Jumat, 19 Juni 2015

Ramadhan ya Ramadhan

Ramadhan ya Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang istimewa, bulan penuh keberkahan, bulan di mana relativitas waktu terjadi di salah satu malam pada malam-malam akhir di bulan ramadhan. Malam lailatul qodar, di mana amalan-amalan kebaikan pada malam itu nilainya lebih baik ketimbang malam 1000 bulan.
ليلة القدر خير من الف شهر
“Malam lailatul qodar lebih baik dari pada seribu bulan”

Ramadhan adalah Syahrul Qur’an, bulan Al Qur’an di mana bertadarus di bulan ramadhan kebaikannya akan dilipat gandakan menjadi 10 sampai 70 kebaikan, dan kelak di akhirat al Qur’an akan datang memberikan syafaat kepada para pembacanya. Karena itu di bulan ramadhan umat Islam sama berlomba-lomba untuk mengkhatamkan Al Qur’an, masjid-masjid, surau-surau dimakmurkan dengan tadarusan dan tradisi ini sudah ada sejak mengiringi peradapan masyarakat Islam sejak masa penyebarannya. Jadi sangat aneh ketika salah satu petinggi Negara merasa tertanggu dengan tradisi yang telah berurat di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita. Saya sendiri menikmati rasa, dan aroma ramadhan yang penuh berkah di kampungku. Habituasi ramadhan sangat terasa dan semoga ini memang bukan hanya sekedar asesoris semata.

Ramadhan adalah bulan di mana pintu-pintu neraka ditutup, sedang pintu surga dibuka, setan-setan dibelenggu agar orang-orang rajin menjalalankan amalan kebaikan di bulan ramadhan, sehingga ketika madrasah ramadhan selesai kita mendapatkan gelar orang yang bertaqwa, sebagaimana yang dimaksudkan dari tujuan puasa ramadhan itu sendiri. “La’allakum Tattaquun.” Semoga kalian menjadi orang yang bertaqwa.

Harapan kebaikan ukhrawi dan kegembiraan menyambut bulan ramadhan, atau orang Jawa bilang mapak ramelan, selalu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dalam adat masyarakat Jawa sebelum datangnya bulan ramadhan ada istilah megengan, yaitu sebuah tradisi kenduri untuk menyambut datangnya bulan suci. Megengan sendiri sejatinya dari kata megeng, yaitu menahan diri, jadi sebelum ramadhan tiba orang-orang telah mengawalinya dengan menahan diri dari nafsu-nafsu yang tercela, merelakan harta dan benda yang disimbolkan berkat megengan untuk kita bagikan kepada sanak keluarga dan tetangga-tetangga kita. Sejatinya orang-orang dahulu mengajarkan kita untuk berbagi dan bershodaqoh kepada sesama dengan cara yang sangat halus, agar pada saat ramadhan nanti kita juga tidak eman untuk bershodaqoh kepada orang yang membutuhkan. Dan sebaik-baik shodaqoh adalah yang dilakukan pada saat bulaan ramadhan, Rosulullah SAW bersabda :
افضل الصدقة في يوم رمضان
“Shodaqoh yang paling utama adalah di bulan ramadhan”

Dalam al-Qur’an dijelaskan, orang yang bershodaqoh dengan ikhlas diumpamakan orang yang menanam sebuah biji, sebuah biji itu akan menjadi 7 tangkai dan setiap tangkainya akan berbuah 100 biji. Sehingga kebaikan shodaqoh yang dilakukan dengan ikhlas akan menumbuhkan 700 kebaikan bagi pelakunya, sungguh luar biasa.

Pada siang hari di bulan ramdhan kita harus berlapar-lapar, pada malam harinya kita menghidupkan malam ramadhan dengan shalat tarawih, berdzikir, tadarus Al Qur’an dan amalan-amalan sunnah lainnya. Hal ini dimaksudkan bulan ramadhan menjadi semacam kawah candradimuka, tempat pendadaran, dan sebagai sarana untuk menggembleng fisik dan jiwa kita. Sebagaimana logam akan terpisah dengan debu-debu dan tanah ketika telah melewati proses pembakaran. Begitu juga dengan ramadhan, sebagaimana makna asli dari ramadhan adalah “membakar”, membakar segala sifat ego dan hawa nafsu yang membelenggu kemurnian kita sebagai hamba. Kemurnian dan keikhlasan dalam menjalani bulan ramadhan akan menjadi bukti tingkat penghambaan kita kepada Sang Rabbul Izzati.
Tiada kegembiraan bagi umat Nabi Muhammad kecuali pada bulan ini, bulan ramadhan, bulan Al Qur’an, bulan penuh kebaikan dan keberkahan. Kegembiraan akan datangnya ramadhan akan bermuara juga pada kegembiraan kita di dunia maupun kelak ketika kita bertemu dengan  Tuhan kita. Farhatun ‘inda liqoo’i Rabbih. Sekian. Joyojuwoto. Bangilan, 1 Ramadhan 1436 H

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar