Selasa, 18 Agustus 2015

Dunia Pasar Malam

Foto : By Ashfin Van Ghofur (WA)
Setiap kali melihat pasarmalam, saya selalu terkenang buku Pram "Bukan PasarMalam" yang disalah satu lembaran halamannya ia menuliskan :

“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang… seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana….” ~ Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam.

Walau Pram mengatakan "Bukan Pasarmalam" namun di sini justru saya ingin memasarmalemkan dunia, hal ini didasari dari sudut pandang saya tentunya. Karena bagi saya pasarmalam ibarat diaroma dari sebuah dunia yang sesungguhnya. 

Pasarmalam adalah sebuah hiburan khas rakyat yang sangat humanis sekali. Di dalamnya berduyun-duyun berbagai kelompok masyarakat dari berbagai kalangan berkumpul di sebuah tanah lapang untuk melihat dan menikmati berbagai pertunjukan dan jajanan yang beraneka rupa. Gelak tawa, berbaur dengan berbagai dengung alat musik dan suara bising kendaraan-kendaraan seakan menjadi instrumental wajib dunia pasarmalam. Suguhan kompleksitas suasana dan nuansa yang penuh warna  seperti inilah yang menjadi sihir tersendiri bagi kemeriahan pasarmalam.

Orang-orang sama berbondong-bondong mencicipi keakraban rasa manusiawi yang menjadi sebuah komoditi langka di kehidupan yang serba menampilkan robotisme peradapan. Pasarmalam juga menyambungkan tali-tali sosial yang semakin kusut di tengah-tengah individualisme yang semakin menguat. 

Pasarmalam seperti sebuah dunia yang tergelar, Walau dalam keramaian dan kebersamaan namun sesungguhnya seseorang akan bertanggungjawab akan nasibnya sendiri-sendiri. "...manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang…Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi... hingga nanti akhirnya pasarmalam akan diam dan hanya menyisakan kesunyian.

Diam dan kesunyian inilah sebenarnya makna yang akan diperoleh dari sebuah pasarmalam yang sesungguhnya. Karena di dalam diam kita akan memperoleh kesunyian, dan di dalam kesunyian biasanya orang akan menemukan kesejatian diri.  Joyojuwoto. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar