lebih suka berhenti menjadi benang saja. Biar nanti dipakai bermain layang-layang oleh anak-anak kampung  yang ceria. Namun lagi-lagi saya tak memiliki kemampuan untuk memilih, mau tetap menjadi  benang, atau nanti dicipta mengikuti  kemauan manusia untuk menjadi lembar-lembar kain yang kasar juga tentunya.

Sebagai lembaran-lembaran kain yang kasar, saya harus terima dengan segala perlakuan manusia sesuai dengan kasta saya. Jika kesadaran akan perwujudan saya sedang baik, aku merasa bangga walau tugas saya tidak menjadi pakaian yang mewah, setidaknya saya bisa berfilosofi bahwa perwujudanku masihlah bermanfaat untuk mengabdi kepada makluk Tuhan lain yaitu manusia. Ya tugasku adalah membersihkan lantai, membersihkan mebelair, perabot dapur, dan menjadi kain pel yang hampir seluruh strata manusia membutuhkan keberadaan saya. Tidak peduli siapa dia, profesor, doktor, presiden, rakyat jelata yang memiliki rumah tentunya bisa dipastikan di situ kasta saya dibutuhkan. Di situlah kadang saya merasa mulia, menjadi bagian dari  sebuah proses kebersihan.

Walau kadang tidak dapat saya pungkiri ada rasa iri dan dengki, namun saya selalu bisa mencari dan mendapatkan alasan untuk selalu bersyukur dengan lakon yang sedang saya jalankan. Biarlah iri dan dengki suatu waktu menjadi sambal bagi lezatnya sebuah hidangan di meja makan, atau biarlah kadang iri dan dengki itu menjadi bara api yang menjadikan masakan menjadi matang. Karena memang kita kadang tak mampu mengendalikan perasaan itu. Tinggal cara mengelola dan menyalurkan energi dari perasaan itu yang perlu menjadi perhatian.  Bukankah sepercik api bisa bermanfaat dan juga bisa mendatangkan madharat ?.

Sebagai kain pel sudah pasti saya akan sangat akrab dengan kondisi dan keadaan yang setara dengan jalan dan kondisi saya sendiri. Tentu tiap hari saya akan dipegang oleh tangan-tangan kasar para pembantu rumah tangga, berpenampilan biasa tanpa make up ataupun parfum yang beraroma wangi. Kebahagiaan memang menjadi milik semua makluk Tuhan, tidak terkecuali saya selembar kain pel. Saya merasa bahagia berada dilingkungan dan menjadi bagian dari peran para pembantu rumah tangga. Karena pada dasarnya kebahagiaan tidak pernah mengenal waktu dan keadaan, ia bisa hinggap di manapun titah Tuhan. Kebahagiaan tidak selalu bersemanyam di gedung-gedung mewah dan istana megah, begitu juga sebaliknya kesengsaraan yang menjadi lawan dari kebahagiaan tidak selalu hinggap di gubuk-gubuk reot dan kasta-kasta rendahan. Semuanya bisa berbolak-balik mengikuti irama dan harmoni semesta.

Saya selembar kain  pel selalu percaya bahwa tidak semua yang bersinggungan dengan debu dan kotoran menjadi kotor. Justru ia ketika kain pel berada ditempat yang kotor bukan sebagai kotoran itu sendiri tetapi menjadi semacam katarsis bagi lingkungannya. Walau tidak bisa disejajarkan dengan keindahan bunga teratai, namun saya selembar kain pel merasa menjadi bagian dari peran bunga itu. Walau teratai hidup dikubangan lumpur yang hitam, tapi lihatlah siapa yang tidak tertarik  dengan pesona bunga teratai yang mekar indah menyedapkan pandangan mata bagi yang melihatnya.

Nilai-nilai filosofis bunga teratai itu selalu bisa mengobati kegundahan hati saya jika kadang saya merasa rendah diri, dan merasa tak berguna karena hanya selembar kain pel saja. Bukankah Tuhan tidak melihat dari bentuk fisik hamba-hamba-Nya di dunia ini, karena bagi Tuhan yang berarti adalah aksi  dan amalannya. Kita tidak harus menjadi nomer satu, namun seyogyanya bisa menyatu dengan Tuhan, “Manunggaling Kawula Gusti.” Jika kita selalu menyatu, integral, dan menyertakan Tuhan dalam setiap aktivitas dan amal kita, tentu akan sampai pada Ahsanu amalan, kebaikan dan kesholehan amal yang bermanfaat di dunia dan akhirat kelak.

Bukankah Tuhan tidak pernah menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan sia-sia belaka ? “Rabbana maa kholaqta haadza baathilaa...” “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia... jadi jangan sia-siakan peran yang telah diberikan Tuhan kepada kita, walau mungkin kita hanyalah selembar kain pel saja. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar